SDGs #4 Pendidikan

Meningkatkan Keaktifan Belajar Ekonomi melalui Permainan Interaktif Berbasis Dadu pada Materi Indeks Harga dan Inflasi

Rafiqoh Amelya, mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), melaksanakan kegiatan pembelajaran Ekonomi dalam rangka Praktik Kependidikan (PK) pada Selasa (15/09/26) lalu, di SMAN 1 Depok Sleman. Kegiatan dilaksanakan bersama peserta didik kelas XI/Fase F pada materi Indeks Harga dan Inflasi dengan menerapkan permainan interaktif berbasis dadu. Kegiatan ini dirancang untuk menciptakan pembelajaran yang lebih aktif, menarik, dan menyenangkan serta mendorong peserta didik untuk terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran. Penerapan pembelajaran interaktif tersebut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 4: Pendidikan Berkualitas, melalui upaya menciptakan proses pembelajaran yang partisipatif dan mendukung pengembangan kompetensi peserta didik.

Kegiatan diawali dengan penyampaian materi Indeks Harga dan Inflasi sebagai penguatan pemahaman peserta didik sebelum mengikuti permainan. Selanjutnya, peserta didik dibagi menjadi enam kelompok. Pada setiap ronde, masing-masing kelompok mengirimkan satu perwakilan untuk maju ke depan kelas. Perwakilan kelompok secara bergantian melempar dadu yang menentukan poin soal yang akan diberikan. Setelah dadu dilempar, mahasiswa sebagai guru membacakan soal sesuai dengan poin yang diperoleh. Peserta didik kemudian berlomba menjawab soal dengan cepat dan tepat. Peserta didik yang berhasil menjawab mendapatkan stiker yang dikumpulkan sebagai perolehan kelompok. Permainan dilaksanakan dalam enam ronde dengan dua putaran sehingga terdapat dua belas kesempatan bagi peserta didik untuk menjawab secara langsung. Meskipun permainan dilakukan secara berkelompok, penilaian tetap bersifat individu. Peserta didik yang berhasil menjawab soal juga memperoleh nilai tambahan sebagai bentuk apresiasi atas pemahaman dan keaktifannya dalam pembelajaran.

Pelaksanaan permainan memperoleh respons yang positif dan sangat antusias dari peserta didik dalam mengikuti setiap ronde dan menunjukkan semangat kompetitif untuk memperoleh stiker sebanyak-banyaknya bagi kelompok masing-masing. Suasana kelas menjadi lebih aktif karena peserta didik tidak hanya menyimak materi, tetapi juga berusaha memahami pertanyaan dan memberikan jawaban dengan cepat. Dari enam kelompok yang mengikuti permainan, satu kelompok berhasil mengumpulkan lima stiker dan menjadi kelompok pemenang yang memperoleh reward. Kegiatan ini memberikan ruang bagi peserta didik untuk melatih pemahaman konsep, kecepatan berpikir, keberanian dalam menjawab pertanyaan, serta kerja sama dalam kelompok. Bagi sekolah, kegiatan ini dapat menjadi salah satu referensi alternatif dalam penerapan pembelajaran Ekonomi yang interaktif dan partisipatif, khususnya dalam mengemas materi pembelajaran melalui aktivitas permainan yang tetap berorientasi pada tujuan pembelajaran. Dengan demikian, kegiatan turut mendukung SDGs 4 melalui pengembangan pengalaman belajar yang aktif sekaligus memberikan kontribusi berupa alternatif praktik pembelajaran bagi lingkungan sekolah.

Melalui kegiatan permainan interaktif berbasis dadu, pembelajaran Ekonomi diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi peserta didik. Kegiatan ini juga menjadi pengalaman bagi mahasiswa praktik kependidikan dalam menerapkan metode pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan materi yang diajarkan. Penggunaan permainan edukatif diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai salah satu alternatif pembelajaran yang mampu meningkatkan keaktifan peserta didik serta mendukung terciptanya layanan pendidikan yang berkualitas sesuai dengan tujuan SDGs 4. (rfq)

WSBK 17 Hadirkan Direktur Utama KAI Services

Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bekerjasama dengan FEB UNY menggelar Workshop Series Bimbingan Karier (WSBK) #17 bertajuk “Peluang dan Strategi Menembus Karir di Perusahaan BUMN”. Kegiatan yang dipandu oleh Dr. Agatha Saputri, M.Pd. selaku Kepala Divisi UUIK dan Humas FEB UNY ini berlangsung sukses dan mendapat antusiasme tinggi dari para mahasiswa. Terbukti, jumlah peserta melesat hingga mencapai 1.352 orang, melampaui target awal penyelenggaraan yang dipatok sebanyak 1.200 peserta.

Dalam sambutan pembukaannya, Sekretaris Direktur AKA Prof. Dr. Iis Prasetyo, M.M., yang mewakili Direktur Kemahasiswaan dan Alumni UNY, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan program rutin kampus dalam menggembleng lulusan agar menjadi talenta unggul. Selain memberikan pembekalan soft skill dan poin Penghargaan Ekstrakurikuler Mahasiswa (PEM), pihak direktorat juga aktif menjalin kemitraan dengan berbagai instansi pemerintah daerah untuk memperluas akses beasiswa demi meringankan beban Uang Kuliah Tunggal (UKT). Senada dengan hal tersebut, Dekan FEB UNY, Dr. Sutirman, M.Pd., menyampaikan apresiasi tinggi dan berharap materi dari para alumni dapat menjadi bekal berharga bagi mahasiswa dalam memetakan strategi karier sejak dini.

