SDGs #4 Pendidikan

Belajar Ekonomi Jadi Lebih Menarik, Mahasiswa PK UNY Ajak Siswa SMA Negeri 4 Yogyakarta Pahami Arus Ekonomi lewat Diorama

Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi S1 Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta melaksanakan kegiatan pembelajaran Ekonomi bersama peserta didik kelas X E7 SMA Negeri 4 Yogyakarta pada Senin, 21 September 2026. Kegiatan dilaksanakan melalui pembelajaran berbasis proyek dengan membuat diorama arus kegiatan ekonomi empat sektor pada materi Pelaku Kegiatan Ekonomi. Peserta didik menjadi sasaran utama kegiatan dengan terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran dan pembuatan karya. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk praktik pembelajaran yang mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, melalui pembelajaran yang aktif, kreatif, kolaboratif, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi peserta didik.

Kegiatan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai peran dan hubungan antara rumah tangga konsumen, rumah tangga produsen, pemerintah, dan sektor luar negeri dalam kegiatan ekonomi. Proses pembelajaran dilakukan secara berkelompok dengan mengarahkan peserta didik untuk menyusun diorama yang menggambarkan arus kegiatan ekonomi empat sektor, meliputi arus barang dan jasa, faktor produksi, pendapatan, konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, ekspor, dan impor. Peserta didik berdiskusi, membagi tugas, menyiapkan bahan, menyusun komponen diorama, serta memberikan keterangan pada setiap bagian sesuai dengan konsep yang telah dipelajari. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa PK berperan sebagai fasilitator yang memberikan penjelasan, arahan, dan pendampingan selama proses pengerjaan. 

Pelaksanaan proyek menghasilkan karya diorama yang dapat digunakan sebagai media visual untuk memperjelas hubungan antarpelaku ekonomi. Selain menghasilkan produk pembelajaran, kegiatan ini mendorong peserta didik untuk bekerja sama, berkomunikasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, serta mengembangkan kreativitas dalam menyajikan konsep ekonomi. Pembelajaran berbasis proyek juga memberikan pengalaman belajar yang lebih aktif karena peserta didik tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi mengonstruksi pemahamannya melalui proses pembuatan produk. Hal tersebut mendukung pencapaian SDG 4, khususnya dalam pengembangan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mendukung pembelajaran yang bermakna.

Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta didik semakin mampu memahami konsep arus kegiatan ekonomi empat sektor secara utuh dan menerapkannya dalam menganalisis berbagai aktivitas ekonomi di lingkungan sekitar. Kegiatan serupa juga diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai alternatif pembelajaran Ekonomi yang kontekstual, kolaboratif, kreatif, dan berorientasi pada penguatan kompetensi peserta didik. Dengan demikian, pelaksanaan PK tidak hanya mendukung proses pembelajaran di sekolah, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas pendidikan melalui praktik pembelajaran yang mendukung pencapaian SDGs.

Penulis: Lida Jufrotun Nguyun

Belajar Memilih di Tengah Keterbatasan Sumber Daya, Siswa SMA Negeri 2 Klaten Didorong Terapkan Konsumsi Bijak Melalui Skala Prioritas

Pada tanggal 2 hingga 7 September 2026, siswa kelas X di SMA Negeri 2 Klaten melaksanakan kegitan pembelajaran aplikatif mengenai penyusunan skala prioritas. Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran ekonomi yang dirancang untuk menghubungkan konsep ekonomi dengan permasalahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Fokus utama kegiatan adalah melatih kemampuan siswa dalam mengambil keputusan ekonomi secara bijak di tengah keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Pembelajaran tersebut juga memiliki keterkaitan erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 12, yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, khususnya dalam membangun kesadaran untuk menggunakan sumber daya secara bijak dan sesuai kebutuhan.

Dalam proses pembelajarannya, siswa diajak untuk memahami konsep kelangkaan dan skala prioritas melalui simulasi pengambilan keputusan ekonomi secara langsung. Siswa diberikan sejumlah alokasi dana buatan yang terbatas serta berbagai pilihan kebutuhan dan keinginan yang harus dipertimbangkan secara berkelompok. Dalam simulasi tersebut, siswa tidak dapat membeli seluruh pilihan yang tersedia sehingga mereka harus menentukan barang atau kebutuhan yang dianggap paling penting. Siswa kemudian dibimbing untuk mempertimbangkan biaya peluang, tingkat kepentingan, kebutuhan dan keinginan, serta menyusun daftar prioritas berdasarkan kondisi yang dihadapi. “Awalnya bingung harus beli apa dulu karena uangnya terbatas. Tapi setelah belajar skala prioritas, aku jadi tahu mana yang benar-benar butuh dan mana yang cuma keinginan,” ungkap Hafiza, salah satu siswa kelas X-J.

