SDGs #11 Komunitas Kota

Jelajahi Kampung Batik Giriloyo, Mahasiswa UNY Bimbing Siswa SMA N 1 Bantul Gali Potensi Ekonomi Desa

BANTUL — Pada Kamis, 10 September 2025 SMA Negeri 1 Bantul melaksanakan kegiatan kokurikuler berjudul “Ensiklopedia Digital Potensi Desadi Kabupaten Bantul” yang berlangsung di sembilan dusun di wilayah Kabupaten Bantul, salah satunya Dusun Giriloyo, Kecamatan Imogiri yang masyarakatnya dikenal sebagai sentra pembatik tulis. Kegiatan ini dilaksanakan oleh guru bersama mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan sasaran seluruh peserta didik kelas 10. Kegiatan ini relevan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan).

Kegiatan ini bertujuan mengenalkan peserta didik pada potensi sosial, ekonomi, dan budaya di lingkungan sekitar melalui observasi lapangan secara langsung. Peserta didik dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan didampingi guru serta mahasiswa PK UNY untuk mengamati kehidupan masyarakat dari berbagai sudut pandang mata pelajaran, yakni sosiologi, ekonomi, sejarah, geografi, dan pendidikan agama. Di Dusun Giriloyo, peserta didik mengamati langsung proses produksi batik tulis mulai dari pembuatan pola, pencantingan, hingga pewarnaan kain, serta berdialog dengan para pembatik mengenai sejarah dan perkembangan usaha batik yang telah menjadi mata pencaharian turun-temurun warga setempat. Hasil observasi tersebut selanjutnya didokumentasikan dan disusun menjadi sebuah ensiklopedia digital yang memuat profil potensi setiap dusun.

Kegiatan ini memberikan dampak positif bagi peserta didik berupa penguatan pemahaman lintas disiplin ilmu serta kepekaan terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sekitar. Bagi masyarakat Dusun Giriloyo, kegiatan ini turut membantu mendokumentasikan dan mempromosikan usaha batik tulis sebagai warisan budaya sekaligus sumber penghidupan ekonomi warga, sejalan dengan SDG 8 dan SDG 9. Pendekatan pembelajaran lintas mata pelajaran yang diterapkan turut mendukung SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, sementara cakupan observasi ke sembilan dusun berkontribusi pada SDG 11 melalui upaya pelestarian aset sosial dan budaya di berbagai wilayah Kabupaten Bantul.

Melalui kegiatan “Ensiklopedia Digital Potensi Desa di Kabupaten Bantul” ini, sekolah berharap peserta didik dapat terus mengembangkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar sekaligus menghasilkan dokumentasi yang bermanfaat bagi pelestarian potensi desa. Kegiatan ini juga diharapkan dapat ditindaklanjuti dan dikembangkan pada periode pembelajaran berikutnya sebagai bagian dari penguatan wawasan sosial dan lingkungan peserta didik.

Teras Genre: Inovasi Mahasiswa PK UNY Ajak Murid SMAN 1 Bantul Melek Isu Kependudukan

Evelyna Puteri Rinaldo dan para mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang tengah menjalani Praktik Kependidikan (PK) di SMA Negeri 1 Bantul menginisiasi program "Teras Genre" (Generasi Berencana), sebuah ruang edukasi bagi remaja yang berfokus pada isu kependudukan. Konsepnya menyerupai pojok baca, namun seluruh materi yang disajikan berkaitan langsung dengan kondisi kependudukan di wilayah Bantul. Program ini diresmikan langsung oleh Kepala Balai Pendidikan Kabupaten Bantul dalam sebuah acara sederhana yang turut dihadiri oleh kepala sekolah, guru dan guru pamong, perwakilan OSIS, dan siswa kelas X selaku sasaran utama program. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kokurikuler sekolah dan sejalan dengan capaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan terkait pendidikan berkualitas, kesehatan yang baik dan kesejahteraan, serta perkotaan dan komunitas berkelanjutan.

Program ini bertujuan menumbuhkan kesadaran remaja terhadap dinamika kependudukan di daerah tempat tinggalnya melalui pendekatan lintas disiplin ilmu. Teras Genre memuat infografis yang mengulas empat tema utama: kondisi ekonomi daerah melalui data Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), kondisi geografis wilayah Bantul, isu sosiologis. Seluruh materi tersebut tidak disusun begitu saja oleh mahasiswa, melainkan bersumber dari hasil riset lapangan siswa kelas X dalam program kokurikuler. Sebelum infografis dibuat, siswa terlebih dahulu terjun langsung ke dusun-dusun di wilayah Bantul untuk mengumpulkan data melalui wawancara dan observasi bersama perangkat dusun serta warga setempat. Data yang terkumpul kemudian diolah dan divisualisasikan bersama mahasiswa PK menjadi karya kreatif yang dipajang di ruang Teras Genre agar mudah diakses dan dipahami oleh seluruh warga sekolah.

Kontribusi program ini paling menonjol pada capaian SDG 4, sebab Teras Genre secara langsung memperluas akses siswa terhadap pembelajaran yang bermakna dan berbasis pengalaman nyata (experiential learning). Melalui riset lapangan, siswa tidak hanya menerima materi kependudukan secara teoretis di kelas, tetapi juga berlatih keterampilan berpikir kritis, mengumpulkan data primer, serta menyajikan informasi secara sistematis kompetensi yang menjadi inti dari pendidikan berkualitas. Peresmian oleh Kepala Balai Pendidikan Kabupaten Bantul turut menjadi bentuk dukungan resmi bahwa model pembelajaran kolaboratif semacam ini layak direplikasi di sekolah lain. Selain aspek pendidikan, keberadaan infografis kesehatan mental, kriminalitas, dan kondisi wilayah juga menumbuhkan kepedulian sosial siswa terhadap lingkungan sekitarnya. Bagi mahasiswa PK, program ini menjadi wadah penerapan ilmu kependidikan sekaligus kontribusi nyata terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal.

