SDGs #4 Pendidikan

Pengembangan Karier dan Penghargaan Pegawai sebagai Implementasi SDGs 8 melalui Pembelajaran Kontekstual

Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) dari Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran melaksanakan kegiatan pembelajaran mengenai “Pengembangan Karier dan Penghargaan Pegawai”  bagi peserta didik kelas XII Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB) di SMK Negeri 1 Klaten. Kegiatan ini dilaksanakan pada mata pelajaran Pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan mengaitkan materi pengembangan karier dan penghargaan pegawai terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-8, yaitu Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Melalui pembelajaran ini, peserta didik tidak hanya memahami konsep pengembangan karier dan penghargaan pegawai, tetapi juga diajak memahami pentingnya peningkatan kompetensi, produktivitas, motivasi, dan kesempatan berkembang dalam dunia kerja. Materi pembelajaran mencakup tahapan dan metode pengembangan karier serta jenis penghargaan finansial dan non-finansial.

Kegiatan pembelajaran diawali dengan pertanyaan pemantik mengenai alasan seorang pegawai dapat bertahan dalam suatu perusahaan meskipun memperoleh gaji yang biasa saja, sementara pegawai lain memilih mengundurkan diri meskipun memperoleh gaji yang tinggi. Pertanyaan tersebut digunakan untuk menggali pemahaman awal peserta didik mengenai pentingnya pengembangan karier dan penghargaan dalam dunia kerja. Selanjutnya, mahasiswa menyampaikan materi mengenai pengertian, tujuan, manfaat, serta tahapan pengembangan karier. Peserta didik juga mempelajari berbagai metode pengembangan karier, seperti jalur karier, mentoring, pelatihan, rotasi jabatan, promosi, dan perencanaan suksesi.

Setelah memahami materi, peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk menganalisis studi kasus mengenai permasalahan pengelolaan SDM pada sebuah perusahaan. Salah satu kasus yang dibahas adalah PT Karya Utama yang mengalami tingkat turnover pegawai cukup tinggi akibat tidak adanya kejelasan jenjang karier dan kurangnya penghargaan terhadap kinerja pegawai. Setiap kelompok kemudian mendiskusikan metode pengembangan karier yang dapat diterapkan, bentuk penghargaan finansial dan non-finansial yang sesuai, serta hubungan antara penilaian kinerja, pengembangan karier, dan penghargaan pegawai. Hasil diskusi selanjutnya dipresentasikan di depan kelas dan ditanggapi oleh kelompok lainnya.

Kegiatan pembelajaran ini memberikan dampak positif terhadap pemahaman peserta didik mengenai pentingnya pengelolaan sumber daya manusia yang mendukung perkembangan pegawai. Peserta didik memahami bahwa pengembangan karier dapat membantu meningkatkan kompetensi, keterampilan, motivasi, dan kepuasan kerja, sedangkan penghargaan pegawai menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap kontribusi dan kinerja pegawai. Penghargaan dapat diberikan dalam bentuk finansial, seperti gaji, bonus, insentif, dan tunjangan, maupun non-finansial, seperti pujian, sertifikat penghargaan, kesempatan pelatihan, dan promosi jabatan.

Melalui kegiatan Praktik Kependidikan ini, peserta didik diharapkan semakin memahami keterkaitan antara pembelajaran Pengelolaan SDM dengan isu pembangunan berkelanjutan, khususnya SDGs ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Pemahaman mengenai pengembangan kompetensi, kesempatan karier, penghargaan terhadap kinerja, serta produktivitas kerja dapat menjadi bekal bagi peserta didik dalam menghadapi dunia kerja. Kegiatan ini juga melatih kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas melalui kegiatan diskusi, analisis kasus, dan presentasi.

Dengan adanya pembelajaran yang mengintegrasikan materi Pengelolaan SDM dengan SDGs, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga diajak memahami pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang memberikan kesempatan bagi pegawai untuk berkembang dan memperoleh penghargaan atas kontribusinya. Kegiatan serupa dapat terus dikembangkan pada materi pembelajaran lainnya agar peserta didik semakin mampu menghubungkan kompetensi yang dipelajari di sekolah dengan kebutuhan dunia kerja dan tujuan pembangunan berkelanjutan.

Mahasiswa PK UNY Dukung Pendidikan Berkualitas melalui Kegiatan Administratif Perpustakaan di SMK Negeri 7 Yogyakarta

Yogyakarta — Zahrah Nida Syaakirah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), turut terlibat dalam kegiatan administratif perpustakaan selama pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK) di SMK Negeri 7 Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan nonmengajar mahasiswa PK yang dilaksanakan untuk membantu pengelolaan serta pelayanan perpustakaan sebagai salah satu fasilitas pendukung pembelajaran di sekolah.

Kegiatan administratif yang dilakukan meliputi penyampulan buku, pengurutan dan penataan koleksi buku, penyiapan kartu perpustakaan, serta membantu pelayanan perpustakaan kepada peserta didik. Penyampulan buku dilakukan untuk membantu menjaga kondisi koleksi agar tetap terawat dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama. Sementara itu, pengurutan dan penataan buku dilakukan agar koleksi tersusun secara lebih teratur sehingga memudahkan peserta didik dalam mencari dan memperoleh sumber belajar yang dibutuhkan.