Melalui kegiatan praktik tersebut, siswa tidak hanya memahami konsep skala prioritas secara teoritis, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam menerapkannya pada situasi yang menyerupai kehidupan sehari-hari. Simulasi membuat siswa belajar bahwa keterbatasan sumber daya menuntut seseorang untuk menentukan pilihan dan mempertimbangkan konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil. Setelah mengikuti kegiatan, siswa mampu menyusun perencanaan konsumsi yang lebih realistis dengan membedakan kebutuhan yang harus didahulukan dan keinginan yang dapat ditunda. Pengalaman tersebut diharapkan dapat membangun kesadaran siswa bahwa keputusan konsumsi yang sederhana sekalipun memiliki kaitan dengan penggunaan sumber daya secara bertanggung jawab. Dengan demikian, pembelajaran ekonomi tidak hanya berorientasi pada pemahaman materi, tetapi juga pada pembentukan perilaku ekonomi yang lebih bijak dan berkelanjutan.

Perubahan pemahaman dan sikap siswa tersebut turut mendapatkan respons positif dari pelaksana pembelajaran. “Metode simulasi ini sangat efektif karena anak-anak tidak hanya menghafal teori ekonomi, tetapi langsung belajar mempraktikkan cara belanja yang bijak. Ini modal penting bagi mereka agar tidak konsumtif,” ujar Andini, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FEB UNY yang sedang melaksanakan Praktik Kependidikan. Melalui pembelajaran berbasis pengalaman tersebut, siswa diharapkan mampu menerapkan keterampilan menyusun skala prioritas dalam mengelola uang saku dan menentukan kebutuhan sehari-hari secara bijak. Kebiasaan seperti membedakan kebutuhan dan keinginan, membuat daftar belanja, serta mempertimbangkan manfaat sebelum membeli diharapkan dapat membentuk pola konsumsi yang bertanggung jawab dan mendukung SDGs poin 12.

Edukasi Literasi Keuangan melalui Kreasi Melukis Celengan oleh Mahasiswa KKN UNY Dukung SDG 4 di Dusun Dondong Kulon Progo

Kulon Progo, DIY - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Yogyakarta melaksanakan program kerja individu berjudul “Edukasi Literasi Keuangan: Kreasi Melukis Celengan” di Dusun Dondong, Bendungan, Wates, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini dilaksanakan pada 30 Agustus 2026 dengan mahasiswa KKN berperan sebagai fasilitator dan pendamping belajar. Program tersebut menyasar anak-anak usia sekolah dasar di lingkungan setempat, dengan jumlah peserta yang mengikuti kegiatan berkisar antara 10-15 anak.

Kegiatan edukasi ini dilaksanakan sebagai upaya untuk menanamkan pemahaman finansial dasar sejak dini serta membangun kebiasaan menabung pada anak-anak. Kesulitan yang sering ditemui pada anak usia sekolah dasar adalah minimnya pemahaman mengenai manajemen keuangan sederhana, seperti membedakan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants), serta kebiasaan menghabiskan uang saku secara langsung. Oleh karena itu, kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan yang sistematis, diawali dengan penyampaian materi interaktif mengenai konsep dasar pengelolaan uang, dilanjutkan dengan sesi diskusi tanya jawab, hingga praktik kreasi melukis celengan menggunakan spidol warna. Melalui pendekatan berbasis seni dan prakarya ini, anak-anak tidak hanya menerima teori, tetapi juga diajak untuk memahami konsep menabung dengan cara yang menyenangkan, interaktif, dan ekspresif. Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya dalam mendukung pengembangan metode pembelajaran kreatif serta peningkatan literasi finansial dasar bagi anak-anak di tingkat masyarakat.