Ke depan, program Teras Genre diharapkan dapat terus dikembangkan dengan pembaruan data secara berkala serta perluasan cakupan riset ke dusun-dusun lain di Bantul, sehingga isi Teras Genre senantiasa mencerminkan kondisi kependudukan terkini. Pihak sekolah juga berharap program ini dapat dilanjutkan oleh angkatan siswa berikutnya sebagai bagian tetap dari kokurikuler, sehingga Teras Genre tidak hanya menjadi ruang edukasi sementara, melainkan sumber informasi kependudukan yang berkelanjutan yang mendukung capaian pendidikan berkualitas bagi warga sekolah.

Membangun Budaya Kebersihan Sekolah Berkelanjutan, Mahasiswa PK Wujudkan Lingkungan Belajar Sehat di SMA Negeri 7 Yogyakarta

YOGYAKARTA – Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) menyelenggarakan program kerja berbasis Sustainable Development Goals (SDGs) bertema “Keberlanjutan & Pembiasaan: Membangun Kebiasaan Menjaga Kebersihan Kelas secara Berkelanjutan” di SMA Negeri 7 Yogyakarta. Kegiatan yang dilaksanakan secara intensif dari bulan Agustus hingga September ini melibatkan seluruh peserta didik dari kelas X, XI, hingga XII. Program pembiasaan ini selaras dengan pencapaian SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), khususnya dalam mendukung peningkatan kualitas layanan dan pemberdayaan masyarakat sekolah melalui pembudayaan hidup bersih, rapi, serta tertib di lingkungan belajar.

Tujuan utama dari program ini adalah menanamkan kedisiplinan dan kesadaran lingkungan sebagai bagian dari budaya unggul sekolah secara berkelanjutan. Pemantauan dan pengecekan kebersihan kelas dilakukan secara rutin setiap pagi sebelum Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dimulai oleh penanggung jawab program kerja mahasiswa PK. Penilaian berfokus pada tiga aspek utama, yaitu kebersihan, kelengkapan, serta kerapihan atau keindahan kelas. Aspek kebersihan dinilai dari kebersihan lantai, papan tulis, meja dan kursi, pintu dan jendela, hingga teras kelas. Aspek kelengkapan mencakup ketersediaan atribut resmi negara seperti foto Presiden, foto Wakil Presiden, Lambang Garuda, jam dinding, alat kebersihan kelas, serta keberadaan mading kelas. Sementara itu, aspek kerapihan dan keindahan berfokus pada penataan meja guru, penataan meja dan kursi siswa, penataan peralatan kebersihan, serta kreativitas penataan papan pajangan kelas.

Melalui pemantauan berkala selama dua bulan, program ini berhasil memberikan perubahan signifikan terhadap kepedulian para siswa SMA Negeri 7 Yogyakarta dalam merawat ruang kelas mereka. Lingkungan kelas menjadi lebih bersih, tertata rapi, dan nyaman, sehingga secara langsung menciptakan suasana belajar yang kondusif serta mendukung kesehatan fisik peserta didik maupun seluruh warga sekolah. Pembiasaan rutin setiap pagi ini tidak hanya menjaga estetika lingkungan sekolah, tetapi juga berhasil memperkuat budaya gotong royong dan rasa kepemilikan bersama atas sarana publik di ruang lingkup pendidikan.

Melalui keberhasilan program ini, diharapkan pembiasaan dan semangat menjaga kebersihan kelas dapat terus dipertahankan secara mandiri oleh seluruh siswa, sehingga menjadi budaya berkelanjutan di SMA Negeri 7 Yogyakarta meskipun masa Praktik Kependidikan telah berakhir.

Tim Peneliti FEB UNY dan Mitra Internasional Raih Penghargaan Best Paper pada The 14th GAMAICEB 2026

Prestasi internasional kembali diraih oleh civitas akademika Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY). Tim peneliti kolaborasi lintas negara berhasil meraih penghargaan prestisius Best Paper pada ajang konferensi internasional The 14th GAMAICEB (Gadjah Mada International Conference on Economics and Business) 2026.

Penelitian ilmiah yang berhasil meraih predikat terbaik tersebut diangkat dengan judul: “When Sustainability Speaks and When It Stays Silent: The Effects of Greenwashing and Greenhushing on Youth Purchase Intention the Moderating Role of Warm Glow”.

Karya ilmiah ini mengkaji fenomena krusial dalam komunikasi keberlanjutan (sustainability), yakni bagaimana praktik greenwashing (klaim ramah lingkungan yang berlebihan) dan greenhushing (penyembunyian informasi ramah lingkungan) memengaruhi niat beli generasi muda, serta bagaimana warm glow berperan dalam memoderasi pengaruh tersebut dengan metode penelitian eksperimen.

Penelitian yang berhasil meraih penghargaan bergengsi ini merupakan luaran dari pendanaan penelitian kompetitif Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui skema Penelitian Kerjasama Internasional (Luar Asia Tenggara) Tahun 2025. Ajang GAMAICEB merupakan konferensi internasional berskala global yang memfasilitasi para peneliti, akademisi, dan praktisi untuk mempresentasikan riset-riset unggulan di bidang ekonomi, bisnis, dan akuntansi. Raihan Best Paper ini menunjukkan pengakuan dunia akademik internasional atas kedalaman analisis, kebaruan isu, dan kontribusi keilmuan yang ditawarkan oleh tim peneliti.

