SDGs #4 Pendidikan

Implementasi Project Based Learning Berbantuan Gallery Walk dalam Pembelajaran Ekonomi sebagai Upaya Mendukung SDGs 4: Pendidikan Berkualitas di SMAN 2 Sleman

Suasana pembelajaran Ekonomi di kelas X Mandaraka SMA Negeri 2 Sleman tampak lebih aktif pada Rabu (02/09/26) lalu. Sebanyak 36 peserta didik yang terbagi ke dalam lima kelompok mengikuti pembelajaran materi Pembagian Ilmu Ekonomi dengan menerapkan model Project Based Learning (PjBL) yang dipadukan dengan metode Gallery Walk atau Jelajah Galeri Ekonomi. Kegiatan pembelajaran ini dilaksanakan oleh Tri Utami, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta, sebagai bagian dari pelaksanaan praktik mengajar di SMA Negeri 2 Sleman. Penerapan pembelajaran tersebut menjadi salah satu upaya menghadirkan proses belajar yang aktif, kolaboratif, dan bermakna, sekaligus sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas (Quality Education).

Kegiatan pada pertemuan kedua ini bertujuan memperdalam pemahaman peserta didik mengenai empat pembagian ilmu ekonomi, yaitu ekonomi deskriptif, teori ekonomi, ekonomi terapan, dan ekonomi syariah, yang sebelumnya telah disusun tiap kelompok dalam bentuk peta konsep digital EcoMap menggunakan aplikasi Canva. Pada tahap Gallery Walk, setiap kelompok secara bergantian berperan sebagai tuan rumah yang menjelaskan hasil karyanya, sekaligus berkeliling mengunjungi dan mempelajari EcoMap kelompok lain. Peserta didik mencatat informasi penting pada Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Jelajah Ekonomi, berdiskusi, serta memberikan tanggapan secara aktif. Seluruh peserta didik kelas X Mandaraka terlibat langsung dalam kegiatan ini dengan pendampingan dari guru pelaksana.

Pelaksanaan model PjBL yang dipadukan dengan Gallery Walk terbukti mampu meningkatkan keterlibatan aktif peserta didik dalam proses pembelajaran. Setiap peserta didik tidak hanya memahami satu topik kelompoknya, tetapi juga memperoleh pemahaman menyeluruh mengenai seluruh pembagian ilmu ekonomi melalui pertukaran informasi antarkelompok. Kegiatan ini turut menumbuhkan keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas peserta didik, sejalan dengan target SDGs 4 yang menekankan akses terhadap pendidikan berkualitas, inklusif, dan pembelajaran sepanjang hayat bagi semua. Model pembelajaran ini juga memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan menyenangkan dibandingkan metode ceramah konvensional.

Melalui kegiatan ini, diharapkan model pembelajaran berbasis proyek dan Gallery Walk dapat terus diterapkan dan dikembangkan pada materi-materi Ekonomi lainnya, sehingga kualitas pembelajaran di SMA Negeri 2 Sleman semakin meningkat dan konsisten mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan di bidang pendidikan. (tut)

 

Inovasi Pembelajaran Ekonomi Berbasis PBL dan Zep.quiz sebagai Asesmen Formatif di SMA Negeri 1 Prambanan Klaten guna Mendukung SDGs Pendidikan Berkualitas

Figra Alensy Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) dari Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNY melaksanakan inovasi pembelajaran Ekonomi pada kelas XII (E2, F2, G3, H3, I4, dan J4) di SMA Negeri 1 Prambanan Klaten, Jawa Tengah. Kegiatan ini mengombinasikan model Problem-Based Learning (PBL) dengan pemanfaatan media digital Zep.quiz yang difokuskan sebagai instrumen evaluasi formatif dalam asesmen pembelajaran materi Ekonomi Internasional. Inovasi pembelajaran ini berkontribusi langsung pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu Pendidikan Berkualitas (Quality Education), melalui peningkatkan efektivitas, keterlibatan aktif, dan kualitas pembelajaran yang interaktif serta inklusif. Kegiatan Praktik Kependidikan (PK) ini dilaksanakan selama masa pelaksanaan program PK Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2026 di SMA Negeri 1 Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. 