Pelaksanaan kegiatan memperoleh respons positif dan antusiasme yang tinggi dari para peserta dan orang tua. Penggabungan antara edukasi teori dan aktivitas melukis terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman serta motivasi anak-anak untuk mulai menyisihkan sebagian uang saku mereka. Salah satu peserta, Lutfi, siswa kelas 5 SD, mengungkapkan kegembiraannya mengikuti seluruh rangkaian kegiatan tersebut. “Penjelasan dari Kak Vee seru dan gampang dipahami. Saya juga senang sekali bisa melukis celengan sendiri dengan gambar kesukaan saya, jadi bikin makin semangat buat menabung di rumah setiap hari” ungkap Lutfi.

Sebagai bentuk keberlanjutan program, celengan yang telah selesai dilukis dibawa pulang oleh masing-masing peserta untuk dijadikan media menabung mandiri di rumah. Selain itu, peserta juga dibekali lembar panduan pencatatan tabungan sederhana (saving tracker) yang berguna untuk membantu memantau perkembangan tabungan harian mereka secara konsisten. Dengan demikian, manfaat program tidak berhenti pada saat pelaksanaan kegiatan saja, tetapi dapat terus membiasakan anak-anak mengelola keuangan secara bijak sekaligus menjadi bagian dari kontribusi nyata mahasiswa UNY dalam mendukung pencapaian SDGs 4: Pendidikan Berkualitas di tingkat masyarakat.

Teras Genre: Inovasi Mahasiswa PK UNY Ajak Murid SMAN 1 Bantul Melek Isu Kependudukan

Evelyna Puteri Rinaldo dan para mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang tengah menjalani Praktik Kependidikan (PK) di SMA Negeri 1 Bantul menginisiasi program "Teras Genre" (Generasi Berencana), sebuah ruang edukasi bagi remaja yang berfokus pada isu kependudukan. Konsepnya menyerupai pojok baca, namun seluruh materi yang disajikan berkaitan langsung dengan kondisi kependudukan di wilayah Bantul. Program ini diresmikan langsung oleh Kepala Balai Pendidikan Kabupaten Bantul dalam sebuah acara sederhana yang turut dihadiri oleh kepala sekolah, guru dan guru pamong, perwakilan OSIS, dan siswa kelas X selaku sasaran utama program. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kokurikuler sekolah dan sejalan dengan capaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan terkait pendidikan berkualitas, kesehatan yang baik dan kesejahteraan, serta perkotaan dan komunitas berkelanjutan.

Program ini bertujuan menumbuhkan kesadaran remaja terhadap dinamika kependudukan di daerah tempat tinggalnya melalui pendekatan lintas disiplin ilmu. Teras Genre memuat infografis yang mengulas empat tema utama: kondisi ekonomi daerah melalui data Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), kondisi geografis wilayah Bantul, isu sosiologis. Seluruh materi tersebut tidak disusun begitu saja oleh mahasiswa, melainkan bersumber dari hasil riset lapangan siswa kelas X dalam program kokurikuler. Sebelum infografis dibuat, siswa terlebih dahulu terjun langsung ke dusun-dusun di wilayah Bantul untuk mengumpulkan data melalui wawancara dan observasi bersama perangkat dusun serta warga setempat. Data yang terkumpul kemudian diolah dan divisualisasikan bersama mahasiswa PK menjadi karya kreatif yang dipajang di ruang Teras Genre agar mudah diakses dan dipahami oleh seluruh warga sekolah.

Kontribusi program ini paling menonjol pada capaian SDG 4, sebab Teras Genre secara langsung memperluas akses siswa terhadap pembelajaran yang bermakna dan berbasis pengalaman nyata (experiential learning). Melalui riset lapangan, siswa tidak hanya menerima materi kependudukan secara teoretis di kelas, tetapi juga berlatih keterampilan berpikir kritis, mengumpulkan data primer, serta menyajikan informasi secara sistematis kompetensi yang menjadi inti dari pendidikan berkualitas. Peresmian oleh Kepala Balai Pendidikan Kabupaten Bantul turut menjadi bentuk dukungan resmi bahwa model pembelajaran kolaboratif semacam ini layak direplikasi di sekolah lain. Selain aspek pendidikan, keberadaan infografis kesehatan mental, kriminalitas, dan kondisi wilayah juga menumbuhkan kepedulian sosial siswa terhadap lingkungan sekitarnya. Bagi mahasiswa PK, program ini menjadi wadah penerapan ilmu kependidikan sekaligus kontribusi nyata terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal.