Capaian berharga ini diharapkan dapat semakin meningkatkan motivasi para akademisi untuk memperluas jaringan riset global dan menghasilkan karya berkualifikasi tinggi. Prestasi ini juga menjadi cerminan komitmen nyata institusi dalam mengusung semangat FEB UNY Berdampak dan Diktisaintek Berdampak melalui pengembangan ilmu pengetahuan yang bermanfaat luas.

Keberhasilan ini merupakan hasil sinergi dan kolaborasi riset antara dosen FEB UNY, mahasiswa, serta mitra internasional dari Business School, Nagoya University of Commerce and Business (NUCB), Nagoya, Jepang. Karya ilmiah ini disusun oleh: Tim Penelitia dari FEB UNY yang diketua oleh Prof. Dr. Ratna Candra Sari, S.E., M.Si., CA, CFP., serta anggota peneliti dan mahasiswa yaitu Dian Juliani, S.E., M.Sc.; Annisa Ratna Sari, S.Pd., M.S.Ed., Ph.D.; Arin Pranesti, S.Pd., M.Sc.; Arsy Widiyanti, S.Ak., dan Frendy (Business School, Nagoya University of Commerce and Business / NUCB, Nagoya, Japan). (djl)

 



 

Kolaborasi Wayang Kulit, Inklusivitas, dan Paperless Practice Melalui Aleadyota Dukung Sustainable Learning Commitment dalam Pembelajaran Akuntansi

Continuum Learning That Echoes Beyond the Classroom

Pembelajaran kadang terlalu cepat dianggap selesai hanya karena bel sudah berbunyi. Padahal, ada kemungkinan bahwa sesuatu yang lebih penting justru baru dimulai ketika murid membawa pulang cara berpikir, keberanian, atau kebiasaan yang mereka temukan selama belajar. Gagasan itulah yang perlahan tumbuh dalam perjalanan Praktik Kependidikan (PK) UNY 2026 di SMK Negeri 7 Yogyakarta. Amar Taqwim, biasa disapa Amar, mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Yogyakarta, menjalani PK sejak 20 Juli hingga 25 September 2026. Dalam perjalanan tersebut, mahasiswa terlibat dalam pembelajaran di X AK 2 pada Dasar-dasar Akuntansi dan Keuangan Lembaga, Elemen Ekonomi Bisnis dan Administrasi Umum, serta XI AK 2 pada Kreativitas, Inovasi, dan Kewirausahaan, Elemen Kegiatan Produksi. Dua kelas dengan karakteristik dan kebutuhan yang berbeda ini perlahan memperlihatkan bahwa pembelajaran akuntansi ternyata tidak hanya berbicara tentang angka, tetapi juga tentang bagaimana murid diberi ruang untuk belajar.

Di awal praktik mengajar, keterlibatan murid masih terasa cukup rendah, baik secara behavioral, kognitif, maupun emosional. Hanya satu atau dua murid yang aktif bertanya, sementara sebagian lainnya sebenarnya sudah mengetahui jawaban, tetapi belum cukup percaya diri untuk menyampaikan pendapat atau gagasan. Dari pengalaman tersebut, mahasiswa mulai melihat bahwa pembelajaran berkualitas tidak cukup hanya dengan menyampaikan materi dan memastikan materi selesai dibahas. Murid perlu diberi ruang untuk mengalami pembelajaran itu sendiri, termasuk ruang untuk salah, mencoba, bertanya, dan menemukan cara mereka sendiri untuk memahami sesuatu.

Penerapan Problem Based Learning maupun Project Based Learning, diskusi, pertanyaan pemantik, Lembar Kerja Murid, serta aktivitas yang membuat murid terlibat langsung perlahan mengubah suasana kelas. Semakin banyak murid dilibatkan, semakin terbuka pula ruang bagi mereka untuk memahami pembelajaran. Dari sana, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas (Quality Education) tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang jauh dari ruang kelas. Ia hadir dalam hal-hal sederhana ketika murid tidak hanya mendengarkan, tetapi mulai berpikir, bertanya, berdiskusi, mencoba, dan berani menyampaikan gagasan.

Namun, pendidikan berkualitas rasanya akan menjadi kurang lengkap jika belum mampu menjangkau murid dengan kebutuhan yang berbeda. Pengalaman berhadapan dengan murid yang membutuhkan dukungan belajar lebih menjadi salah satu titik yang mengubah cara pandang mahasiswa sebagai calon guru. Dalam pembelajaran akuntansi, materi seperti Persamaan Dasar Akuntansi tetaplah Aset = Liabilitas + Ekuitas. Materi tersebut tidak selalu memiliki versi yang lebih sederhana. Dari sana mahasiswa mulai memahami bahwa inklusivitas tidak selalu berarti mengubah materinya, tetapi dapat berarti mengubah cara mengajarnya agar setiap murid tetap memiliki kesempatan untuk memahami materi tanpa merasa sedang dibedakan.