Sesi pemaparan materi diawali oleh Direktur Utama PT Reska Multi Usaha (KAI Services) yang juga alumnus FEB UNY, Krisna Ariyanto, S.E., dengan topik "Dari UNY Menuju Ruang Kepemimpinan". Dalam paparannya, Krisna menekankan pentingnya pembentukan pola pikir kepemimpinan dan penerapan budaya kerja AKHLAK untuk mencetak talenta tangguh di BUMN. Ia membagikan pengalaman hidupnya serta memberikan tiga prinsip utama dalam meniti karier, yaitu Outwork (bekerja dengan standar lebih tinggi), Outlearn (belajar lebih cepat), dan Outlast (pantang menyerah), sembari mengingatkan bahwa titik awal seseorang tidak menentukan garis finish-nya.

Selanjutnya, narasumber kedua dari BRI Cabang Salatiga, Dwi Pristianto Purbo Nugroho, S.E., M.M., membeberkan panduan teknis mengenai strategi menghadapi tes wawancara dan pemeriksaan kesehatan (medical check-up). Head Collection Micro PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk KC Salatiga tersebut menggarisbawahi bahwa kesiapan pelamar harus mencakup pemahaman mendalam tentang profil perusahaan dan posisi yang dilamar. Selain itu, persiapan fisik dan mental sebelum menjalani tahapan seleksi juga menjadi faktor krusial agar peserta mampu menunjukkan performa terbaik di hadapan tim perekrut.

Tak sekadar menyampaikan materi teknis dan kepemimpinan, kedua narasumber juga memanfaatkan momen tersebut untuk memberikan suntikan motivasi kepada para peserta yang didominasi oleh Generasi Z. Mereka mengajak para mahasiswa untuk bersama-sama mendobrak stigma negatif yang sering melekat pada Gen Z, seperti anggapan mudah menyerah. Melalui pembekalan ini, mahasiswa didorong untuk bertransformasi menjadi pribadi yang berdaya tahan tinggi, adaptif, serta siap menghadapi realitas dan dinamika dunia kerja yang sesungguhnya.

Penyelenggaraan WSBK #17 ini sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya Poin 4 (Pendidikan Berkualitas) dan Poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Melalui pemberian bimbingan karier, peningkatan literasi dunia kerja, serta penguatan soft skill mahasiswa, UNY berkontribusi nyata dalam mempersiapkan generasi muda yang kompeten dan siap terserap di pasar kerja profesional. Upaya ini tidak hanya memperluas kesempatan kerja yang layak bagi lulusan perguruan tinggi, tetapi juga mendukung penguatan sumber daya manusia unggul guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan. (ist/fdh)

Agatha SaputriDwi Pristianto

Mahasiswa PK UNY Hadirkan Wajah Baru Perpustakaan SMK Abdi Negara Lewat Revitalisasi dan Poster Edukatif

Sebagai langkah nyata dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke–4 terkait Pendidikan Berkualitas (Quality Education), mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar aksi revitalisasi perpustakaan di SMK Abdi Negara, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Program kerja ini dilaksanakan secara berkesinambungan sejak pertengahan Juli hingga September 2026. Sasaran utama dari kegiatan ini adalah seluruh warga sekolah, terutama para siswa yang membutuhkan sarana literasi yang kondusif dan terstruktur guna menunjang kegiatan belajar mengajar kejuruan.

Program ini dirancang untuk mengembalikan fungsi perpustakaan sebagai pusat sarana belajar yang bersih, teratur, dan kaya akan informasi edukatif. Rangkaian aksi diawali dengan pembenahan area fisik, mencakup pembersihan ruang baca, penyapuan, pengepelan, hingga pelapisan rak buku agar tampak lebih rapi, dan estetis. Setelah itu, mahasiswa PK mengelompokkan seluruh koleksi buku berdasarkan tingkatan kelas, program keahlian (Akuntansi dan Keuangan Lembaga, Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis, serta Pemasaran), serta kategori mata pelajaran umum maupun kejuruan, hingga kategori buku bacaan dan novel fiksi/non–fiksi. Guna memperindah suasana sekaligus menghadirkan edukasi visual, mahasiswa PK mendesain dan menempelkan berbagai poster edukatif, seperti imbauan budaya membaca, tata tertib perpustakaan, dan petunjuk denah rak buku. Mahasiswa PK juga memperbarui sistem sirkulasi dengan mencetak dokumen “Daftar Peminjaman Buku Perpustakaan TA 2026/2027”. Seluruh proses pembenahan ini berjalan atas koordinasi erat antara mahasiswa PK dan koordinator pengelola perpustakaan SMK Abdi Negara Muntilan.

Revitalisasi ini membawa perubahan positif yang bermakna bagi kenyamanan dan kemudahan siswa dalam mengakses bahan bacaan. Penataan koleksi yang sistematis, baik untuk buku pelajaran maupun koleksi novel dan buku bacaan umum, serta kehadiran poster–poster edukatif membantu siswa menemukan referensi belajar dan hiburan literasi dengan cepat sekaligus memicu kesadaran untuk menjaga ketertiban ruang baca. Penyediaan format pencatatan peminjaman yang baru pun turut mewujudkan tertib administrasi perpustakaan. Langkah ini secara langsung mendukung Target SDGs 4 dalam menghadirkan fasilitas pendidikan yang ramah, aman, inklusif, dan efektif bagi seluruh peserta didik.