Ke depan, program Teras Genre diharapkan dapat terus dikembangkan dengan pembaruan data secara berkala serta perluasan cakupan riset ke dusun-dusun lain di Bantul, sehingga isi Teras Genre senantiasa mencerminkan kondisi kependudukan terkini. Pihak sekolah juga berharap program ini dapat dilanjutkan oleh angkatan siswa berikutnya sebagai bagian tetap dari kokurikuler, sehingga Teras Genre tidak hanya menjadi ruang edukasi sementara, melainkan sumber informasi kependudukan yang berkelanjutan yang mendukung capaian pendidikan berkualitas bagi warga sekolah.

Belajar Menentukan Prioritas lewat Permainan Pesawat Kertas sebagai Upaya Mendukung SDGs 4 di SMA Negeri 1 Imogiri Bantul

Pada Senin, 24 Agustus 2026, telah dilaksanakan kegiatan pembelajaran Ekonomi dengan materi Skala Prioritas di kelas X-6 SMA Negeri 1 Imogiri yang beralamat di Jl. Imogiri Timur KM 4 Wukirsari, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Niken Ayuningsih, mahasiswa Praktik Kependidikan Universitas Negeri Yogyakarta Program Studi Pendidikan Ekonomi, sebagai pengajar. Pembelajaran menggunakan metode Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan menghubungkan materi skala prioritas dengan kondisi dan kebutuhan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Melalui pendekatan tersebut, peserta didik diarahkan untuk memahami bahwa dalam memenuhi kebutuhan yang beragam dengan sumber daya yang terbatas, diperlukan kemampuan untuk menentukan kebutuhan yang harus didahulukan.

Kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara aktif dan interaktif melalui permainan “Pesawat Prioritas”. Pada awal kegiatan, peserta didik diminta menuliskan sebuah pernyataan atau situasi yang berkaitan dengan pilihan kebutuhan sehari-hari pada selembar kertas. Pernyataan tersebut berisi pilihan mengenai kebutuhan mana yang seharusnya didahulukan dalam kondisi tertentu. Setelah selesai menulis, kertas kemudian dibentuk menjadi pesawat dan diterbangkan secara bersama-sama di dalam kelas. Setiap peserta didik kemudian mengambil salah satu pesawat yang didapatkan, membuka dan membaca pernyataan yang tertulis di dalamnya, kemudian memberikan jawaban mengenai kebutuhan yang harus diprioritaskan beserta alasannya. Kegiatan ini membuat peserta didik terlibat langsung dalam proses pembelajaran sekaligus memberikan kesempatan untuk berpikir, mengambil keputusan, dan menyampaikan alasan berdasarkan situasi yang dihadapi.

Melalui permainan tersebut, peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang berfokus pada pemahaman konsep secara teoritis juga pada penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik belajar bahwa penentuan skala prioritas dapat dipengaruhi oleh tingkat kepentingan, kondisi, serta kebutuhan masing-masing individu. Perbedaan jawaban antarpeserta didik juga menjadi bagian dari proses pembelajaran karena mereka dapat mengetahui berbagai pertimbangan yang digunakan dalam menentukan suatu pilihan. Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 4: Quality Education atau Pendidikan Berkualitas, terutama melalui penerapan pembelajaran yang aktif, kontekstual, partisipatif, dan bermakna bagi peserta didik. Pembelajaran juga memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, serta mengambil keputusan.

Melalui kegiatan “Pesawat Prioritas”, pembelajaran Ekonomi diharapkan dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan sekaligus bermakna bagi peserta didik. Peserta didik dapat memahami konsep skala prioritas serta mampu menghubungkannya dengan berbagai pilihan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan pembelajaran berbasis permainan dan konteks nyata seperti ini diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai salah satu upaya menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan berpusat pada peserta didik serta mendukung terwujudnya pendidikan yang berkualitas sesuai dengan SDGs 4.

Penguatan Literasi Keuangan Siswa melalui Pembelajaran Ekonomi untuk Mendukung Pendidikan Berkualitas (SDG 4) di SMA Negeri 1 Prambanan Sleman

Mahasiswa Praktik Kependidikan melaksanakan kegiatan penguatan literasi keuangan melalui pembelajaran Ekonomi di SMA Negeri 1 Prambanan Sleman. Kegiatan dilaksanakan tanggal 11 Agustus 2026 Di lingkungan SMA Negeri 1 Prambanan Sleman. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Pelaksanaan kegiatan berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-4 atau SDG 4, yaitu Pendidikan Berkualitas, yang menekankan pentingnya pendidikan yang berkualitas serta pengembangan pengetahuan dan keterampilan yang dapat mendukung kehidupan peserta didik.