Selain pengelolaan koleksi, kegiatan administratif juga mencakup penyiapan dan pembagian kartu perpustakaan kepada peserta didik. Kegiatan tersebut membantu mendukung ketertiban administrasi serta kelancaran pelayanan perpustakaan. Melalui pengelolaan administrasi yang tertata, perpustakaan diharapkan dapat memberikan pelayanan yang lebih efektif kepada peserta didik sebagai pengguna layanan.

Keterlibatan dalam kegiatan administratif perpustakaan juga memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk menerapkan keterampilan yang relevan dengan bidang Pendidikan Administrasi Perkantoran, khususnya dalam aspek administrasi, pengelolaan informasi, penataan dokumen, serta pelayanan. Pelaksanaan Praktik Kependidikan dengan demikian tidak hanya memberikan pengalaman melalui kegiatan pembelajaran di kelas, tetapi juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terlibat dalam berbagai kegiatan pendukung penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

Kegiatan administratif perpustakaan tersebut turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education). Perpustakaan memiliki peran sebagai salah satu sarana pendukung pendidikan yang menyediakan sumber belajar bagi peserta didik. Pengelolaan koleksi dan administrasi perpustakaan yang tertata dapat mendukung kemudahan akses terhadap sumber belajar sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang lebih teratur dan kondusif.

Selain SDG 4, kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals). Pelaksanaan Praktik Kependidikan merupakan bentuk kemitraan antara Universitas Negeri Yogyakarta dan SMK Negeri 7 Yogyakarta dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan. Melalui kerja sama tersebut, mahasiswa tidak hanya melaksanakan praktik pembelajaran, tetapi juga berpartisipasi dalam membantu kegiatan administratif dan pelayanan sekolah sesuai dengan kebutuhan yang ada.

Melalui keterlibatan dalam kegiatan administratif perpustakaan di SMK Negeri 7 Yogyakarta, mahasiswa PK UNY turut berkontribusi dalam mendukung keberlangsungan layanan pendidikan di sekolah. Kegiatan sederhana seperti merawat dan menata koleksi, menyiapkan administrasi perpustakaan, serta membantu pelayanan kepada peserta didik menjadi bagian dari upaya mendukung tersedianya fasilitas pendidikan yang dapat dimanfaatkan secara optimal dalam menunjang proses pembelajaran. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan pentingnya kemitraan antara perguruan tinggi dan sekolah dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan.

Memahami Kesenjangan Ekonomi melalui Literasi Data dan Perbandingan Ketimpangan Antarnegara di SMA Negeri 6 Yogyakarta

Mahasiswa Praktik Kependidikan melaksanakan kegiatan pemahaman terkait literasi data kesenjangan ekonomi melalui pembelajaran Ekonomi di SMA Negeri 6 Yogyakarta. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 11 September 2026 di lingkungan SMA Negeri 6 Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya dalam memberikan pemahaman dan keterampilan kepada murid untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan murid dalam menganalisis data ekonomi, khususnya terkait kesenjangan ekonomi dan ketimpangan ekonomi antarnegara. Melalui kegiatan ini, murid diajak untuk memahami kondisi ketimpangan ekonomi berdasarkan data serta membandingkan tingkat kesenjangan ekonomi Indonesia dengan negara lain. Pelaksanaan kegiatan berkaitan dengan Sustainable Development Goals ( SDGs) tujuan ke-10, yitu Berkurangnya Kesenjangan ( Reduced Inequalities), yang menekankan pentingnya mengurangi kesenjangan di dalam dan antarnegara serta meningkatkan pemahaman Masyarakat terhadap berbagai faktor yang mengurangi ketimpangan ekonomi.

Kegiatan bertujuan meningkatkan pemahaman dan kemampuan murid dalam memahami serta menganalisis kesenjangan ekonomi melalui literasi data dan perbandingan ketimpangan antarnegara. Proses pelaksanaan dilakukan melalui pembelajaran Ekonomi dengan penyampaian materi, penggunaan media pembelajaran, pemberian contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta penerapan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT). Dalam pelaksanaannya, murid dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mempelajari materi mengenai pengertian kesenjangan ekonomi, faktor-faktor penyebab kesenjangan, indikator pengukuran ketimpangan ekonomi, serta kondisi kesenjangan ekonomi di Indonesia dan negara lain. Setelah memahami materi, murid mengikuti kegiatan permainan dan turnamen akademik berupa soal-soal yang berkaitan dengan literasi data dan perbandingan tingkat ketimpangan antarnegara. Melalui kegiatan tersebut, murid dilatih untuk membaca, memahami, dan membandingkan data ekonomi serta bekerja sama dalam kelompok. Kegiatan melibatkan mahasiswa praktikan sebagai pelaksana pembelajaran, murid sebagai sasaran kegiatan, serta guru Ekonomi yang memberikan pendampingan selama proses pembelajaran.

Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap pengetahuan dan kemampuan murid dalam memahami kesenjangan ekonomi melalui pemanfaatan data. Murid memperoleh pemahaman mengenai faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesenjangan ekonomi, indikator yang digunakan untuk mengukur ketimpangan, serta cara membaca dan membandingkan data kondisi ekonomi Indonesia dengan negara lain. Selain memberikan manfaat secara langsung, kegiatan ini juga mendukung pembelajaran Ekonomi yang lebih kontekstual karena materi dihubungkan dengan kondisi dan permasalahan ekonomi yang terjadi dalam kehidupan nyata. Penerapan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) turut mendorong murid untuk aktif berdiskusi, bekerja sama, serta meningkatkan kemampuan dalam menganalisis informasi dan menyelesaikan permasalahan berbasis data. Dengan adanya penguatan literasi data mengenai kesenjangan ekonomi tersebut, kegiatan turut berkontribusi terhadap pencapaian SDG 10 melalui peningkatan pemahaman murid mengenai ketimpangan ekonomi di dalam maupun antarnegara.