Perbedaan kebutuhan belajar juga membuat mahasiswa semakin memahami bahwa kesetaraan dan keadilan tidak selalu berarti memperlakukan semua murid dengan cara yang sama. Memperlakukan semua murid secara sama belum tentu membuat semua murid mendapatkan kesempatan belajar yang sama. Ada murid yang mungkin hanya membutuhkan pertanyaan pemantik, ada yang lebih nyaman menyampaikan jawaban melalui aktivitas kelompok, dan ada pula yang membutuhkan pendekatan yang lebih personal. Hal-hal tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung SDG 4.5 tentang kesetaraan akses pendidikan bagi kelompok rentan (Equal Access to Education for Vulnerable Groups), bukan dengan memberi label atau perlakuan yang membedakan, tetapi dengan memastikan bahwa perbedaan tidak menjadi alasan bagi seseorang untuk kehilangan kesempatan belajar.

Menariknya, upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih hidup kemudian membawa wayang kulit ke ruang kelas akuntansi. Bagi mahasiswa, pelestarian budaya tidak harus selalu dimulai dengan menjadi dalang atau penonton pertunjukan wayang. Minimal, generasi sekarang perlu mengenalinya terlebih dahulu. Wayang kulit memiliki banyak tokoh, karakter, dan properti yang justru sangat cocok digunakan dalam materi yang memiliki banyak pihak, persoalan, dan alur cerita, seperti perilaku konsumen dan produsen, model pelaku ekonomi, hingga berbagai konsep dalam akuntansi.

Ketika wayang pertama kali hadir di kelas, murid jelas kaget. Ada rasa penasaran terhadap tokoh-tokohnya, bahkan satu jam pelajaran pernah digunakan hanya untuk membangun orientasi masalah melalui cerita wayang dan murid tetap antusias mengikutinya. Setelahnya, muncul pertanyaan sederhana yang justru terasa berarti, “Pak Amar besok masih pake wayang kan?”. Pertanyaan tersebut mungkin terdengar kecil, tetapi bagi mahasiswa, ia menunjukkan bahwa pengalaman belajar tidak berhenti ketika materi selesai dibahas. Murid bahkan diminta memegang wayang ketika menjawab, seolah-olah tokoh tersebut yang sedang menyampaikan jawabannya. Salah satu murid yang sebelumnya terlihat kurang terlibat mulai menunjukkan antusiasme yang jauh lebih terbuka. Bagi mahasiswa, momen kecil seperti ini cukup untuk menunjukkan bahwa wayang bukan sekadar pemanis kelas. Ia menjadi bagian dari proses murid membangun konsep sekaligus ruang kecil untuk mengenalkan kembali warisan budaya kepada generasi yang mungkin sebelumnya tidak terlalu mengenalnya. Pengalaman tersebut mempertemukan pembelajaran dengan SDG 11.4 tentang perlindungan dan pelestarian warisan budaya dan alam dunia (Protect and Safeguard the World’s Cultural and Natural Heritage).

Di titik ini, wayang kulit, inklusivitas, dan pembelajaran berkualitas mulai terlihat bukan sebagai hal yang berdiri sendiri. Ketiganya bertemu pada satu pertanyaan yang lebih sederhana, tetapi justru lebih sulit dijawab. Setelah sebuah pembelajaran selesai, apa yang sebenarnya ingin ditinggalkan? Bukan hanya nilai, bukan hanya jawaban yang benar, dan bukan pula sekadar materi yang berhasil disampaikan. Ada nilai, kebiasaan, dan cara pandang yang diharapkan memiliki kesempatan untuk terus dibawa oleh murid. Kesadaran tersebut kemudian bertemu dengan cara mahasiswa memandang penggunaan sumber daya dalam pembelajaran.

Hal serupa terjadi ketika mahasiswa mencoba meminimalkan penggunaan kertas. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi, presensi, LKM, dan lembar nilai dibuat berbasis digital. Bukan berarti pembelajaran benar-benar zero paper. Murid tetap memiliki hak untuk membawa buku dan mencatat ketika diperlukan. Yang diminimalkan adalah penggunaan kertas pada bagian yang berada dalam kendali mahasiswa. Praktik tersebut bukan sekadar berpindah dari kertas ke layar, tetapi juga menjadi latihan untuk bertanya apakah sesuatu benar-benar perlu digunakan atau hanya digunakan karena sudah terbiasa. Selain lebih praktis dalam pengerjaan, pengumpulan, dan penilaian, ruang digital juga memberi kesempatan bagi murid untuk lebih kreatif dalam menyelesaikan tugas. Gagasan tersebut menjadi bagian dari SDG 12.5 tentang pengurangan timbulan sampah melalui pencegahan, pengurangan, daur ulang, dan penggunaan kembali (Reduce Waste Generation).

Dari berbagai pengalaman tersebut, mahasiswa mulai melihat bahwa keberlanjutan dalam pembelajaran bukan hanya tentang membuat satu kegiatan terlihat baik pada saat dilaksanakan. Ada komitmen yang lebih panjang untuk menghadirkan pembelajaran yang berkualitas, memberi ruang bagi perbedaan, mengenalkan kembali budaya, serta menggunakan sumber daya secara lebih bertanggung jawab. Praktik-praktik tersebut mungkin sederhana dan belum tentu semuanya akan terus dilakukan setelah mahasiswa meninggalkan sekolah. Namun, justru di situlah makna Sustainable Learning Commitment terasa. Yang diharapkan berlanjut bukan selalu bentuk kegiatannya, melainkan nilai yang ditinggalkan dan kemungkinan bagi orang lain untuk meneruskannya dalam bentuk yang mereka anggap paling sesuai.