Kegiatan bertujuan meningkatkan pemahaman dan kemampuan peserta didik dalam mengelola keuangan secara bijak dan bertanggung jawab. Proses pelaksanaan dilakukan melalui pembelajaran Ekonomi dengan penyampaian materi, penggunaan media pembelajaran, pemberian contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta kegiatan studi kasus dan diskusi. Materi yang diberikan meliputi pengertian dan manfaat literasi keuangan, perbedaan kebutuhan dan keinginan, pengelolaan keuangan sederhana, pentingnya menabung, serta literasi keuangan digital. Peserta didik juga memperoleh pemahaman mengenai penggunaan layanan keuangan digital secara aman, termasuk pentingnya menjaga data pribadi, PIN, password, dan kode OTP. Kegiatan melibatkan mahasiswa praktikan sebagai pelaksana pembelajaran, peserta didik sebagai sasaran kegiatan, serta guru Ekonomi yang memberikan pendampingan selama proses pembelajaran.

Kegiatan memberikan dampak positif terhadap pengetahuan peserta didik mengenai pengelolaan keuangan dalam kehidupan sehari-hari. Peserta didik memperoleh pemahaman mengenai cara membedakan kebutuhan dan keinginan, mengatur penggunaan uang, membuat perencanaan keuangan sederhana, serta mengenali risiko dalam penggunaan layanan keuangan digital. Selain memberikan manfaat secara langsung, kegiatan ini juga mendukung pembelajaran Ekonomi yang lebih kontekstual karena materi dihubungkan dengan permasalahan yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Dengan adanya penguatan literasi keuangan tersebut, kegiatan turut berkontribusi terhadap pencapaian SDG 4 melalui pemberian pengetahuan dan keterampilan praktis yang dapat digunakan peserta didik dalam mengambil keputusan secara bijak dan bertanggung jawab.

Melalui kegiatan ini, diharapkan pemahaman literasi keuangan yang telah diperoleh peserta didik dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Penguatan literasi keuangan juga diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pembelajaran, tetapi dapat terus dikembangkan melalui pembelajaran Ekonomi dengan topik dan permasalahan yang relevan. Dengan demikian, kegiatan ini dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan pembelajaran yang berkualitas sekaligus membekali peserta didik dengan keterampilan yang bermanfaat untuk kehidupan mereka di masa kini dan masa mendatang.

Pengembangan Karier dan Penghargaan Pegawai sebagai Implementasi SDGs 8 melalui Pembelajaran Kontekstual

Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) dari Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran melaksanakan kegiatan pembelajaran mengenai “Pengembangan Karier dan Penghargaan Pegawai”  bagi peserta didik kelas XII Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB) di SMK Negeri 1 Klaten. Kegiatan ini dilaksanakan pada mata pelajaran Pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan mengaitkan materi pengembangan karier dan penghargaan pegawai terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-8, yaitu Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Melalui pembelajaran ini, peserta didik tidak hanya memahami konsep pengembangan karier dan penghargaan pegawai, tetapi juga diajak memahami pentingnya peningkatan kompetensi, produktivitas, motivasi, dan kesempatan berkembang dalam dunia kerja. Materi pembelajaran mencakup tahapan dan metode pengembangan karier serta jenis penghargaan finansial dan non-finansial.

Kegiatan pembelajaran diawali dengan pertanyaan pemantik mengenai alasan seorang pegawai dapat bertahan dalam suatu perusahaan meskipun memperoleh gaji yang biasa saja, sementara pegawai lain memilih mengundurkan diri meskipun memperoleh gaji yang tinggi. Pertanyaan tersebut digunakan untuk menggali pemahaman awal peserta didik mengenai pentingnya pengembangan karier dan penghargaan dalam dunia kerja. Selanjutnya, mahasiswa menyampaikan materi mengenai pengertian, tujuan, manfaat, serta tahapan pengembangan karier. Peserta didik juga mempelajari berbagai metode pengembangan karier, seperti jalur karier, mentoring, pelatihan, rotasi jabatan, promosi, dan perencanaan suksesi.