Melalui kegiatan ini, diharapkan pemahaman mengenai kesenjangan ekonomi dan literasi data yang telah diperoleh murid dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari. Penguatan literasi data juga diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pembelajaran, tetapi dapat terus dikembangkan melalui pembelajaran Ekonomi dengan topik dan permasalahan yang relevan dengan kondisi sosial dan ekonomi di lingkungan sekitar. Dengan demikian, kegiatan ini dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan murid dalam memahami dan menganalisis permasalahan ketimpangan ekonomi, sekaligus menumbuhkan kesadaran terhadap pentingnya upaya mengurangi kesenjangan di dalam maupun antarnegara sebagai bentuk kontribusi terhadap pencapaian SDG 10.

Dari Biang Sabun Menjadi Produk Bernilai Ekonomi: Pengembangan Keterampilan Kewirausahaan Siswa Melalui Produksi dan Pemasaran Sabun Cuci Piring

Siswa kelas XII PM 2 SMK Abdi Negara Muntilan mengembangkan keterampilan kewirausahaan melalui praktik pembuatan sabun cuci piring dalam mata pelajaran Kreativitas, Inovasi, dan Kewirausahaan (KIK). Praktik tersebut memberikan pengalaman kepadda siswa untuk mengolah bahan dasar menjadi produk yang memiliki manfaat dan memiliki nilai jual.

Dalam prosesnya, siswa memanfaatkan biang sabun sebagai bahan dasar untuk menghasilkan sabun cuci piring. Keterlibatan secara langsung dalam prosses produksi memberikan pengalaman mengenai bagaimana suatu bahan dapat diolah menjadi produk yang siap digunakan. Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi siswa untuk menerapkan kreativitas dan keterampilan yang telah diperoleh dalam pembelajaran.

Setelah proes produksi selesai, siswa melanjutkan pengembangan produk dengan menentukan nama produk dan membuat logo. Pemeberian identitas tersebut dilakukan untuk memberikan ciri khas pada produk sekaligus memperkenalkannya kepada calon konsumen. Melalui tahap ini, siswa tidak hanya berfokus pada pembuatan barang, tetapi juga mulai memahami pentingnya identitas dan tampilan dalam pengembangan suatu produk.

Produk sabun cuci piring yang telah dibuat selanjutnya akan dipasarkan kepada guru dan karyawan SMK Abdi Negara Muntilan. Pemasaran dilakukan sebagai bentuk penerapan pembelajaran kewirausahaan secara langsung, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman dalam memperkenalkan produk, berkomunikasi dengan calon konsumen, dan melakukan transaksi sederhana.

Rangkaian kegiatan tersebut memberikan pengalaman kepada siswa mengenai tahap dasar dalam pengembangan usaha, mulai dari menghasilkan produk, membangun identitas, hingga memasarkannya. Selain keterampilan produksi, siswa turut mengembangkan kemampuan komunikasi, kerja sama, kreativitas, dan tanggung jawab dalam menjalankan proes tersebut.

Melalui praktik ini, pembelajaran KIK menjadi lebih konstektual karena siswa dapat melihat secara langsung proses mengubah ide dan keterampilan menjadi produk yang dapat digunakan serta memiliki potensi ekonomi. Pengalaman tersebut dapat menjadi bekal bagi siswa untuk mengenali peluang usaha dan mengembangkan keterampilan yang relevan dengan dunia kerja maupun kegiatan kewirausahaan di masa mendatang.

Penerapan Canva AI pada Pembelajaran Perpajakan Kelas XI AKL Fase F melalui Game “Tax Mystery Box”

Kulon Progo, 31 Agustus 2026 - Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran menjadi salah satu upaya untuk menciptakan proses pendidikan yang lebih interaktif dan inovatif. Hal tersebut diterapkan oleh Figo Dehasta Imtinan, mahasiswa semester 7 Program Studi Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dalam kegiatan Praktik Kependidikan (PK) di SMK Negeri 1 Kokap, Kulon Progo.

Dalam kegiatan pembelajaran mata pelajaran Perpajakan kelas XI Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL) Fase F, Figo menerapkan Canva AI sebagai salah satu teknologi yang digunakan untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis permainan. Media tersebut dikemas dalam sebuah permainan bernama “Tax Mystery Box” yang digunakan untuk mendukung pembelajaran pada materi Syarat dan Sistem Pemungutan Pajak.

Pengembangan media pembelajaran ini berangkat dari kebutuhan untuk menghadirkan pembelajaran perpajakan yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Materi perpajakan yang memiliki berbagai konsep dan istilah dikemas ke dalam bentuk permainan agar peserta didik dapat mempelajari materi melalui aktivitas yang lebih interaktif.