Dari berbagai pengalaman tersebut lahirlah ALEADYOTA sebagai gagasan yang merangkum harapan tersebut. ALEADYOTA menggambarkan cahaya kecil yang lembut dan sederhana, bukan cahaya besar yang menerangi semuanya, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa masih ada terang di tengah ruang yang luas. Begitu pula praktik kependidikan ini. Ia mungkin sederhana, mungkin juga tidak semuanya akan terus berlangsung setelah mahasiswa pergi. Namun, pembelajaran tidak selalu harus meninggalkan sesuatu yang besar. Barangkali cukup meninggalkan keberanian untuk bertanya, kesadaran untuk menjaga budaya, kebiasaan untuk menggunakan sesuatu secara bijak, dan keyakinan bahwa setiap murid berhak mendapatkan ruang untuk belajar.

Continuum Learning That Echoes Beyond the Classroom akhirnya bukan sekadar slogan. Ia menjadi harapan bahwa pembelajaran dapat memiliki kehidupan setelah jam pelajaran berakhir. Wayang mungkin terus menjadi sesuatu yang ingin dikenal. Keberanian untuk berbicara mungkin tumbuh pada pembelajaran berikutnya. Cara memandang perbedaan mungkin terbawa ke ruang lain. Kebiasaan menggunakan sesuatu seperlunya mungkin menjadi pilihan yang terus dilakukan. Tidak ada yang dapat memastikan sejauh mana semuanya akan bertahan, tetapi pendidikan memang tidak selalu bekerja dengan kepastian seperti itu.

Barangkali pendidikan memang tidak harus mengubah dunia sekaligus. Cukup meninggalkan sesuatu yang membuat orang lain ingin melanjutkannya, lalu membiarkan apa yang dimulai di ruang kelas menemukan jalannya untuk terus hidup di luar sana. (amm)

Usung Tema "Mahawira Amerta Nira", Mahasiswa UNY dan Siswa SMK Negeri 1 Kokap Raih Terbaik 1 Karnaval Semarak Merdeka Se-Kulon Progo 2026

Melestarikan budaya daerah tidak selalu harus melalui kegiatan formal di ruang kelas. Terkadang, hal itu bisa dimulai dari panggung sederhana seperti pawai karnaval, di mana identitas lokal ditampilkan lewat kostum dan kreativitas anak muda. Hal inilah yang ditunjukkan oleh SMK Negeri 1 Kokap dalam Karnaval Se-Kabupaten Kulon Progo yang digelar pada Sabtu (22/08/26) lalu dalam rangka memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia. Karnaval tahunan ini diikuti oleh berbagai instansi pendidikan se-Kabupaten Kulon Progo, salah satunya SMK Negeri 1 Kokap yang tampil dengan mengusung tema "Mahawira Amerta Nira" dengan sub-tagline "Manisnya Warisan Menoreh". Persembahan dan karya ini mengangkat semangat kerja keras, gotong royong, dan ketulusan, sekaligus menjadi bentuk penghormatan bagi para penderes atau penjaga warisan tradisional yang mengolah tetes-tetes nira di kawasan Perbukitan Menoreh.

Kegiatan ini turut melibatkan Muhammad Ainurrofik Syahrul Haq, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang sedang menjalani Praktik Kependidikan (PK) di SMK Negeri 1 Kokap. Dalam karnaval ini, ia dipercaya menjadi salah satu maskot yang mewakili SMK Negeri 1 Kokap sepanjang rute pawai. Bersama para siswa dan warga sekolah lainnya, Muhammad Ainurrofik Syahrul Haq ikut menyiapkan kostum yang digunakan dalam pawai, sebagian di antaranya dibuat secara mandiri dari bahan kardus bekas yang disulap menjadi kostum bernuansa gula semut. Selain kostum hasil kreasi sendiri, beberapa peserta juga mengenakan busana tradisional sewaan untuk memperkuat penggambaran sosok penderes nira dan kehidupan masyarakat Menoreh.

Bagi Muhammad Ainurrofik Syahrul Haq, kesempatan menjadi maskot karnaval menjadi bagian dari pengalaman Praktik Kependidikan yang memperlihatkan bahwa keterlibatan mahasiswa PK di sekolah tidak hanya terbatas pada kegiatan belajar-mengajar di kelas. Melalui pawai ini, ia turut ambil bagian dalam memperkenalkan sekaligus menghormati kerja keras para penjaga tradisi penderesan nira di Kulon Progo kepada masyarakat yang lebih luas di tingkat kabupaten, sekaligus mempererat kolaborasi antara mahasiswa PK dan warga sekolah.

Kerja keras dan kekompakan tim dalam mempersiapkan tema serta kostum karnaval ini membuahkan hasil membanggakan. SMK Negeri 1 Kokap berhasil meraih predikat Terbaik 1 dalam lomba karnaval tingkat Kabupaten Kulon Progo tersebut, sebuah pencapaian yang menjadi bukti bahwa kreativitas dalam mengangkat nilai kerja keras, gotong royong, dan warisan budaya lokal mampu bersaing di tingkat kabupaten. Keterlibatan mahasiswa PK UNY dalam kegiatan ini turut memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam mendukung proses pendidikan sekaligus pelestarian budaya daerah. Melalui keterlibatan secara langsung, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman di luar kegiatan mengajar, tetapi juga belajar memahami dan menghargai kearifan lokal yang hidup di lingkungan sekolah tempatnya bertugas.

Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Pertama, SDGs Nomor 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, karena Karnaval ini menjadi sarana pelestarian warisan budaya dan tradisi lokal, khususnya kearifan penderesan nira yang menjadi bagian dari identitas kawasan Perbukitan Menoreh. Kedua, SDGs Nomor 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, karena tema "Mahawira Amerta Nira" secara langsung menjadi bentuk penghormatan bagi para penderes nira di kawasan Menoreh, yang kerja kerasnya menopang perekonomian dan mata pencaharian warga setempat melalui pengolahan gula kelapa/gula semut. Ketiga, SDGs Nomor 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, Karena Tradisi pengolahan nira menjadi gula kelapa merupakan contoh praktik pemanfaatan sumber daya alam secara turun-temurun dan berkelanjutan, yang diangkat kembali melalui karya karnaval ini. Keempat, SDGs Nomor 4 tentang Pendidikan Berkualitas, karena Keterlibatan mahasiswa PK UNY dan siswa dalam kegiatan ini menjadi bentuk pembelajaran di luar kelas yang mengasah kreativitas, kerja sama, dan kebanggaan terhadap budaya serta sejarah daerah.

Melalui karya "Mahawira Amerta Nira" dan predikat Terbaik I dalam Karnaval Semarak Merdeka Kabupaten Kulon Progo 2026 ini, SMK Negeri 1 Kokap bersama mahasiswa PK UNY yang terlibat menunjukkan bahwa kolaborasi dunia pendidikan dapat berperan dalam menghormati kerja keras masyarakat, melestarikan warisan budaya, sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan di tingkat daerah.

Delegasi FEB UNY Berpartisipasi dalam Sustainable International Community Service (SICS) 2026 di Desa Wisata Penglipuran Bali Dukung Pencapaian SDGs

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) melalui partisipasi dalam Sustainable International Community Service (SICS) 2026 yang diselenggarakan pada 29 Juni-2 Juli 2026 di Bali. Pada kegiatan ini, Umar Yeni Suyanto, dosen FEB UNY, menjadi salah satu delegasi yang mengikuti kegiatan pengabdian kepada masyarakat internasional di Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali. Program ini mengusung tema "Advancing Sustainable Communities Through Global Academic Collaboration" sebagai upaya memperkuat kolaborasi akademik internasional dalam mewujudkan masyarakat yang berkelanjutan. 

SICS 2026 mempertemukan akademisi, mahasiswa, dan mitra internasional dari berbagai perguruan tinggi dalam kegiatan pengabdian masyarakat berbasis kolaborasi. Di Desa Wisata Penglipuran, peserta melaksanakan International Community Service (ICS) melalui observasi lapangan, diskusi, dan pendampingan pada berbagai sektor, seperti pengembangan UMKM bambu, pengelolaan homestay dan pariwisata, pendidikan dasar, serta penguatan produk lokal Loh-Loh Cencem sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis kearifan lokal. Kegiatan ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan praktik baik dalam pengembangan desa wisata yang berkelanjutan. 

Sebagai delegasi FEB UNY, Umar Yeni Suyanto aktif mengikuti rangkaian kegiatan bersama masyarakat dan mitra internasional. "Kegiatan SICS 2026 merupakan wujud komitmen FEB UNY dalam berkontribusi aktif kepada masyarakat melalui kolaborasi internasional. Program ini tidak hanya memperkuat jejaring akademik dengan berbagai perguruan tinggi dunia, tetapi juga selaras dengan visi Universitas Negeri Yogyakarta sebagai universitas yang berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, kami berharap kontribusi perguruan tinggi mampu memberikan dampak nyata bagi pengembangan masyarakat sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)," ujar Umar Yeni Suyanto.

Kegiatan ini mendukung implementasi SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pertukaran pengetahuan lintas negara, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pemberdayaan UMKM desa wisata, SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) melalui pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata berkelanjutan, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah desa, dan mitra internasional. Sejalan dengan komitmen Universitas Negeri Yogyakarta dalam mendukung SDGs, partisipasi FEB UNY pada SICS 2026 diharapkan dapat memperluas jejaring internasional sekaligus meningkatkan kontribusi tridarma perguruan tinggi bagi pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. (umr)

Tags: SDG 4 - Pendidikan Berkualitas; SDG 8 - Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi; SDG 11 - Kota dan Komunitas Berkelanjutan; SDG 17 - Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Gerakan 1 Hari Tanpa Sampah Plastik oleh Mahasiswa Pendidikan Administrasi Perkantoran UNY - Dukung SDG 12 di Lingkungan Kampus

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), yaitu Muhammad Rizqi Bagas Satrio, dkk. di bawah bimbingan dosen Dr. Arwan Nur Ramadhan, M.Pd. melaksanakan kegiatan “1 Hari Tanpa Sampah Plastik” pada Sabtu, 31 Mei 2026, di lingkungan UNY.

Kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui kegiatan ini, Rizqi dkk. mengajak civitas akademia untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam aktivitas sehari-hari.

Berbagai upaya sederhana dilakukan selama kegiatan berlangsung, seperti membawa tumblr, menggunakan kotak makan pribadi, dan menghindari penggunaan kantong plastik saat beraktivitas di lingkungan kampus. Kegiatan tersebut didokumentasikan dalam bentuk video edukatif yang bertujuan meningkatkan kesadaran mengenai dampak sampah plastik terhadap lingkungan serta pentingnya membangun kebiasaan yang lebih ramah lingkungan.

Berdasarkan hasil kegiatan, sasaran yang terlibat memberikan tanggapan positif terhadap gerakan yang dilaksanakan. Salah satu peserta menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan pemahaman bahwa pengurangan sampah plastik dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini juga dinilai mampu meningkatkan kesadaran untuk lebih bertanggung jawab dalam menggunakan dan mengelola sumber daya yang ada.