Dengan hadirnya suasana baru di perpustakaan SMK Abdi Negara Muntilan, minat baca dan budaya literasi para siswa diharapkan dapat makin meningkat. Pihak sekolah juga diharapkan dapat merawat serta melanjutkan sistem tata kelola dan fasilitas edukatif yang telah diperbarui ini agar manfaatnya terus dirasakan oleh generasi siswa mendatang. (ans)

Pintu Pertama Pelayanan Sekolah: Implementasi Piket Lobi sebagai Bentuk Kelembagaan yang Tertib dan Akuntabel Mendukung SDGs 16 di SMA Negeri 1 Jetis

Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melaksanakan kegiatan piket lobi di SMA Negeri 1 Jetis sebagai bentuk pelayanan administratif harian bagi warga sekolah. Kegiatan ini berlangsung mulai Selasa, 21 Juli 2026 hingga Jumat, 11 September 2026 yang dilaksanakan secara bergantian antar mahasiswa PK. Salah satu mahasiswa yang bertugas adalah Mariska Febrianasari dari Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Sasaran dari kegiatan ini adalah seluruh siswa, guru, orang tua, serta tamu dari luar sekolah yang memerlukan pelayanan di area lobi. Sebagai pintu pertama pelayanan sekolah, kegiatan piket lobi ini berkontribusi langsung dalam mendukung pencapaian tata kelola administrasi yang tertib dan akuntabel.

Kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan sistem pelayanan sekolah yang tertib, terdokumentasi, dan mudah dipertanggungjawabkan. Kegiatan piket dilaksanakan secara bergantian antar mahasiswa PK, dengan pembagian jam sesuai kebutuhan sekolah yaitu mulai pukul 07.00-15.00 WIB. Mariska biasanya mendapat jadwal piket pagi pukul 07.00-09.00 atau piket siang pukul 12.00-14.00 WIB. Pada sesi pagi, mahasiswa piket melakukan pencatatan dan menangani siswa yang terlambat masuk sekolah akibat berbagai alasan seperti terlambat bangun, terjebak kemacetan lalu lintas, maupun keperluan mendesak seperti mencetak tugas sebelum masuk kelas. Selain itu, mahasiswa piket juga bertugas menerima surat izin yang dititipkan langsung oleh orang tua siswa agar disampaikan ke kelas sebagai bagian dari komunikasi antara pihak keluarga dan sekolah. Pada sesi siang, mahasiswa piket menerima tamu dari luar sekolah, seperti pihak kepolisian dan pegawai Bank Mandiri, mengarahkan tamu yang mencari ruang aula, waka, atau ingin bertemu guru, serta melayani siswa yang izin meninggalkan pembelajaran karena sakit atau keperluan mencetak tugas maupun latihan lomba. Siswa yang sakit hanya diperbolehkan pulang setelah mendapatkan surat keterangan dari Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Seluruh proses tersebut melibatkan mahasiswa PK, guru piket, guru mata pelajaran, serta petugas UKS, dan diwajibkan melalui mekanisme surat resmi yang dicatat dan diberi cap oleh petugas lobi.   

Melalui pelaksanaan piket lobi, mahasiswa PK belajar menerapkan prinsip pelayanan publik yang tertib, transparan, dan akuntabel di lingkungan sekolah. Kegiatan ini mencakup pencatatan keterlambatan siswa, penerbitan surat izin, serta penerimaan dan pengarahan tamu sesuai prosedur yang berlaku. Pelaksanaan piket membantu menciptakan administrasi yang lebih rapi, terorganisir, dan mudah ditelurusi kembali sekaligus mengurangi potensi kesalahpahaman antara pihak sekolah, siswa, dan orang tua. Selain itu, pelayanan yang dilakukan secara teratur turut menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi warga sekolah maupun tamu yang berkunjung. Bagi mahasiswa PK, kegiatan ini memberikan pengalaman secara langsung dalam menerapkan sikap disiplin, tanggung jawab, dan profesionalitas dalam memberikan pelayanan. Pelaksanaan kegiatan tersebut sejalan dengan SDGs 16 yang mendorong terciptanya kelembagaan yang efektif, inklusif, transparan, dan akuntabel termasuk dalam lingkungan pendidikan.

Ke depannya, diharapkan sistem piket lobi ini dapat terus dijalankan secara konsisten oleh mahasiswa PK selanjutnya sebagai bagian dari budaya pelayanan sekolah yang tertib dan berkelanjutan. Mahasiswa PK juga berharap pengalaman ini dapat ditindaklanjuti dengan evaluasi berkala terhadap alur pelayanan lobi misalnya melalui penyusunan buku panduan piket, digitalisasi pencatatan surat izin dan kunjungan tamu, serta sosialisasi prosedur pelayanan kepada seluruh warga sekolah agar semakin dipahami dan dipatuhi bersama. Dengan demikian, pelayanan kepada siswa, guru, orang tua, dan tamu sekolah dapat terus ditingkatkan kualitasnya sekaligus memperkuat komitmen sekolah dalam mewujudkan kelembagaan pendidikan yang tertib, akuntabel, dan berkontribusi nyata terhadap pencapaian SDGs 16 di masa mendatang. (mrs)

Wujudkan Pembelajaran Inklusif melalui Model STAD dan Peer Teaching Berbasis SDGs 4 di SMK Negeri 1 Jogonalan

Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dari Program Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Yola Indri Rahayu, melaksanakan kegiatan pembelajaran Akuntansi Keuangan pada Kamis (10/09/26) lalu di SMK Negeri 1 Jogonalan, Klaten. Kegiatan ini menyasar siswa kelas XI Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL) dengan menerapkan model pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) yang dipadukan pendekatan peer teaching pada materi Piutang Wesel. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa PK dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Berkualitas.