Melalui “Tax Mystery Box”, peserta didik diajak untuk menyelesaikan berbagai pertanyaan dan tantangan yang berkaitan dengan materi Syarat dan Sistem Pemungutan Pajak. Permainan dirancang dengan memanfaatkan elemen visual dan interaktif sehingga peserta didik dapat menguji pemahaman mereka terhadap materi yang telah dipelajari.

Penggunaan media berbasis permainan juga memberikan suasana pembelajaran yang berbeda dari pembelajaran yang hanya berpusat pada penjelasan materi. Peserta didik memiliki kesempatan untuk berpartisipasi, menjawab pertanyaan, serta mengingat kembali konsep-konsep perpajakan melalui tantangan yang terdapat dalam permainan.

Canva AI dimanfaatkan dalam proses pengembangan media sebagai teknologi pendukung untuk menghasilkan dan menyusun elemen visual pembelajaran. Pemanfaatan teknologi tersebut memungkinkan pengembangan media dilakukan secara lebih kreatif dan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran serta karakteristik peserta didik kelas XI AKL.

Penerapan Canva AI dalam pembelajaran juga menjadi salah satu bentuk pengenalan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan secara produktif di lingkungan pendidikan. Teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti peran pendidik, melainkan sebagai alat bantu untuk mengembangkan media yang dapat mendukung proses pembelajaran.

Kegiatan ini menjadi bagian dari pengalaman Figo Dehasta Imtinan dalam melaksanakan Praktik Kependidikan sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi. Melalui kegiatan tersebut, pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan diterapkan secara langsung dalam proses pembelajaran di sekolah, khususnya dalam merancang media pembelajaran yang memadukan materi akuntansi dan perpajakan dengan perkembangan teknologi digital.

Penerapan “Tax Mystery Box” turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Berkualitas. Pemanfaatan media pembelajaran interaktif memberikan alternatif dalam menciptakan pengalaman belajar yang lebih aktif dan menarik. Kegiatan ini mendukung upaya menghadirkan pembelajaran yang berkualitas dengan memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk membantu peserta didik memahami materi pembelajaran.

Selain SDG 4, kegiatan ini juga mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui penerapan inovasi teknologi dalam bidang pendidikan. Penggunaan Canva AI menunjukkan adanya pemanfaatan perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan untuk menghasilkan inovasi media pembelajaran. Penerapan teknologi tersebut menjadi contoh bahwa inovasi digital dapat dikembangkan tidak hanya dalam bidang industri, tetapi juga dalam proses pendidikan.

Keterkaitan antara SDG 4 dan SDG 9 terlihat melalui pengembangan media “Tax Mystery Box” yang menggabungkan tujuan pendidikan dengan pemanfaatan teknologi. Inovasi media pembelajaran berbasis Canva AI diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam menciptakan proses pembelajaran yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.

Melalui kegiatan Praktik Kependidikan di SMK Negeri 1 Kokap, pemanfaatan Canva AI dan “Tax Mystery Box” menjadi salah satu bentuk inovasi pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi dengan materi Perpajakan. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengalaman bagi mahasiswa calon pendidik untuk mengembangkan pembelajaran yang kreatif, interaktif, dan relevan dengan perkembangan teknologi, serta berkontribusi terhadap pencapaian SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.

Belajar Seru The Ledger Relay Hingga Motivasi Studi Lanjut, Mahasiswa PK UNY Wujudkan SDG 4 Dan SDG 10 di SMK N 1 Klaten



KLATEN – Praktik Kependidikan (PK) menjadi ruang bagi mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk berkontribusi langsung pada SDG 4: Pendidikan Berkualitas di SMK Negeri 1 Klaten. Kontribusi itu tidak berhenti pada praktik mengajar di kelas, tetapi berlanjut lewat kedekatan dengan siswa, tempat mereka merasa nyaman berbagi cerita, bertanya, dan menumbuhkan keberanian untuk berprestasi serta menatap pendidikan yang lebih tinggi.

Di kelas Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL), mahasiswa PK menghadirkan pembelajaran estafet buku besar bertajuk The Ledger Relay: Menumbuhkan Integritas dalam Setiap Angka. Siswa dibagi dalam kelompok, lalu setiap anggota bergantian memindahkan (memposting) transaksi dari jurnal ke akun buku besar yang tepat sebelum melanjutkan estafet ke rekan berikutnya. Kelompok yang menyelesaikan seluruh transaksi dengan cepat, teliti, dan saldo yang sesuai menjadi yang terbaik.

Nilai integritas menjadi inti kegiatan ini. Setiap angka yang dicatat harus jujur dan akurat, sebab satu kekeliruan akan memengaruhi seluruh kelompok. Siswa belajar bahwa ketelitian dan tanggung jawab atas bagian masing-masing adalah fondasi profesi akuntan.

Antusiasme siswa terlihat sejak permainan dimulai. Mereka merasa senang karena pembelajaran tidak terus-menerus berkutat pada siklus akuntansi yang monoton. "Seru tapi menegangkan," ungkap salah satu siswa kelas 12 AKL 1 mengenai pengalamannya. Ketegangan itu justru membuat siswa fokus, saling mengecek, dan bekerja sama. Pendekatan yang aktif, menyenangkan, dan bermakna ini sejalan dengan target SDG 4.