Melalui gerakan “1 Hari Tanpa Sampah Plastik”, para mahasiswa menunjukkan komitmen untuk mendukung pelestarian lingkungan, khususnya di lingkungan kampus, sekaligus mengajak masyarakat untuk menerapkan pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab. Rizqi dkk. berharap pesan yang disampaikan melalui video dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk mulai menerapkan kebiasaan ramah lingkungan dalam aktivitas sehari-hari sehingga tercipta lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Video kegiatan: https://youtu.be/cBAHenfHpLI?si=UOVK0uchZq4THDv9

Mahasiswa PLK UNY Edukasi Generasi Cerdas Finansial di SDN 1 Kejambon Lor

Mahasiswa Program Pembelajaran Luar Kampus (PLK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) sukses menyelenggarakan tiga program kerja edukatif secara kolaboratif di SDN 1 Kejambon Lor pada 24–27 April 2026. Bertajuk "Berkarya Nyata, Menabung Sejak Dini, dan Berpikir Bijak untuk Masa Depan", kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan kreativitas, kesadaran finansial, serta kemampuan berpikir kritis pada siswa kelas 1 hingga 4 melalui pendekatan yang interaktif dan menyenangkan. Kegiatan ini dilaksanakan oleh tiga mahasiswa PLK UNY dari FEB, masing-masing membawa program kerja unggulan yang saling melengkapi, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Evi Nur Rochmah, M.Pd.: Yola Indri Rahayu dari Program Studi Pendidikan Akuntansi FEB UNY  mengusung program kerja "Berkarya Nyata"; Nur Hidayah Atiqoh dari Program Studi Pendidikan Ekonomi FEB UNY mengusung program kerja "Menabung Sejak Dini"; Nuri Afifah dari Program Studi Pendidikan Ekonomi FEB UNY  mengusung program kerja "Berpikir Bijak untuk Masa Depan". Kegiatan berlangsung pada 24–27 April 2026, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, dengan durasi 2–3 jam per sesi. Pelaksanaan dipusatkan di SDN 1 Kejambon Lor, Sindumartani, Ngemplak, Sleman dengan sasaran siswa kelas 1 sampai 4.

Program ini hadir atas kesadaran bahwa literasi finansial dan kreativitas adalah dua bekal penting yang perlu ditanamkan sejak usia dini. Di era konsumtif seperti saat ini, anak-anak perlu dibekali pemahaman yang kuat tentang nilai uang, pentingnya menabung, dan cara berkreasi secara mandiri dan produktif. Dengan mengintegrasikan ketiga program kerja dalam satu rangkaian kegiatan, Tim PLK UNY berharap mampu memberikan dampak holistik yang berkesan bagi para siswa.

Program kerja pertama digagas oleh Yola yang mengajak siswa mengekspresikan kreativitas melalui kegiatan keterampilan tangan yang bermakna. Setiap siswa mendapat kaleng bekas sebagai badan celengan, lalu menghiasnya secara bebas menggunakan stiker hias, kertas warna, spidol warna-warni, serta lem dan gunting. Proses berkarya dipandu langsung oleh Yola dengan pendampingan kelompok dan memastikan setiap siswa mendapat perhatian yang merata.

Melalui program ini, siswa tidak sekadar membuat sebuah benda, tetapi juga menuangkan imajinasi dan kepribadian ke dalam karya nyata yang dapat dibawa pulang. Rasa bangga atas hasil tangan sendiri menjadi fondasi penting dalam menumbuhkan sikap mandiri dan produktif sejak dini. Keberhasilan program ini terlihat ketika setiap siswa mampu menceritakan makna di balik celengan yang mereka ciptakan.

Program kerja kedua menjadi inti dari edukasi finansial dalam rangkaian kegiatan ini. Atiqoh memulai sesi dengan pengenalan interaktif tentang apa itu uang dan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari, menggunakan bahasa yang sederhana, cerita pendek, serta diskusi ringan yang mengajak siswa berpikir tentang cara mengelola uang saku mereka.

Sesi berlanjut ke simulasi praktis di mana siswa diajak langsung menyisihkan uang harian dan menuliskan target tabungan pribadi mereka, mulai dari menabung untuk membeli alat tulis, buku cerita, hingga keinginan lain yang mereka impikan. Kegiatan ini diperkuat dengan games edukatif seru berupa tebak nilai uang dan simulasi belanja sederhana yang berlangsung dengan penuh semangat. Di akhir sesi, setiap siswa memiliki selembar kertas target tabungan sebagai komitmen nyata untuk mulai menabung.

Program kerja ketiga dirancang oleh Nuri untuk membangun pola pikir bijak dalam pengambilan keputusan finansial sederhana. Nuri menyampaikan bahwa setiap pilihan keuangan memiliki konsekuensi dan tujuan jangka panjang yang dikemas secara ringan dan mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar. Siswa diajak bermain peran (role play) sebagai seorang "pengelola keuangan" yang harus memilih antara membeli sesuatu sekarang atau menabung terlebih dahulu. Melalui simulasi ini, anak-anak secara alami mulai memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Diskusi kelompok kemudian dilakukan untuk merangsang kemampuan berpikir kritis mereka tentang keputusan keuangan sehari-hari, dan hasilnya para siswa antusias menyampaikan pendapat dengan kata-kata mereka sendiri.

Rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar dan penuh semangat. Siswa kelas 1 hingga 4 SDN 1 Kejambon Lor menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi sepanjang kegiatan, mulai dari menyimak materi dengan tekun, aktif dalam games edukatif, hingga berkreasi menghias celengan masing-masing dengan penuh percaya diri. Suasana kelas yang ceria dan interaktif mencerminkan keberhasilan pendekatan yang digunakan oleh ketiga mahasiswa PLK.