Kegiatan ini bertujuan menciptakan proses pembelajaran yang lebih aktif, kolaboratif, serta memberikan kesempatan belajar yang merata bagi seluruh siswa. Pembelajaran diawali dengan penyampaian materi mengenai pengertian, karakteristik, dan jenis-jenis piutang wesel, dilengkapi contoh perhitungan dan pencatatan transaksi. Siswa selanjutnya dibagi ke dalam beberapa kelompok belajar secara heterogen, dengan setiap kelompok terdiri atas siswa berkemampuan berbeda. Pada tahap diskusi kelompok, siswa mengerjakan latihan soal secara bersama, di mana siswa yang telah memahami materi membantu menjelaskan langkah penyelesaian kepada teman yang masih kesulitan. Setelah diskusi kelompok selesai, setiap siswa mengerjakan kuis individu untuk mengukur pemahaman masing-masing terhadap materi yang telah dipelajari.

Penerapan model STAD dan peer teaching ini memberikan dampak positif bagi peserta didik. Siswa yang berperan sebagai peer teacher memperkuat pemahamannya sendiri saat menjelaskan materi kepada teman, sementara siswa yang mengalami kesulitan memperoleh penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami dari teman sebaya. Suasana belajar menjadi lebih aktif dan interaktif karena seluruh siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Selain manfaat akademik, kegiatan ini turut melatih keterampilan kerja sama tim, komunikasi, dan tanggung jawab siswa dalam kelompok, yang menjadi bekal penting bagi siswa SMK dalam menghadapi dunia kerja. Kontribusi kegiatan ini terhadap SDGs 4 tampak dari terciptanya pemerataan kesempatan belajar bagi siswa dengan kemampuan beragam serta peningkatan kualitas proses pembelajaran secara menyeluruh.

Melalui kegiatan ini, diharapkan model pembelajaran kolaboratif seperti STAD dan peer teaching dapat terus diterapkan dan dikembangkan di SMK Negeri 1 Jogonalan, tidak hanya pada mata pelajaran Akuntansi Keuangan, tetapi juga pada mata pelajaran lain yang membutuhkan pemahaman konsep secara mendalam. Kegiatan ini diharapkan menjadi kontribusi berkelanjutan mahasiswa PK UNY dalam mendukung terwujudnya pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan berpusat pada siswa, sejalan dengan tujuan SDGs 4. (yla)

 

Dari Kelompok Ahli ke Kelompok Sahabat: Strategi Tutor Sebaya Wujudkan Pembelajaran Akuntansi Bermakna SMK Negeri 1 Jogonalan

Sebagian bagian dari pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK), mahasiswa program studi S1 Pendidikan Akuntansi Febita Nur Eka Safitri menerapkan model pembelajaran tutor teman sebaya pada mata pelajaran Dasar-Dasar Keahlian Akuntansi dengan materi Proses Bisnis Perusahaan Akuntansi. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis (10/09/26) lalu bertempat di ruang kelas X AKL 3 SMKN 1 Jogonalan, dengan sasaran 36 peserta didik kelas tersebut. Kegiatan ini sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas (Quality Education), karena berupaya meningkatkan kualitas proses pembelajaran melalui pendekatan kolaboratif yang berpusat pada peserta didik.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi Proses Bisnis Perusahaan Akuntansi melalui interaksi aktif antarsiswa, sekaligus melatih kemampuan komunikasi dan kepemimpinan siswa dalam menjelaskan materi kepada teman sebayanya. Proses pelaksanaan diawali dengan pembentukan kelompok ahli, di mana siswa 36 siswa kelas X AKL 3 dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk mendiskusikan sub-topik tertentu dari materi proses bisnis perusahaan akuntansi secara mendalam bersama anggota kelompoknya. Setelah diskusi kelompok ahli selesai, setiap anggota kembali ke kelompok asal untuk berperan sebagai fasilitator yang memantau jalannya diskusi, memberikan arahan, serta memastikan setiap peserta didik memahami materi secara menyeluruh.

Hasil dari pelaksanaan kegiatan ini menunjukkan peningkatan partisipasi aktif peserta didik dalam proses pembelajaran. siswa terlihat lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat dan menjelaskan materi kepada teman-temannya, serta lebih memahami konsep proses bisnis perusahaan akuntansi dibandingkan dengan metode ceramah konvensional. Model tutor teman sebaya ini juga melatih keterampilan sosial, tanggung jawab, dan kerja sama antarsiswa, yang secara langsung berkontribusi terhadap pencapaian SDGs poin ke-4 dalam hal pemerataan akses terhadap pembelajaran berkualitas serta pengembangan keterampilan yang relevan bagi masa depan peserta didik. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung pembentukan karakter kolaboratif siswa yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja di bidang akuntansi.