Tujuan dari kegiatan ini adalah mengatasi rendahnya partisipasi siswa akibat metode pembelajaran konvensional dan teoritis, serta membangun pemahaman konseptual yang kuat terkait isu-isu ekonomi global. Proses pelaksanaan terbagi menjadi tiga tahapan: perencanaan modul dan asesmen, pelaksanaan pembelajaran berbasis analisis kasus nyata (seperti fluktuasi kurs mata uang dan hambatan ekspor-impor), serta penutup berupa refleksi. Siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk berdiskusi dan mempresentasikan hasil pemecahan masalah di depan kelas. Sebagai penguatan pada tahap evaluasi formatif, kuis interaktif berbasis gamifikasi dijalankan menggunakan platform Zep.quiz melalui gawai/laptop peserta didik untuk mengukur tingkat pemahaman siswa secara langsung.

Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan motivasi, antusiasme, serta keterlibatan aktif siswa selama proses pembelajaran. Pemanfaatan Zep.quiz sebagai bagian dari asesmen formatif terbukti ampuh mengubah suasana evaluasi yang semula cenderung kaku dan menegangkan menjadi lebih interaktif dan menyenangkan, sekaligus memberikan umpan balik real-time bagi guru untuk memetakan penguasaan materi siswa secara presisi. Dampak positif dari kegiatan ini tidak hanya memperkuat penalaran kritis dan kolaborasi peserta didik, tetapi juga mendukung sekolah dalam mewujudkan transformasi digital pembelajaran sesuai spirit Kurikulum Merdeka. Secara langsung, kegiatan PK ini memberikan kontribusi nyata terhadap target SDGs dalam menjamin pendidikan yang inklusif, adil, dan berkualitas.

Melalui keberhasilan penerapan inovasi pembelajaran ini, diharapkan kombinasi Problem-Based Learning dan penggunaan media digital interaktif seperti Zep.quiz sebagai evaluasi formatif yang diinisiasi oleh Figra Alensy dari Prodi Pendidikan Ekonomi FEB UNY ini dapat terus diterapkan dan dikembangkan secara berkelanjutan oleh para pendidik di SMA Negeri 1 Prambanan Klaten. Langkah ini penting guna mencetak generasi muda yang kritis, berwawasan global, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi di era modern. (fgr)

Estafet Soal: Inovasi Pembelajaran Interaktif Dukung Pendidikan Berkualitas di SMA Negeri 2 Yogyakarta

Sebagai upaya menghadirkan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan, Nanda Fitriyani mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang menjalani praktik mengajar di SMA Negeri 2 Yogyakarta menyelenggarakan permainan edukatif berjudul "Estafet Soal" dalam kegiatan pembelajaran Ekonomi kelas XE-8 pada Kamis (03/09/2026) lalu di jam 13.00-15.15 WIB. Kegiatan ini dilaksanakan di ruang kelas dengan sasaran seluruh peserta didik kelas XE-8 sebagai bagian dari implementasi Kurikulum Merdeka. Permainan ini dirancang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, karena mendorong metode belajar yang partisipatif, inklusif, dan berorientasi pada penguatan pemahaman konsep secara merata bagi seluruh siswa.

Kegiatan ini bertujuan melatih kecepatan berpikir, pemahaman konsep, serta kemampuan kerja sama tim peserta didik melalui format kompetisi relai. Dalam pelaksanaannya, kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dengan jumlah anggota seimbang, kemudian setiap tim berbaris di depan papan tulis. Guru menampilkan soal secara bersamaan kepada seluruh tim, dan perwakilan pertama dari masing-masing tim maju untuk menuliskan jawaban dalam waktu 45–60 detik untuk soal konsep atau 90 detik untuk soal hitungan. Setelah waktu habis, peserta segera kembali ke barisan dan menepuk tangan rekan berikutnya sebagai tanda pergantian giliran, sementara anggota lain dilarang memberi bantuan atau kode jawaban. Setiap jawaban dinilai dengan skor 10 untuk jawaban tepat, 5 untuk jawaban kurang lengkap, dan 0 untuk jawaban salah atau tidak terjawab, dengan pengurangan 5 poin bagi tim yang melanggar aturan permainan. Guru bertindak sebagai fasilitator sekaligus verifikator jawaban dan memberikan penguatan konsep pada setiap akhir ronde hingga seluruh soal atau seluruh anggota tim mendapat giliran.