  

Suasana belajar yang cair itu ternyata tidak berhenti ketika bel pelajaran usai. Keakraban yang terbangun selama kegiatan membuat siswa lebih terbuka kepada mahasiswa PK. Di sela waktu istirahat maupun kegiatan sekolah, obrolan ringan sering bermula dari hal sederhana, mulai dari soal pelajaran, cerita pengalaman kuliah, hingga rencana setelah lulus.

Siswa merasa nyaman berbagi karena mahasiswa hadir sebagai teman berbincang yang tidak menggurui. Mereka bebas bertanya, termasuk tentang hal-hal yang selama ini terasa jauh dan sulit dibayangkan.

Dari obrolan-obrolan itulah semangat berlomba tumbuh. Mahasiswa PK memberikan motivasi agar siswa berani mencoba dan mengembangkan kompetensi lewat berbagai kompetisi. Semangat tersebut tampak pada tiga siswa AKL SMK N 1 Klaten, yaitu Muhammad Salahhudin Sidiq dan Aldi Permana dari kelas 12 AKL 1, serta Aldino Sukmo dari kelas 11 AKL 3. Ketiganya aktif mengikuti berbagai lomba, salah satunya Cerdas Cermat Akuntansi.

Bagi Sidiq, lomba adalah cara untuk menambah pengalaman sesuai karier yang ia cita-citakan. "Motivasi saya ingin terus tumbuh berkembang di bidang akuntansi dengan bertemu lawan yang levelnya di atas saya," tuturnya. Sertifikat lomba juga menjadi pemacu karena dapat memperkuat portofolionya. Sementara itu, Aldino mengaku ingin mencoba hal baru. Menurutnya, materi yang diajarkan selama pembelajaran membuat ia dan teman-temannya yakin untuk ikut serta dalam lomba.

Dalam pendampingannya, mahasiswa tidak hanya memberi semangat, tetapi juga membagikan contoh-contoh soal yang biasa digunakan dalam lomba dan membahasnya bersama. Latihan itu membantu siswa mengenali pola soal sekaligus melatih ketenangan saat menjawab. Bagi siswa, lomba bukan sekadar mengejar juara, melainkan wadah melatih penguasaan materi, kerja sama tim, dan kepercayaan diri. Keterlibatan siswa lintas kelas, dari kelas 11 hingga 12, juga menunjukkan bahwa semangat berprestasi tumbuh dan saling menular di lingkungan sekolah.

Pengalaman berlomba kemudian menjadi pintu masuk untuk membicarakan masa depan. Dalam obrolan santai, mahasiswa berbagi cerita tentang pilihan melanjutkan kuliah, jalur seleksi masuk perguruan tinggi, dan peluang beasiswa. Prestasi lomba dijelaskan sebagai modal berharga yang dapat memperkuat portofolio saat mendaftar studi lanjut maupun beasiswa.

Bagi Sidiq, pengalaman nyata yang dibagikan mahasiswa tentang jenjang pendidikan dan karier setelah SMK menjadi pegangan berharga. "Pengalaman mereka memberi saya petunjuk serta pandangan mengenai masa depan," ujarnya. Ia juga menilai mahasiswa PK berperan penting dalam memperdalam pemahaman siswa tentang akuntansi manufaktur dan akuntansi biaya, serta menyemangati mereka untuk berlomba.

Karena suasananya akrab, siswa tidak sungkan menanyakan hal-hal yang selama ini mereka ragukan. Bagi banyak siswa SMK, informasi ini penting agar kuliah dipandang sebagai pilihan yang terbuka bagi siapa saja, bukan hanya mereka yang mampu secara ekonomi. Dengan berbagi pengalaman dan informasi beasiswa, mahasiswa turut menjembatani kesenjangan akses informasi pendidikan, langkah kecil yang mendukung SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan.

Cita-cita dan prestasi tentu perlu ditopang karakter yang kuat. Karena itu, selama PK mahasiswa juga turut dalam pembiasaan harian di SMK N 1 Klaten, seperti literasi keagamaan, upacara bendera, dan budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun). Kebiasaan ini menumbuhkan ketenangan, kedisiplinan, dan hubungan yang hangat antara siswa, guru, dan mahasiswa. Semangat among, yakni menuntun, mendampingi, dan memberi teladan tanpa memaksa, menjadi landasannya.

Secara keseluruhan, kehadiran mahasiswa PK UNY di SMK N 1 Klaten mencerminkan upaya menghadirkan pendidikan berkualitas melalui pembelajaran inovatif seperti The Ledger Relay, pendampingan lomba yang membangun kepercayaan diri, serta pemerataan akses informasi studi lanjut dan beasiswa. Ketiganya berjalan beriringan, didukung kedekatan yang membuat siswa nyaman berkembang secara akademik, karakter, dan cita-cita. (jihan)

Kegiatan Keputrian SMA Negeri 1 Pleret, Tetap Belajar dan Mendekatkan Diri kepada Allah

Bantul, September 2026 — Pendidikan tidak hanya berfokus pada pemberian pengetahuan kepada murid, tetapi juga berperan dalam membentuk karakter melalui kebiasaan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Pembentukan karakter berkaitan dengan watak, moral, sikap, dan kebiasaan seseorang dalam berperilaku, termasuk dalam menjalankan nilai-nilai keagamaan. Karakter dapat dibentuk melalui pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus sehingga menjadi bagian dari perilaku murid. Salah satu bentuk pembiasaan tersebut diterapkan di SMA Negeri 1 Pleret melalui kegiatan keputrian bagi murid perempuan yang sedang mengalami menstruasi atau haid. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pembinaan agar murid tetap dapat mengikuti kegiatan keagamaan, menjaga keimanan, dan mendekatkan diri kepada Allah meskipun sedang tidak melaksanakan salat.