Melalui kegiatan ini, diharapkan model pembelajaran tutor teman sebaya dapat terus diterapkan dan dikembangkan secara berkelanjutan, tidak hanya pada mata pelajaran Dasar-Dasar Keahlian Akuntansi, tetapi juga pada mata pelajaran lain yang memerlukan pemahaman konsep secara mendalam. Pihak sekolah dan guru pamong diharapkan dapat mendukung penerapan metode ini sebagai salah satu strategi inovatif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. (fne)

Digitalisasi Presensi dan Ulangan Harian Dukung Penerapan SDG 12 dalam Praktik Kependidikan

Muhammad Rizqi Bagas Satrio, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melaksanakan program digitalisasi administrasi dan evaluasi pembelajaran di SMK Negeri 2 Purworejo melalui penerapan sistem presensi paperless dan ulangan harian berbasis website, Kamis (10/09/26) lalu. Program ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pelaksanaan kegiatan pembelajaran sekaligus mengurangi penggunaan kertas di lingkungan sekolah. Kegiatan tersebut mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, melalui pemanfaatan teknologi digital sebagai alternatif dalam mengurangi penggunaan sumber daya berupa kertas.

Program digitalisasi ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk menciptakan proses administrasi pembelajaran yang lebih efisien dan praktis. Sistem presensi dikembangkan secara mandiri menggunakan Google Apps Script dan dapat diakses oleh siswa melalui website dengan menggunakan NIS dan kata sandi masing-masing. Presensi dilakukan dalam dua tahap, yaitu presensi awal dan presensi akhir pembelajaran. Sistem tersebut dilengkapi dengan pencatatan waktu secara real-time, sehingga waktu kehadiran siswa dapat diketahui secara lebih akurat. Presensi akhir diterapkan untuk mengetahui keberadaan siswa hingga akhir kegiatan pembelajaran, terutama dalam kondisi ketika terdapat siswa yang meninggalkan kelas di tengah pembelajaran karena keperluan tertentu. Sementara itu, sistem ulangan harian juga dilaksanakan secara digital dengan dilengkapi fitur waktu pengerjaan secara real-time.

Dalam pelaksanaannya, siswa menggunakan sistem digital tersebut secara langsung dalam kegiatan pembelajaran. Pada ulangan harian, siswa dapat melihat waktu yang tersisa selama mengerjakan soal, sedangkan sistem dirancang agar soal tidak dapat disalin secara langsung sehingga dapat membantu meminimalkan potensi kecurangan dalam pelaksanaan evaluasi. Penerapan program ini memberikan alternatif terhadap penggunaan lembar presensi, soal, dan lembar jawaban berbahan kertas sekaligus membantu mendokumentasikan data pembelajaran secara digital. Program ini memiliki keterkaitan dengan SDG 12 melalui upaya mengurangi penggunaan kertas dan mendorong penggunaan sumber daya secara lebih bertanggung jawab. Program ini juga mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran serta SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan  inovasi  digital untuk menjawab kebutuhan administrasi dan evaluasi pembelajaran. “Keren kak, membuat kita beradaptasi di dunia kerja dan perkuliahan di era digital,” ujar salah seorang siswa.

Penerapan sistem presensi paperless dan ulangan harian berbasis website menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa PK UNY dalam menghadirkan inovasi sederhana yang dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Ke depan, pemanfaatan teknologi digital dalam administrasi dan pembelajaran diharapkan dapat terus dikembangkan agar semakin efisien, adaptif, dan ramah lingkungan. Program ini juga menjadi bagian dari komitmen UNY dalam mendukung pencapaian SDGs melalui kegiatan pendidikan dan praktik kependidikan yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekolah dan masyarakat. (mrb)

Wujudkan Kantor Paperless, Intip Aksi Siswa Kelas 11 MPLB Kuasai E-Arsip Lewat Cloud Computing

Guna merespons tantangan era digitalisasi sekaligus mendukung perwujudan Sustainable Development Goals (SDGs) Poin 4 (Quality Education) dan Poin 12 (Responsible Consumption and Production), sebuah kegiatan pembelajaran inovatif bertajuk "Wujudkan Kantor Paperless, Intip Aksi Siswa Kelas 11 MPLB Kuasai E-Arsip Lewat Cloud Computing" sukses diselenggarakan pada Rabu (09/09/26) lalu. Kegiatan yang berlangsung dengan penuh antusiasme di Laboratorium Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB) SMK Muhammadiyah 2 Bantul ini, diinisiasi dan dipandu langsung oleh Arinda Rahmawati, salah satu mahasiswa Praktik Kependidikan (PK). Program ini menyasar seluruh siswa kelas 11 MPLB sebagai langkah strategis untuk mentransformasi kebiasaan kearsipan konvensional menuju format digital yang sejalan dengan tuntutan perkantoran masa depan.

Pembelajaran praktik ini dirancang khusus untuk membekali siswa dengan kompetensi teknis yang selaras dengan kebutuhan industri saat ini, sembari menanamkan kesadaran akan budaya kerja ramah lingkungan. Dalam pelaksanaannya, Arinda Rahmawati membimbing para siswa langkah demi langkah dalam membedah teknologi cloud computing melalui pemanfaatan fitur Google Drive sebagai ruang penyimpanan e-arsip. Para siswa diajak melakukan simulasi nyata operasional kantor modern, mulai dari proses alih media dokumen fisik menjadi digital, klasifikasi, penyusunan hierarki folder yang sistematis, hingga pengaturan hak akses keamanan data (sharing permission). Tidak hanya itu, mereka juga mempraktikkan teknik penemuan kembali arsip (information retrieval) yang membuktikan bahwa pencarian dokumen dapat dilakukan secara instan hanya dalam hitungan detik.