Pelaksanaan kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap suasana belajar di kelas. Peserta didik terlihat lebih antusias dan aktif berdiskusi dalam kelompok, sekaligus terlatih untuk berpikir cepat dan tepat dalam memahami materi Ekonomi. Sistem skor dan kompetisi antartim turut memacu semangat belajar tanpa mengurangi esensi kerja sama, sementara aturan larangan membantu jawaban melatih kejujuran akademik dan tanggung jawab individu. Secara keseluruhan, kegiatan ini berkontribusi terhadap pemerataan kualitas pemahaman konsep ekonomi di kelas serta mendukung terciptanya lingkungan belajar yang inklusif dan bermutu, sejalan dengan semangat SDG 4.

Metode permainan Estafet Soal diharapkan dapat terus dikembangkan dan diterapkan secara berkala pada materi Ekonomi lainnya sebagai variasi strategi pembelajaran di kelas. Pihak sekolah dan mahasiswa praktikan juga berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi contoh inovasi pembelajaran yang dapat direplikasi oleh guru mata pelajaran lain guna terus meningkatkan kualitas dan daya tarik proses belajar mengajar di SMA Negeri 2 Yogyakarta. (nnd)

Belajar Ekonomi Sambil Bermain melalui UNO Economic Challenge di MAN 2 Yogyakarta  

Unaiza Nafta Lima Haka, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta, melaksanakan pembelajaran inovatif melalui kegiatan UNO Economic Challenge bersama murid kelas XI-B MAN 2 Yogyakarta pada 5 Agustus 2026. Kegiatan ini mengangkat materi masalah dan strategi pembangunan ekonomi dengan menggunakan permainan kartu UNO sebagai media pembelajaran. Melalui kegiatan tersebut, murid diajak untuk memahami dan mengaplikasikan materi pembangunan ekonomi melalui berbagai tantangan yang dikemas dalam permainan. Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas, melalui pengalaman belajar yang aktif, interaktif, dan menyenangkan.

Kegiatan diawali dengan penjelasan singkat mengenai indikator, faktor, permasalahan, serta strategi pembangunan ekonomi. Setelah memahami materi, murid dibagi menjadi empat kelompok untuk mengikuti Games Tournament UNO Pembangunan Ekonomi yang berisi pertanyaan terkait materi yang telah dipelajari. Murid secara bergiliran mengambil kartu, membaca pertanyaan, kemudian mendiskusikan dan menuliskan jawaban bersama kelompok. Setiap kartu memiliki nilai 3, 5, atau 8 poin, dan kelompok dengan perolehan poin tertinggi ditetapkan sebagai pemenang. Guru memberikan pemeriksaan serta umpan balik terhadap jawaban dan memastikan setiap murid memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan.

Kegiatan berlangsung dengan melibatkan murid secara aktif dan antusias dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil refleksi, murid menyampaikan bahwa pembelajaran terasa menyenangkan karena dikemas dalam bentuk permainan, sehingga mereka lebih antusias mengikuti pembelajaran. Selain memperkuat pemahaman terhadap materi pembangunan ekonomi, kegiatan ini juga melatih kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kerja sama, ketelitian, dan sportivitas. Pengalaman belajar yang aktif dan menyenangkan tersebut berkontribusi pada SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, terutama dalam mendorong terciptanya pembelajaran yang inklusif, bermakna, dan berpusat pada keterlibatan murid.