Setelah memahami materi, peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk menganalisis studi kasus mengenai permasalahan pengelolaan SDM pada sebuah perusahaan. Salah satu kasus yang dibahas adalah PT Karya Utama yang mengalami tingkat turnover pegawai cukup tinggi akibat tidak adanya kejelasan jenjang karier dan kurangnya penghargaan terhadap kinerja pegawai. Setiap kelompok kemudian mendiskusikan metode pengembangan karier yang dapat diterapkan, bentuk penghargaan finansial dan non-finansial yang sesuai, serta hubungan antara penilaian kinerja, pengembangan karier, dan penghargaan pegawai. Hasil diskusi selanjutnya dipresentasikan di depan kelas dan ditanggapi oleh kelompok lainnya.

Kegiatan pembelajaran ini memberikan dampak positif terhadap pemahaman peserta didik mengenai pentingnya pengelolaan sumber daya manusia yang mendukung perkembangan pegawai. Peserta didik memahami bahwa pengembangan karier dapat membantu meningkatkan kompetensi, keterampilan, motivasi, dan kepuasan kerja, sedangkan penghargaan pegawai menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap kontribusi dan kinerja pegawai. Penghargaan dapat diberikan dalam bentuk finansial, seperti gaji, bonus, insentif, dan tunjangan, maupun non-finansial, seperti pujian, sertifikat penghargaan, kesempatan pelatihan, dan promosi jabatan.

Melalui kegiatan Praktik Kependidikan ini, peserta didik diharapkan semakin memahami keterkaitan antara pembelajaran Pengelolaan SDM dengan isu pembangunan berkelanjutan, khususnya SDGs ke-8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Pemahaman mengenai pengembangan kompetensi, kesempatan karier, penghargaan terhadap kinerja, serta produktivitas kerja dapat menjadi bekal bagi peserta didik dalam menghadapi dunia kerja. Kegiatan ini juga melatih kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas melalui kegiatan diskusi, analisis kasus, dan presentasi.

Dengan adanya pembelajaran yang mengintegrasikan materi Pengelolaan SDM dengan SDGs, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga diajak memahami pentingnya menciptakan lingkungan kerja yang memberikan kesempatan bagi pegawai untuk berkembang dan memperoleh penghargaan atas kontribusinya. Kegiatan serupa dapat terus dikembangkan pada materi pembelajaran lainnya agar peserta didik semakin mampu menghubungkan kompetensi yang dipelajari di sekolah dengan kebutuhan dunia kerja dan tujuan pembangunan berkelanjutan.

Mahasiswa PK UNY Dukung Pendidikan Berkualitas melalui Kegiatan Administratif Perpustakaan di SMK Negeri 7 Yogyakarta

Yogyakarta — Zahrah Nida Syaakirah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), turut terlibat dalam kegiatan administratif perpustakaan selama pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK) di SMK Negeri 7 Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari kegiatan nonmengajar mahasiswa PK yang dilaksanakan untuk membantu pengelolaan serta pelayanan perpustakaan sebagai salah satu fasilitas pendukung pembelajaran di sekolah.

Kegiatan administratif yang dilakukan meliputi penyampulan buku, pengurutan dan penataan koleksi buku, penyiapan kartu perpustakaan, serta membantu pelayanan perpustakaan kepada peserta didik. Penyampulan buku dilakukan untuk membantu menjaga kondisi koleksi agar tetap terawat dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama. Sementara itu, pengurutan dan penataan buku dilakukan agar koleksi tersusun secara lebih teratur sehingga memudahkan peserta didik dalam mencari dan memperoleh sumber belajar yang dibutuhkan.

Selain pengelolaan koleksi, kegiatan administratif juga mencakup penyiapan dan pembagian kartu perpustakaan kepada peserta didik. Kegiatan tersebut membantu mendukung ketertiban administrasi serta kelancaran pelayanan perpustakaan. Melalui pengelolaan administrasi yang tertata, perpustakaan diharapkan dapat memberikan pelayanan yang lebih efektif kepada peserta didik sebagai pengguna layanan.