Kegiatan keputrian merupakan kegiatan yang sudah lama dilaksanakan di SMA Negeri 1 Pleret. Kegiatan ini dilaksanakan ketika murid lainnya melaksanakan salat Zuhur berjamaah, yaitu setiap hari kecuali hari Jumat karena pada hari tersebut murid pulang pukul 11.00. Murid perempuan yang sedang mengalami menstruasi atau haid diarahkan untuk berkumpul di perpustakaan sekolah dan mengikuti kegiatan dengan membaca Asmaul Husna bersama-sama. Dengan adanya kegiatan tersebut, murid tetap memiliki aktivitas yang positif selama tidak mengikuti salat Zuhur serta tetap mendapatkan pembinaan keagamaan di lingkungan sekolah.

Dalam pelaksanaannya, murid membaca Asmaul Husna bersama-sama dengan tertib di perpustakaan dan didampingi oleh guru atau pihak sekolah. Perpustakaan dipilih sebagai tempat kegiatan karena memiliki suasana yang tenang dan nyaman untuk membaca. Setelah kegiatan selesai, murid dapat kembali mengikuti kegiatan sekolah sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.

Pembacaan Asmaul Husna dilakukan sebagai salah satu cara agar murid tetap mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah. Melalui kegiatan ini, murid diharapkan tetap menjaga keimanan dan membiasakan diri melakukan kegiatan keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan tersebut juga memberikan pemahaman bahwa meskipun sedang menstruasi dan tidak melaksanakan salat, murid tetap dapat melakukan kegiatan positif untuk mengingat Allah.

Selain membaca Asmaul Husna, kegiatan keputrian juga menjadi ruang bagi murid untuk mendapatkan pembinaan mengenai keagamaan, kehidupan perempuan, dan pembentukan karakter. Murid dapat mengikuti kegiatan bersama teman-temannya sehingga tetap merasa terlibat dalam kegiatan sekolah. Pembiasaan yang dilakukan secara rutin diharapkan dapat membantu murid menerapkan nilai-nilai yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan keputrian di SMA Negeri 1 Pleret memiliki kaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas. SDGs ke-4 menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif dan berkualitas serta memberikan kesempatan belajar bagi semua. Melalui kegiatan ini, murid perempuan yang sedang menstruasi atau haid tetap memperoleh kesempatan untuk mengikuti kegiatan pembinaan dan belajar di lingkungan sekolah. Pembacaan Asmaul Husna tidak hanya menjadi kegiatan untuk mengisi waktu, tetapi juga menjadi bagian dari pembentukan karakter dan penguatan keimanan. Kegiatan keputrian menjadi salah satu upaya SMA Negeri 1 Pleret dalam mendukung pendidikan berkualitas melalui pembiasaan, pembentukan karakter, serta pemberian kesempatan kepada murid untuk tetap belajar dan berkembang sesuai dengan kondisinya.

Penulis: Puspita Tyas Shabrina_Program Studi Pendidikan Ekonomi_Fakultas Ekonomi dan Bisnis_Universitas Negeri Yogyakarta

Membangun Budaya Kebersihan Sekolah Berkelanjutan, Mahasiswa PK Wujudkan Lingkungan Belajar Sehat di SMA Negeri 7 Yogyakarta

YOGYAKARTA – Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) menyelenggarakan program kerja berbasis Sustainable Development Goals (SDGs) bertema “Keberlanjutan & Pembiasaan: Membangun Kebiasaan Menjaga Kebersihan Kelas secara Berkelanjutan” di SMA Negeri 7 Yogyakarta. Kegiatan yang dilaksanakan secara intensif dari bulan Agustus hingga September ini melibatkan seluruh peserta didik dari kelas X, XI, hingga XII. Program pembiasaan ini selaras dengan pencapaian SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), khususnya dalam mendukung peningkatan kualitas layanan dan pemberdayaan masyarakat sekolah melalui pembudayaan hidup bersih, rapi, serta tertib di lingkungan belajar.

Tujuan utama dari program ini adalah menanamkan kedisiplinan dan kesadaran lingkungan sebagai bagian dari budaya unggul sekolah secara berkelanjutan. Pemantauan dan pengecekan kebersihan kelas dilakukan secara rutin setiap pagi sebelum Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dimulai oleh penanggung jawab program kerja mahasiswa PK. Penilaian berfokus pada tiga aspek utama, yaitu kebersihan, kelengkapan, serta kerapihan atau keindahan kelas. Aspek kebersihan dinilai dari kebersihan lantai, papan tulis, meja dan kursi, pintu dan jendela, hingga teras kelas. Aspek kelengkapan mencakup ketersediaan atribut resmi negara seperti foto Presiden, foto Wakil Presiden, Lambang Garuda, jam dinding, alat kebersihan kelas, serta keberadaan mading kelas. Sementara itu, aspek kerapihan dan keindahan berfokus pada penataan meja guru, penataan meja dan kursi siswa, penataan peralatan kebersihan, serta kreativitas penataan papan pajangan kelas.