Hasil dari kegiatan ini menunjukkan progres yang sangat impresif, di mana seluruh siswa mampu menyusun dan mengoperasikan sistem kearsipan berbasis cloud secara mandiri. Bagi para siswa, pengalaman praktis ini efektif memangkas kesenjangan antara teori di kelas dengan realitas dunia kerja, sehingga kesiapan dan daya saing mereka sebagai calon tenaga administrasi profesional semakin terasah. Hal ini dirasakan langsung oleh para peserta, seperti yang diungkapkan oleh Mischa, "Dulu saya hanya memanfaatkan drive sebagai tempat penyimpanan tapi setelah praktik ini, saya jadi tahu cara menyusun dan menemukan dokumen di drive dengan cepat." Senada dengan hal tersebut, siswa lainnya bernama Bela menuturkan, "Praktik ini benar-benar membuka wawasan. Saya jadi lebih siap dan percaya diri untuk menjalankan PKL nanti karena sudah terbiasa mengelola dokumen." Di sisi lain, terobosan ini juga memberikan kontribusi nyata pada pencapaian SDG 4 dengan menghadirkan pendidikan vokasi yang bermutu, dan adaptif terhadap teknologi. Pada saat yang bersamaan, aksi nyata paperless office ini menjadi wujud implementasi SDG 12 yang sangat efektif untuk menekan konsumsi kertas, meminimalisir limbah dokumen, serta menghemat ruang fisik dan biaya operasional.

Melalui keberhasilan program simulasi ini, diharapkan para siswa tidak hanya sekadar cakap mengoperasikan teknologi cloud computing, tetapi juga kelak mampu membawa budaya kerja yang efisien dan peduli kelestarian lingkungan saat terjun ke dunia industri. Sebagai tindak lanjut yang berkelanjutan, SMK Muhammadiyah 2 Bantul menyambut baik inovasi ini dan berkomitmen untuk terus mempertahankan serta mengembangkan modul praktikum e-arsip yang lebih baik. Dengan demikian, ekosistem pembelajaran yang modern dan hijau ini dapat terus diwariskan untuk mencetak generasi lulusan MPLB yang unggul, tanggap teknologi, dan berwawasan keberlanjutan. (ard)

Pengaplikasian Paperless Office dalam Pembelajaran MPLB di SMK N 2 Purworejo Dorong Pembelajaran Ramah Lingkungan

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Yogyakarta, Daffa Zain, melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas 11 MPLB SMKN 2 Purworejo dengan konsep Paperless Office secara penuh guna mendukung SDGs 12, Rabu (09/09/26) lalu.

Penerapan paperless office ini menghapus penggunaan kertas dalam seluruh kegiatan pembelajaran, mulai dari penyusunan bahan ajar, penyampaian materi, penugasan, asesmen hingga evaluasi pembelajaran. Seluruh rangkaian pembelajaran dialihkan menggunakan platform digital seperti Canva untuk penyampaian materi, Microsoft Office dan Google Drive untuk penugasan, serta Google Form untuk refleksi pembelajaran. Seluruh platform digital yang disebutkan diakses dengan memanfaatkan fasilitas yang disediakan sekolah maupun ponsel pintar pribadi milik murid.

Penerapan paperless office ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi konsumsi kertas di lingkungan sekolah, namun juga memberikan pengalaman nyata bagi murid kelas XI MPLB SMKN 2 Purworejo. Sebagai calon tenaga administrasi dan layanan bisnis pada zaman digital, para murid secara langsung berlatih mengenai surat dan arsip digital, serta penyimpanan berbasis awan.

Meski terdapat beberapa kendala seperti performa beberapa PC yang kurang baik dan koneksi yang tidak selalu stabil, murid tetap relatif aktif, utamanya aktif bertanya saat mereka menemukan fitur baru pada software yang belum mereka pahami. Murid menyambut baik konsep paperless office ini, sebab mengurangi pengeluaran mereka untuk membeli kertas dan mengurangi effort untuk tulis tangan. Beberapa murid menyampaikan:

“Kalau paperless lebih enak pak, karena lebih simple, lebih hemat, dan praktis juga”

-    Murid MPLB SMKN 2 Purworejo

“Kalau pakai kertas lebih lama pak, boros uang. Kemudian beberapa anak tulisannya kurang bagus, susah dibaca dan lebih lama juga”

-    Murid MPLB SMKN 2 Purworejo

Dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan murid-murid kelas 11 MPLB SMKN 2 Purworejo dapat mengurangi konsumsi kertas tanpa mengurangi kualitas pembelajaran yang ada. Dan juga mencapai target SDGs 12 mengenai konsumsi yang bertanggung jawab.