Melalui UNO Economic Challenge, pembelajaran Ekonomi diharapkan dapat terus dikembangkan dengan menggunakan metode dan media yang mendorong keterlibatan aktif murid. Permainan edukatif dapat menjadi salah satu alternatif untuk menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif, bermakna, dan menyenangkan tanpa mengesampingkan pencapaian tujuan pembelajaran. Kegiatan serupa juga dapat dikembangkan dengan variasi pertanyaan dan materi yang disesuaikan dengan kebutuhan murid. Dengan demikian, inovasi pembelajaran diharapkan dapat terus mendukung terciptanya pengalaman pendidikan yang berkualitas di lingkungan sekolah. (unz)

Belajar Surat Tak Lagi Membosankan: Korespondensi Mission Challenge Hadirkan Pembelajaran Seru di Kelas XI MPLB 2

Siapa bilang belajar surat dinas harus kaku dan membosankan? Di kelas XI MPLB 2, suasana pembelajaran korespondensi justru menyajikan keseruan melalui metode “Korespondensi Missin Challenge” yang diselenggarakan oleh Umi Nuriyah, salah satu mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) di SMK N 1 Jogonalan dalam pembelajaran Administrasi Umum dengan materi surat dinas. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat (28/08/26) lalu di ruang kelas XI MPLB 2. Sebanyak 35 peserta didik terlibat aktif dalam pembelajaran yang tidak hanya mempelajari konsep persuratan dinas, akan tetapi juga diberikan tantangan untuk menyelesaikan kasus yang berkaitan dengan penyusunan surat dinas. Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yang ke-4 yaitu Pendidikan Berkualitas, melalui penerapan pembelajaran yang dapat meningkatkan keterlibatan aktif peserta didik dalam memahami dan mempraktikkan materi secara langsung.

Kegiatan yang dilakukan dengan menitikberatkan pada pentingnya peserta didik dapat memahami berbagai situasi yang kemungkinan terjadi di lingkungan kedinasan, penyesuaian dengan lingkungan nyata, serta dapat menganalisis surat yang dikerjakan teman yang lain. Salah satu peserta didik kelas XI MPLB, Kayla menyampaikan, “Praktik pembuatan surat lebih seru karena harus tahu jenis suratnya dan beda-beda dengan temannya.” 

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan pengenalan mengenai tugas yang harus dilaksanakan. Peserta didik diberikan situasi kelas seolah-olah berperan sebagai staf administrasi yang menerima tugas. Setiap peserta didik memperoleh kartu misi yang berisi situasi atau permasalahan sesuai yang terjadi di lingkungan kedinasan. Berdasarkan kartu misi peserta didik melakukan analisis situasi, menentukan jenis surat yang sesuai, dan menyusun surat berdasarkan kartu misi. Setelah seluruh peserta didik menyelesaikan pembuatan surat akan dilanjutkan dengan kegiatan peer review secara individu. Setiap peserta didik akan menukar hasil pekerjaanya dengan teman untuk diperiksa berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Dalam proses peer review peserta didik selain memeriksa hasil pekerjaan juga menilai dan memberikan umpan balik terhadap pekerjaan temannya. Setelah peer review, hasil pekerjaan akan dikembalikan dan dilakukan perbaikan apabila masih ada kesalahan.

Melalui seluruh rangkaian kegiatan, mahasiswa berharap peserta didik tidak hanya mengetahui contoh surat yang ada di dinas, membuat surat hanya sesuai contoh ataupun hanya situasi tertentu akan tetapi peserta didik juga memahami alasan dan pertimbangan dalam menyusun surat sesuai dengan situasi yang ada. Dari kegiatan peer review juga akan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berperan aktif dalam memberikan evaluasi terhadap pekerjaan teman. Selain itu kegiatan ini menjadi salah satu kontribusi Praktik Kependidikan dalam mendukung SDGs 4 berupa Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran yang inovatif, aktif, bermakna, dan memberikan kesempatan peserta didik untuk berkembang.

Penulis

Umi

Editor

Umi

#PK #UNY #SDGs14 #Pembelajaran #PendidikanBerkualitas

Dari Konsep Uang ke Teka-Teki Silang, Mahasiswa PK Hadirkan Pembelajaran Ekonomi yang Interaktif

Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK), Naya Ramadina dari Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), melaksanakan kegiatan pembelajaran Ekonomi bersama peserta didik kelas XI 7 di SMA Negeri 3 Yogyakarta pada Rabu (09/09/26) lalu sebagai bagian dari program Praktik Kependidikan. Kegiatan pembelajaran mengangkat materi konsep uang, peredaran uang, permintaan uang, dan penawaran uang yang berkaitan erat dengan aktivitas ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, melalui penerapan pembelajaran yang interaktif, partisipatif, dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran.