Melalui pemantauan berkala selama dua bulan, program ini berhasil memberikan perubahan signifikan terhadap kepedulian para siswa SMA Negeri 7 Yogyakarta dalam merawat ruang kelas mereka. Lingkungan kelas menjadi lebih bersih, tertata rapi, dan nyaman, sehingga secara langsung menciptakan suasana belajar yang kondusif serta mendukung kesehatan fisik peserta didik maupun seluruh warga sekolah. Pembiasaan rutin setiap pagi ini tidak hanya menjaga estetika lingkungan sekolah, tetapi juga berhasil memperkuat budaya gotong royong dan rasa kepemilikan bersama atas sarana publik di ruang lingkup pendidikan.

Melalui keberhasilan program ini, diharapkan pembiasaan dan semangat menjaga kebersihan kelas dapat terus dipertahankan secara mandiri oleh seluruh siswa, sehingga menjadi budaya berkelanjutan di SMA Negeri 7 Yogyakarta meskipun masa Praktik Kependidikan telah berakhir.

Implementasi Digital Learning Canva AI untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Mengenai Tantangan Akuntansi Masa Kini Lewat Metode Pembelajaran Numbered Head Together di SMKN 7 Yogyakarta

Yogyakarta — Pembelajaran akuntansi dasar di kelas X AK 1, SMK Negeri 7 Yogyakarta pada Selasa, 6 Agustus 2026 hadir dengan suasana berbeda. Bukan sekadar menyimak penjelasan guru, peserta didik diajak berdiskusi, berkompetisi, dan menguji pemahaman melalui kuis digital interaktif berbasis teknologi. Mahasiswa PK UNY Program Studi Pendidikan Akuntansi, Windha Fadilah memanfaatkan Canva AI dan model pembelajaran kooperatif Numbered Head Together (NHT) untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih aktif sekaligus memperkenalkan peserta didik pada pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran akuntansi. Melalui media kuis digital yang dirancang secara interaktif, pembelajaran materi “Tantangan Akuntansi Masa Kini” dikemas lebih kontekstual dengan perkembangan teknologi dan tuntutan kompetensi di era digital.

Secara teknis, sistem permainan disusun dengan membagi peserta didik ke dalam enam kelompok. Setiap anggota kelompok akan mengenakan ikat kepala bernomor satu sampai dengan enam sebagai identitas penomoran khas model NHT. Guru akan menampilkan kartu pertanyaan di dalam game kuis, dan setiap kelompok memperoleh kesempatan memilih kartu pertanyaan dengan salah satu dari dua tingkat kesulitan, yaitu level mudah (easy) dan level sulit (hard). Setelah kartu pertanyaan dipilih dan pertanyaan ditampilkan, sistem game akan memunculkan nama kelompok beserta nomor anggota secara acak, dan peserta didik dengan nomor yang tampil pada layar itulah yang bertugas menjawab pertanyaan mewakili kelompoknya. Mekanisme pengacakan nama kelompok dan nomor anggota ini bertujuan menjaga kesiapan seluruh anggota kelompok, sebab setiap peserta didik tidak dapat memprediksi kapan gilirannya dipanggil. Poin diberikan berdasarkan ketepatan jawaban dan tingkat kesulitan kartu yang dipilih, sehingga kartu level hard memberikan bobot poin yang lebih besar dibandingkan kartu level easy. Kelompok dengan perolehan poin terbanyak pada akhir sesi permainan ditetapkan sebagai pemenang. 

Pengembangan media pembelajaran digital ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk menghadirkan pembelajaran akuntansi yang lebih kontekstual dan relevan dengan perkembangan teknologi masa kini. Materi Tantangan Akuntansi Masa Kini dipilih karena berkaitan langsung dengan dinamika profesi akuntansi di era digital, termasuk isu otomatisasi, transformasi teknologi informasi, dan tuntutan kompetensi baru bagi calon lulusan sekolah menengah kejuruan. Mahasiswa PK menilai bahwa penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran perlu diperkenalkan sejak dini agar peserta didik terbiasa beradaptasi dengan perubahan zaman.

Proses pembuatan media pembelajaran ini dilakukan secara bertahap, dimulai dari penyusunan indikator pencapaian kompetensi, perumusan butir soal kuis, hingga desain visual menggunakan fitur kecerdasan buatan pada platform Canva. Setelah media selesai disusun, media tersebut diujicobakan langsung di dalam kelas dengan pendampingan guru pamong mata pelajaran Akuntansi Dasar. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan media kuis ini berlangsung di ruang kelas SMK Negeri 7 Yogyakarta dengan memanfaatkan perangkat proyektor dan jaringan internet sekolah.

Penerapan media kuis berbasis Canva AI dengan model NHT dinilai memberikan sejumlah manfaat bagi proses pembelajaran. Pertama, peserta didik menjadi lebih aktif berdiskusi karena setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab individu atas jawaban kelompok. Kedua, tampilan kuis yang interaktif membantu peserta didik memahami materi yang bersifat konseptual, seperti tantangan akuntansi di era digital, melalui pendekatan visual yang lebih mudah dipahami. Ketiga, penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran turut melatih literasi digital peserta didik, sejalan dengan kebutuhan kompetensi abad ke-21.