Kolaborasi Wayang Kulit, Inklusivitas, dan Paperless Practice Melalui Aleadyota Dukung Sustainable Learning Commitment dalam Pembelajaran Akuntansi

Continuum Learning That Echoes Beyond the Classroom

Pembelajaran kadang terlalu cepat dianggap selesai hanya karena bel sudah berbunyi. Padahal, ada kemungkinan bahwa sesuatu yang lebih penting justru baru dimulai ketika murid membawa pulang cara berpikir, keberanian, atau kebiasaan yang mereka temukan selama belajar. Gagasan itulah yang perlahan tumbuh dalam perjalanan Praktik Kependidikan (PK) UNY 2026 di SMK Negeri 7 Yogyakarta. Amar Taqwim, biasa disapa Amar, mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Yogyakarta, menjalani PK sejak 20 Juli hingga 25 September 2026. Dalam perjalanan tersebut, mahasiswa terlibat dalam pembelajaran di X AK 2 pada Dasar-dasar Akuntansi dan Keuangan Lembaga, Elemen Ekonomi Bisnis dan Administrasi Umum, serta XI AK 2 pada Kreativitas, Inovasi, dan Kewirausahaan, Elemen Kegiatan Produksi. Dua kelas dengan karakteristik dan kebutuhan yang berbeda ini perlahan memperlihatkan bahwa pembelajaran akuntansi ternyata tidak hanya berbicara tentang angka, tetapi juga tentang bagaimana murid diberi ruang untuk belajar.

Di awal praktik mengajar, keterlibatan murid masih terasa cukup rendah, baik secara behavioral, kognitif, maupun emosional. Hanya satu atau dua murid yang aktif bertanya, sementara sebagian lainnya sebenarnya sudah mengetahui jawaban, tetapi belum cukup percaya diri untuk menyampaikan pendapat atau gagasan. Dari pengalaman tersebut, mahasiswa mulai melihat bahwa pembelajaran berkualitas tidak cukup hanya dengan menyampaikan materi dan memastikan materi selesai dibahas. Murid perlu diberi ruang untuk mengalami pembelajaran itu sendiri, termasuk ruang untuk salah, mencoba, bertanya, dan menemukan cara mereka sendiri untuk memahami sesuatu.

Penerapan Problem Based Learning maupun Project Based Learning, diskusi, pertanyaan pemantik, Lembar Kerja Murid, serta aktivitas yang membuat murid terlibat langsung perlahan mengubah suasana kelas. Semakin banyak murid dilibatkan, semakin terbuka pula ruang bagi mereka untuk memahami pembelajaran. Dari sana, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas (Quality Education) tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang jauh dari ruang kelas. Ia hadir dalam hal-hal sederhana ketika murid tidak hanya mendengarkan, tetapi mulai berpikir, bertanya, berdiskusi, mencoba, dan berani menyampaikan gagasan.

Namun, pendidikan berkualitas rasanya akan menjadi kurang lengkap jika belum mampu menjangkau murid dengan kebutuhan yang berbeda. Pengalaman berhadapan dengan murid yang membutuhkan dukungan belajar lebih menjadi salah satu titik yang mengubah cara pandang mahasiswa sebagai calon guru. Dalam pembelajaran akuntansi, materi seperti Persamaan Dasar Akuntansi tetaplah Aset = Liabilitas + Ekuitas. Materi tersebut tidak selalu memiliki versi yang lebih sederhana. Dari sana mahasiswa mulai memahami bahwa inklusivitas tidak selalu berarti mengubah materinya, tetapi dapat berarti mengubah cara mengajarnya agar setiap murid tetap memiliki kesempatan untuk memahami materi tanpa merasa sedang dibedakan.

Perbedaan kebutuhan belajar juga membuat mahasiswa semakin memahami bahwa kesetaraan dan keadilan tidak selalu berarti memperlakukan semua murid dengan cara yang sama. Memperlakukan semua murid secara sama belum tentu membuat semua murid mendapatkan kesempatan belajar yang sama. Ada murid yang mungkin hanya membutuhkan pertanyaan pemantik, ada yang lebih nyaman menyampaikan jawaban melalui aktivitas kelompok, dan ada pula yang membutuhkan pendekatan yang lebih personal. Hal-hal tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung SDG 4.5 tentang kesetaraan akses pendidikan bagi kelompok rentan (Equal Access to Education for Vulnerable Groups), bukan dengan memberi label atau perlakuan yang membedakan, tetapi dengan memastikan bahwa perbedaan tidak menjadi alasan bagi seseorang untuk kehilangan kesempatan belajar.

Menariknya, upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih hidup kemudian membawa wayang kulit ke ruang kelas akuntansi. Bagi mahasiswa, pelestarian budaya tidak harus selalu dimulai dengan menjadi dalang atau penonton pertunjukan wayang. Minimal, generasi sekarang perlu mengenalinya terlebih dahulu. Wayang kulit memiliki banyak tokoh, karakter, dan properti yang justru sangat cocok digunakan dalam materi yang memiliki banyak pihak, persoalan, dan alur cerita, seperti perilaku konsumen dan produsen, model pelaku ekonomi, hingga berbagai konsep dalam akuntansi.