Kegiatan bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai konsep uang serta mekanisme peredaran, permintaan, dan penawaran uang dalam kegiatan ekonomi. Proses pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian materi dengan memanfaatkan media presentasi. Setelah penyampaian materi, peserta didik diberikan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbentuk Teka-Teki Silang (TTS) yang berkaitan dengan materi yang telah dipelajari. Peserta didik mengerjakan LKPD dengan berdiskusi dan saling bertukar pemahaman untuk menemukan jawaban yang tepat. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa PK berperan sebagai fasilitator dengan memberikan penjelasan materi, membimbing peserta didik selama kegiatan, serta memberikan arahan ketika siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan LKPD.

Pelaksanaan kegiatan memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif bagi peserta didik. Melalui aktivitas pengerjaan TTS, peserta didik tidak hanya menerima materi melalui penjelasan, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mengingat dan menguatkan kembali pemahaman mengenai konsep-konsep Ekonomi yang telah dipelajari. Kegiatan diskusi dan pengerjaan LKPD turut mendorong peserta didik untuk berpartisipasi aktif, bekerja sama, serta mengomunikasikan pemahaman mereka selama proses pembelajaran. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa PK dalam mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas, terutama melalui upaya menciptakan proses pembelajaran yang aktif, interaktif, dan berpusat pada peserta didik.

Melalui kegiatan pembelajaran yang interaktif dan variatif, diharapkan peserta didik tidak hanya memahami konsep uang dan peredaran uang secara akademis, tetapi juga mampu menghubungkan materi Ekonomi dengan aktivitas ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan LKPD berbentuk TTS diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam menciptakan suasana pembelajaran yang lebih menarik sekaligus memperkuat pemahaman peserta didik terhadap materi. Bagi mahasiswa PK, kegiatan ini juga menjadi pengalaman dalam mengembangkan keterampilan mengajar dan merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk mendukung terciptanya pendidikan yang berkualitas melalui praktik kependidikan di lingkungan sekolah. (nya)

Mahasiswa PK UNY Ajak Siswa MAN 3 Sleman Belajar Biaya Peluang dan Skala Prioritas melalui “Estafet Ekonomi”

Rina Safitri, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta melaksanakan pembelajaran Ekonomi bersama murid kelas X B MAN 3 Sleman dengan materi biaya peluang dan skala prioritas pada Jumat (04/09/26) lalu. Kegiatan pembelajaran ini dirancang untuk membantu murid memahami proses menentukan pilihan ketika dihadapkan pada keterbatasan sumber daya. Materi dikaitkan dengan situasi yang dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari sehingga murid tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga mampu melihat penerapannya dalam mengambil keputusan. Pembelajaran tersebut turut mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

SDG 4: Pendidikan Berkualitas menekankan pentingnya pendidikan yang mampu memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi peserta didik. Dalam pembelajaran ini, murid diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir dalam menentukan pilihan dan mempertimbangkan konsekuensi dari keputusan yang diambil. Sementara itu, SDG 12 berkaitan dengan penggunaan sumber daya secara bijak dan bertanggung jawab. Pemahaman mengenai skala prioritas dapat membantu murid menentukan kebutuhan yang lebih penting untuk didahulukan, sedangkan materi biaya peluang mengajarkan bahwa suatu pilihan selalu disertai dengan adanya alternatif yang dikorbankan.