Inovasi pembelajaran ini memiliki keterkaitan yang cukup mendalam dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Keterkaitan paling utama terletak pada SDG ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, khususnya target 4.4 yang menekankan peningkatan jumlah generasi muda dan orang dewasa yang memiliki keterampilan relevan, termasuk keterampilan teknis dan kejuruan, untuk bekerja dan berwirausaha. Media kuis berbasis Canva AI menghadirkan pembelajaran akuntansi yang lebih inklusif dan partisipatif karena setiap anggota kelompok memiliki peluang yang sama untuk terlibat aktif melalui sistem penomoran acak, bukan hanya peserta didik tertentu yang biasanya lebih dominan di kelas. SDG ke-4 juga menyoroti target 4.a mengenai penyediaan lingkungan belajar yang aman dan efektif bagi semua, yang tercermin dari suasana kompetisi kelompok yang sehat dan menyenangkan dalam permainan kuis tersebut.

Selain SDG ke-4, kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, khususnya target 9.c yang mendorong perluasan akses terhadap teknologi informasi dan komunikasi. Penggunaan Canva AI sebagai perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan dalam penyusunan media ajar menunjukkan bagaimana infrastruktur digital dapat dimanfaatkan secara nyata untuk memperkuat proses pendidikan di satuan pendidikan menengah kejuruan. 

Kegiatan pengembangan media pembelajaran digital ini merupakan bagian dari rangkaian Praktik Kependidikan yang dilaksanakan mahasiswa Pendidikan Akuntansi UNY di SMK Negeri 7 Yogyakarta. Program ini bertujuan membekali mahasiswa calon pendidik dengan pengalaman nyata merancang, menerapkan, dan mengevaluasi media serta model pembelajaran di satuan pendidikan menengah kejuruan. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran akuntansi yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan konsep, tetapi juga relevan dengan tuntutan transformasi digital di dunia pendidikan dan dunia kerja.

Dari Akar ke Buah: Media Pohon Ekonomi Berbasis Systems Thinking Karya Mahasiswa PK UNY Ajak Siswa SMA Negeri 2 Yogyakarta Bedah Kebijakan Pemerintah

Sebuah pendekatan belajar yang tidak biasa mewarnai kelas XE-5 SMA Negeri 2 Yogyakarta pada Rabu, 9 September 2026. Imam Rudi Mustofa, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY), mengajak 35 siswa di kelas tersebut memahami materi Ekonomi lewat media bernama Pohon Ekonomi, hasil rancangannya sendiri yang memadukan prinsip systems thinking dengan kerangka Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan berlangsung di bawah pendampingan guru pamong Siti Fatimah, S.E., dan sejalan dengan upaya mendukung SDG 4, yaitu Pendidikan Berkualitas, lewat proses belajar yang menempatkan siswa sebagai pihak aktif dalam menganalisis persoalan nyata.

Pohon Ekonomi digambarkan sebagai satu kesatuan pohon dengan lima bagian yang saling menopang: akar sebagai fondasi kegiatan ekonomi (kebutuhan, kelangkaan, dan sumber daya), batang sebagai proses inti berupa produksi, distribusi, dan konsumsi, cabang sebagai pelaku serta sistem pendukung kegiatan ekonomi, daun sebagai hasil yang muncul dari proses tersebut, dan buah sebagai capaian akhir yang merepresentasikan tujuan pembangunan berkelanjutan. Rangkaian metafora ini dirancang Imam agar siswa tidak memandang ekonomi sebagai kumpulan konsep yang berdiri sendiri, melainkan sebagai jalinan sebab-akibat yang saling memengaruhi.

Dengan bekal kerangka tersebut, 35 siswa dibagi ke dalam tujuh kelompok, dan setiap kelompok diminta menelusuri satu kasus atau program pemerintah pilihan mereka sendiri melalui kerangka Pohon Ekonomi, mulai dari akar persoalannya hingga buah berupa keterkaitannya dengan SDGs. Dari tujuh hasil analisis yang dipresentasikan, dua kelompok dinilai menunjukkan pemahaman paling matang dan ditunjuk membawakan hasil kerjanya di depan kelas: kelompok yang mengupas Koperasi Desa Merah Putih, dengan menyoroti bagaimana kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi di tingkat desa dapat mendorong kemandirian ekonomi warga, serta kelompok yang membedah program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menautkan pemenuhan kebutuhan gizi dengan peran berbagai pelaku ekonomi dan dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. Kedua topik ini dipilih siswa sendiri sebagai objek kajian, sementara kerangka analisisnya sepenuhnya mengacu pada logika Pohon Ekonomi yang telah dipelajari sebelumnya.

Bagi Imam, capaian yang lebih penting daripada hasil presentasi itu sendiri adalah proses berpikirnya. Siswa dilatih menelusuri hubungan antarkomponen, memahami peran berbagai pihak dalam sebuah kebijakan, sekaligus membiasakan diri menyampaikan gagasan secara runtut dan meyakinkan. Aspek-aspek inilah yang oleh Imam dipandang selaras dengan semangat Education for Sustainable Development (ESD), meski ia menegaskan bahwa kegiatan ini murni bertumpu pada proses pembelajaran di kelas, bukan penelitian yang mengukur dampak kebijakan secara empiris.

Ke depan, Imam berharap media Pohon Ekonomi yang ia kembangkan dapat terus disempurnakan dan diterapkan pada materi maupun konteks kebijakan lain, sehingga siswa memiliki lebih banyak kesempatan berlatih berpikir sistemik sambil tetap berpijak pada persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Pages