Keterlibatan dalam kegiatan administratif perpustakaan juga memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk menerapkan keterampilan yang relevan dengan bidang Pendidikan Administrasi Perkantoran, khususnya dalam aspek administrasi, pengelolaan informasi, penataan dokumen, serta pelayanan. Pelaksanaan Praktik Kependidikan dengan demikian tidak hanya memberikan pengalaman melalui kegiatan pembelajaran di kelas, tetapi juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terlibat dalam berbagai kegiatan pendukung penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

Kegiatan administratif perpustakaan tersebut turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education). Perpustakaan memiliki peran sebagai salah satu sarana pendukung pendidikan yang menyediakan sumber belajar bagi peserta didik. Pengelolaan koleksi dan administrasi perpustakaan yang tertata dapat mendukung kemudahan akses terhadap sumber belajar sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang lebih teratur dan kondusif.

Selain SDG 4, kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals). Pelaksanaan Praktik Kependidikan merupakan bentuk kemitraan antara Universitas Negeri Yogyakarta dan SMK Negeri 7 Yogyakarta dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan. Melalui kerja sama tersebut, mahasiswa tidak hanya melaksanakan praktik pembelajaran, tetapi juga berpartisipasi dalam membantu kegiatan administratif dan pelayanan sekolah sesuai dengan kebutuhan yang ada.

Melalui keterlibatan dalam kegiatan administratif perpustakaan di SMK Negeri 7 Yogyakarta, mahasiswa PK UNY turut berkontribusi dalam mendukung keberlangsungan layanan pendidikan di sekolah. Kegiatan sederhana seperti merawat dan menata koleksi, menyiapkan administrasi perpustakaan, serta membantu pelayanan kepada peserta didik menjadi bagian dari upaya mendukung tersedianya fasilitas pendidikan yang dapat dimanfaatkan secara optimal dalam menunjang proses pembelajaran. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan pentingnya kemitraan antara perguruan tinggi dan sekolah dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan.

Memahami Kesenjangan Ekonomi melalui Literasi Data dan Perbandingan Ketimpangan Antarnegara di SMA Negeri 6 Yogyakarta

Mahasiswa Praktik Kependidikan melaksanakan kegiatan pemahaman terkait literasi data kesenjangan ekonomi melalui pembelajaran Ekonomi di SMA Negeri 6 Yogyakarta. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 11 September 2026 di lingkungan SMA Negeri 6 Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya dalam memberikan pemahaman dan keterampilan kepada murid untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan murid dalam menganalisis data ekonomi, khususnya terkait kesenjangan ekonomi dan ketimpangan ekonomi antarnegara. Melalui kegiatan ini, murid diajak untuk memahami kondisi ketimpangan ekonomi berdasarkan data serta membandingkan tingkat kesenjangan ekonomi Indonesia dengan negara lain. Pelaksanaan kegiatan berkaitan dengan Sustainable Development Goals ( SDGs) tujuan ke-10, yitu Berkurangnya Kesenjangan ( Reduced Inequalities), yang menekankan pentingnya mengurangi kesenjangan di dalam dan antarnegara serta meningkatkan pemahaman Masyarakat terhadap berbagai faktor yang mengurangi ketimpangan ekonomi.

Kegiatan bertujuan meningkatkan pemahaman dan kemampuan murid dalam memahami serta menganalisis kesenjangan ekonomi melalui literasi data dan perbandingan ketimpangan antarnegara. Proses pelaksanaan dilakukan melalui pembelajaran Ekonomi dengan penyampaian materi, penggunaan media pembelajaran, pemberian contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta penerapan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT). Dalam pelaksanaannya, murid dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mempelajari materi mengenai pengertian kesenjangan ekonomi, faktor-faktor penyebab kesenjangan, indikator pengukuran ketimpangan ekonomi, serta kondisi kesenjangan ekonomi di Indonesia dan negara lain. Setelah memahami materi, murid mengikuti kegiatan permainan dan turnamen akademik berupa soal-soal yang berkaitan dengan literasi data dan perbandingan tingkat ketimpangan antarnegara. Melalui kegiatan tersebut, murid dilatih untuk membaca, memahami, dan membandingkan data ekonomi serta bekerja sama dalam kelompok. Kegiatan melibatkan mahasiswa praktikan sebagai pelaksana pembelajaran, murid sebagai sasaran kegiatan, serta guru Ekonomi yang memberikan pendampingan selama proses pembelajaran.

Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap pengetahuan dan kemampuan murid dalam memahami kesenjangan ekonomi melalui pemanfaatan data. Murid memperoleh pemahaman mengenai faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesenjangan ekonomi, indikator yang digunakan untuk mengukur ketimpangan, serta cara membaca dan membandingkan data kondisi ekonomi Indonesia dengan negara lain. Selain memberikan manfaat secara langsung, kegiatan ini juga mendukung pembelajaran Ekonomi yang lebih kontekstual karena materi dihubungkan dengan kondisi dan permasalahan ekonomi yang terjadi dalam kehidupan nyata. Penerapan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) turut mendorong murid untuk aktif berdiskusi, bekerja sama, serta meningkatkan kemampuan dalam menganalisis informasi dan menyelesaikan permasalahan berbasis data. Dengan adanya penguatan literasi data mengenai kesenjangan ekonomi tersebut, kegiatan turut berkontribusi terhadap pencapaian SDG 10 melalui peningkatan pemahaman murid mengenai ketimpangan ekonomi di dalam maupun antarnegara.

Melalui kegiatan ini, diharapkan pemahaman mengenai kesenjangan ekonomi dan literasi data yang telah diperoleh murid dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari. Penguatan literasi data juga diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pembelajaran, tetapi dapat terus dikembangkan melalui pembelajaran Ekonomi dengan topik dan permasalahan yang relevan dengan kondisi sosial dan ekonomi di lingkungan sekitar. Dengan demikian, kegiatan ini dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan murid dalam memahami dan menganalisis permasalahan ketimpangan ekonomi, sekaligus menumbuhkan kesadaran terhadap pentingnya upaya mengurangi kesenjangan di dalam maupun antarnegara sebagai bentuk kontribusi terhadap pencapaian SDG 10.

Dari Biang Sabun Menjadi Produk Bernilai Ekonomi: Pengembangan Keterampilan Kewirausahaan Siswa Melalui Produksi dan Pemasaran Sabun Cuci Piring

Siswa kelas XII PM 2 SMK Abdi Negara Muntilan mengembangkan keterampilan kewirausahaan melalui praktik pembuatan sabun cuci piring dalam mata pelajaran Kreativitas, Inovasi, dan Kewirausahaan (KIK). Praktik tersebut memberikan pengalaman kepadda siswa untuk mengolah bahan dasar menjadi produk yang memiliki manfaat dan memiliki nilai jual.

Dalam prosesnya, siswa memanfaatkan biang sabun sebagai bahan dasar untuk menghasilkan sabun cuci piring. Keterlibatan secara langsung dalam prosses produksi memberikan pengalaman mengenai bagaimana suatu bahan dapat diolah menjadi produk yang siap digunakan. Kegiatan ini juga menjadi sarana bagi siswa untuk menerapkan kreativitas dan keterampilan yang telah diperoleh dalam pembelajaran.

Setelah proes produksi selesai, siswa melanjutkan pengembangan produk dengan menentukan nama produk dan membuat logo. Pemeberian identitas tersebut dilakukan untuk memberikan ciri khas pada produk sekaligus memperkenalkannya kepada calon konsumen. Melalui tahap ini, siswa tidak hanya berfokus pada pembuatan barang, tetapi juga mulai memahami pentingnya identitas dan tampilan dalam pengembangan suatu produk.

Produk sabun cuci piring yang telah dibuat selanjutnya akan dipasarkan kepada guru dan karyawan SMK Abdi Negara Muntilan. Pemasaran dilakukan sebagai bentuk penerapan pembelajaran kewirausahaan secara langsung, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman dalam memperkenalkan produk, berkomunikasi dengan calon konsumen, dan melakukan transaksi sederhana.

Rangkaian kegiatan tersebut memberikan pengalaman kepada siswa mengenai tahap dasar dalam pengembangan usaha, mulai dari menghasilkan produk, membangun identitas, hingga memasarkannya. Selain keterampilan produksi, siswa turut mengembangkan kemampuan komunikasi, kerja sama, kreativitas, dan tanggung jawab dalam menjalankan proes tersebut.

Melalui praktik ini, pembelajaran KIK menjadi lebih konstektual karena siswa dapat melihat secara langsung proses mengubah ide dan keterampilan menjadi produk yang dapat digunakan serta memiliki potensi ekonomi. Pengalaman tersebut dapat menjadi bekal bagi siswa untuk mengenali peluang usaha dan mengembangkan keterampilan yang relevan dengan dunia kerja maupun kegiatan kewirausahaan di masa mendatang.

Pages