Kolaborasi antara program Berkarya Nyata, Menabung Sejak Dini, dan Berpikir Bijak untuk Masa Depan menciptakan pengalaman belajar yang komprehensif. Anak tidak hanya mendapat pengetahuan baru, tetapi juga keterampilan praktis dan produk nyata berupa celengan karya tangan mereka sendiri yang siap digunakan untuk mulai menabung. 

Dari serangkaian kegiatan ini, dihasilkan beberapa output nyata yang menjadi bukti keberhasilan program, di antaranya celengan kreatif hasil karya masing-masing siswa yang siap digunakan, peningkatan pemahaman dan kesadaran siswa tentang pentingnya menabung, dan tumbuhnya pola pikir bijak dalam mengelola uang sejak dini.

Program kerja kolaboratif tiga mahasiswa PLK UNY di SDN 1 Kejambon Lor menjadi bukti nyata bahwa pendidikan ekonomi bisa hadir dengan cara yang menyenangkan, relevan, dan berdampak. Melalui sinergi antara Yola, Atiqoh, dan Nuri, para siswa tidak hanya mendapat pengetahuan baru, tetapi juga pengalaman berkarya yang akan terus mereka kenang. Semoga benih kreativitas, kebiasaan menabung, dan pola pikir bijak yang ditanamkan melalui program ini menjadi bekal berharga bagi para siswa dalam menghadapi masa depan dengan lebih cerdas, hemat, dan mandiri. (Yola)

Dukung SDGs Desa, Mahasiswa PLK Jetis Gagas Tempat Sampah Botol Plastik dan Penanaman Sayuran

Dari sebotol plastik hingga sebatang bibit sayuran, perubahan besar seringkali berawal dari langkah yang sederhana. Semangat inilah yang dibawa oleh mahasiswa Pembelajaran Luar Kampus (PLK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui program lingkungan yang dilaksanakan di Padukuhan Jetis, Kalurahan Caturharjo, Kapanewon Sleman, Kabupaten Sleman. Dengan menggandeng warga dan ibu-ibu PKK, mahasiswa menghadirkan inovasi tempat sampah khusus botol plastik serta gerakan menanam sayuran bersama sebagai upaya membangun lingkungan yang lebih bersih. Program ini menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) serta poin 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan.

Kegiatan bertema “Nguri-uri Alam, Nandur Panguripan Sesarengan Mbangun Padukuhan Ijo” ini dilaksanakan oleh mahasiswa PLK bersama masyarakat dan ibu-ibu PKK yang dilaksanakan di Padukuhan Jetis pada 21 Februari hingga 16 Mei 2026 melalui pembuatan tempat sampah khusus botol plastik serta penanaman tanaman sayuran. Program ini diselenggarakan dengan tujuan untuk menjaga kebersihan lingkungan, meningkatkan penghijauan, dan mendukung pencapaian SDGs. Pelaksanaannya dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan partisipasi aktif warga dalam pengelolaan tempat sampah dan penanaman tanaman.

Praktik nyata yang ditawarkan dalam kegiatan ini menitikberatkan pada pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi pencemaran akibat sampah plastik, serta meningkatkan produktivitas lahan sekitar rumah melalui budidaya sayuran. Ketua RT 02 Padukuhan Jetis, Zamroni, menyampaikan, “banyak anak-anak SMA habis olahraga di GOR, sampah botolnya dibuang sembarangan, Mbak,” ujarnya, Sabtu (21/05/26). Lokasi desa yang dikelilingi banyak sekolah dan adanya tempat rekreasi yang cukup ramai menjadi tantangan warga dalam menghadapi permasalahan sampah. Akan tetapi, lokasi ini memiliki potensi yang cukup besar dalam ketersediaan bahan tanam (pupuk organik), dengan didukung adanya peternakan kambing milik warga Jetis. Aris selaku ketua RT 06 juga mengungkapkan, “di sini ada kelompok peternakan mbak, tapi kotorannya hanya dikumpulkan tidak ada yang ngolah”. Berangkat dari kondisi tersebut, tim PLK memberikan solusi program pembuatan tempat sampah khusus botol plastik dan penanaman bibit sayuran di sekitar rumah warga sebagai bentuk solusi yang mengintegrasikan pengelolaan lingkungan dengan pemanfaatan potensi lokal. Melalui program ini diharapkan masyarakat dapat lebih aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan serta mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs Desa).

Program PLK UNY di Padukuhan Jetis telah membuktikan bahwa sinergi antara mahasiswa dan masyarakat mampu melahirkan perubahan yang nyata dan bermakna. Keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Hilmy Pradana Sundawan, M.Ak. dengan anggota yang terdiri dari Ariel Erland Fernanda, Arinda Rahmawati, Umi Nuriyah, Wulan Angraeni, Hazmi Hasifah, Nisrina Nur Azkia, Emilda Hanum, Putri Roulita Parhusip, Setyananda Asli Rahmawati, Arga Purba dari berbagai program studi di UNY.

Melalui program ini, mahasiswa berharap mampu mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola lingkungan sekitar, mulai dari pemilahan sampah botol plastik hingga pemanfaatan lahan kosong untuk penanaman benih. Selain menjaga kebersihan dan kemandirian pangan, kegiatan ini juga berpotensi menambah penghasilan desa melalui penjualan sampah botol.

Penulis

Arinda, Wulan, Umi, Hazmi, Ariel, Ririn

Editor

Arinda, Fadhli

#PLK #UNYMengabdi #SDGs11 #SDGs12 #TempatSampahBotol #Menanam

Pages