Ketika wayang pertama kali hadir di kelas, murid jelas kaget. Ada rasa penasaran terhadap tokoh-tokohnya, bahkan satu jam pelajaran pernah digunakan hanya untuk membangun orientasi masalah melalui cerita wayang dan murid tetap antusias mengikutinya. Setelahnya, muncul pertanyaan sederhana yang justru terasa berarti, “Pak Amar besok masih pake wayang kan?”. Pertanyaan tersebut mungkin terdengar kecil, tetapi bagi mahasiswa, ia menunjukkan bahwa pengalaman belajar tidak berhenti ketika materi selesai dibahas. Murid bahkan diminta memegang wayang ketika menjawab, seolah-olah tokoh tersebut yang sedang menyampaikan jawabannya. Salah satu murid yang sebelumnya terlihat kurang terlibat mulai menunjukkan antusiasme yang jauh lebih terbuka. Bagi mahasiswa, momen kecil seperti ini cukup untuk menunjukkan bahwa wayang bukan sekadar pemanis kelas. Ia menjadi bagian dari proses murid membangun konsep sekaligus ruang kecil untuk mengenalkan kembali warisan budaya kepada generasi yang mungkin sebelumnya tidak terlalu mengenalnya. Pengalaman tersebut mempertemukan pembelajaran dengan SDG 11.4 tentang perlindungan dan pelestarian warisan budaya dan alam dunia (Protect and Safeguard the World’s Cultural and Natural Heritage).

Di titik ini, wayang kulit, inklusivitas, dan pembelajaran berkualitas mulai terlihat bukan sebagai hal yang berdiri sendiri. Ketiganya bertemu pada satu pertanyaan yang lebih sederhana, tetapi justru lebih sulit dijawab. Setelah sebuah pembelajaran selesai, apa yang sebenarnya ingin ditinggalkan? Bukan hanya nilai, bukan hanya jawaban yang benar, dan bukan pula sekadar materi yang berhasil disampaikan. Ada nilai, kebiasaan, dan cara pandang yang diharapkan memiliki kesempatan untuk terus dibawa oleh murid. Kesadaran tersebut kemudian bertemu dengan cara mahasiswa memandang penggunaan sumber daya dalam pembelajaran.

Hal serupa terjadi ketika mahasiswa mencoba meminimalkan penggunaan kertas. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi, presensi, LKM, dan lembar nilai dibuat berbasis digital. Bukan berarti pembelajaran benar-benar zero paper. Murid tetap memiliki hak untuk membawa buku dan mencatat ketika diperlukan. Yang diminimalkan adalah penggunaan kertas pada bagian yang berada dalam kendali mahasiswa. Praktik tersebut bukan sekadar berpindah dari kertas ke layar, tetapi juga menjadi latihan untuk bertanya apakah sesuatu benar-benar perlu digunakan atau hanya digunakan karena sudah terbiasa. Selain lebih praktis dalam pengerjaan, pengumpulan, dan penilaian, ruang digital juga memberi kesempatan bagi murid untuk lebih kreatif dalam menyelesaikan tugas. Gagasan tersebut menjadi bagian dari SDG 12.5 tentang pengurangan timbulan sampah melalui pencegahan, pengurangan, daur ulang, dan penggunaan kembali (Reduce Waste Generation).

Dari berbagai pengalaman tersebut, mahasiswa mulai melihat bahwa keberlanjutan dalam pembelajaran bukan hanya tentang membuat satu kegiatan terlihat baik pada saat dilaksanakan. Ada komitmen yang lebih panjang untuk menghadirkan pembelajaran yang berkualitas, memberi ruang bagi perbedaan, mengenalkan kembali budaya, serta menggunakan sumber daya secara lebih bertanggung jawab. Praktik-praktik tersebut mungkin sederhana dan belum tentu semuanya akan terus dilakukan setelah mahasiswa meninggalkan sekolah. Namun, justru di situlah makna Sustainable Learning Commitment terasa. Yang diharapkan berlanjut bukan selalu bentuk kegiatannya, melainkan nilai yang ditinggalkan dan kemungkinan bagi orang lain untuk meneruskannya dalam bentuk yang mereka anggap paling sesuai.

Dari berbagai pengalaman tersebut lahirlah ALEADYOTA sebagai gagasan yang merangkum harapan tersebut. ALEADYOTA menggambarkan cahaya kecil yang lembut dan sederhana, bukan cahaya besar yang menerangi semuanya, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa masih ada terang di tengah ruang yang luas. Begitu pula praktik kependidikan ini. Ia mungkin sederhana, mungkin juga tidak semuanya akan terus berlangsung setelah mahasiswa pergi. Namun, pembelajaran tidak selalu harus meninggalkan sesuatu yang besar. Barangkali cukup meninggalkan keberanian untuk bertanya, kesadaran untuk menjaga budaya, kebiasaan untuk menggunakan sesuatu secara bijak, dan keyakinan bahwa setiap murid berhak mendapatkan ruang untuk belajar.

Continuum Learning That Echoes Beyond the Classroom akhirnya bukan sekadar slogan. Ia menjadi harapan bahwa pembelajaran dapat memiliki kehidupan setelah jam pelajaran berakhir. Wayang mungkin terus menjadi sesuatu yang ingin dikenal. Keberanian untuk berbicara mungkin tumbuh pada pembelajaran berikutnya. Cara memandang perbedaan mungkin terbawa ke ruang lain. Kebiasaan menggunakan sesuatu seperlunya mungkin menjadi pilihan yang terus dilakukan. Tidak ada yang dapat memastikan sejauh mana semuanya akan bertahan, tetapi pendidikan memang tidak selalu bekerja dengan kepastian seperti itu.

Barangkali pendidikan memang tidak harus mengubah dunia sekaligus. Cukup meninggalkan sesuatu yang membuat orang lain ingin melanjutkannya, lalu membiarkan apa yang dimulai di ruang kelas menemukan jalannya untuk terus hidup di luar sana. (amm)

Pages