Kegiatan pembelajaran diawali dengan penjelasan mengenai konsep biaya peluang, termasuk contoh permasalahan yang menunjukkan adanya pilihan di tengah keterbatasan. Murid kemudian diarahkan untuk memahami bagaimana menentukan alternatif yang dikorbankan ketika memilih suatu pilihan. Setelah itu, pembelajaran dilanjutkan dengan materi skala prioritas yang membahas cara menentukan urutan kebutuhan berdasarkan tingkat kepentingannya. Untuk memperkuat pemahaman, murid mengikuti permainan “Estafet Ekonomi” secara berkelompok. Dalam permainan tersebut, setiap murid memperoleh giliran untuk mengerjakan soal yang telah disiapkan. Pergantian giliran dilakukan secara estafet sehingga seluruh anggota kelompok terlibat dalam proses penyelesaian soal. Pertanyaan yang diberikan berkaitan dengan materi biaya peluang dan skala prioritas sehingga murid dapat langsung mengaplikasikan konsep yang telah dipelajari.

Pelaksanaan kegiatan menunjukkan adanya keterlibatan aktif murid selama proses pembelajaran. Permainan Estafet Ekonomi memberikan suasana yang berbeda dalam memahami materi karena murid dituntut untuk menyelesaikan soal sekaligus berkoordinasi dengan anggota kelompoknya. Selain meningkatkan pemahaman terhadap materi, kegiatan ini juga melatih ketelitian, tanggung jawab, komunikasi, dan kerja sama. Murid belajar bahwa dalam kondisi sumber daya yang terbatas, diperlukan pertimbangan sebelum menentukan suatu pilihan. Hal tersebut menjadi bentuk kontribusi terhadap SDG 4 melalui pembelajaran yang mengembangkan pengetahuan dan keterampilan, serta mendukung SDG 12 melalui pembiasaan untuk menentukan kebutuhan secara terencana dan menggunakan sumber daya dengan lebih bijak.

Melalui pembelajaran ini, murid diharapkan mampu membawa pemahaman mengenai biaya peluang dan skala prioritas ke dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan tersebut dapat digunakan ketika menentukan pilihan, mengatur kebutuhan, maupun mempertimbangkan berbagai alternatif yang tersedia. Kegiatan Estafet Ekonomi juga diharapkan dapat membuat proses pembelajaran Ekonomi menjadi lebih aktif dan memberikan pengalaman yang berkesan bagi murid. Dengan menggabungkan pemahaman materi dan aktivitas kolaboratif, mahasiswa PK UNY turut berupaya menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada hasil akademik, tetapi juga membekali murid dengan kemampuan mengambil keputusan secara bijak dan bertanggung jawab.(rns)

Ubur-ubur Kepo Hidupkan Pembelajaran Ketenagakerjaan, Dorong Literasi Murid Berbasis SDGs

Murid Kelas XI A MAN 2 Yogyakarta mengikuti pembelajaran Ekonomi materi Ketenagakerjaan melalui kegiatan yang unik dan interaktif pada Rabu (02/09/26) lalu. Kegiatan ini dilaksanakan oleh mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Indah Lestiyaningsih Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY). Dalam sesi ini, Indah mengintegrasikan media pembelajaran inovatif bernama “Ubur-Ubur Kepo” untuk menghidupkan suasana kelas, memicu keaktifan, serta mendorong rasa ingin tahu para murid. Penerapan metode yang berpusat pada murid (student-centered learning) ini juga menjadi bentuk kontribusi nyata dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas. Melalui ruang belajar yang inklusif dan partisipatif, murid tidak hanya menjadi objek, melainkan berperan aktif sebagai subjek utama dalam proses pembelajaran.

Kegiatan ini bertujuan agar para murid mampu mengidentifikasi jenis tenaga kerja, membedakan angkatan kerja dan bukan angkatan kerja, serta mendeskripsikan konsep ketenagakerjaan secara mendalam. Untuk mencapai target tersebut, pembelajaran dirancang menggunakan model Problem-Based Learning (PBL) yang dipadukan dengan strategi Cooperative Learning. Melalui media “Ubur-Ubur Kepo”, murid ditantang untuk mengeksplorasi berbagai pertanyaan krusial seputar dunia kerja. Rasa penasaran mereka kemudian dikembangkan menjadi pemantik diskusi kelompok. Melalui pendekatan ini, murid tidak hanya menerima teori secara pasif, tetapi terlibat langsung dalam membangun pemahaman secara kolaboratif bersama guru dan teman sebaya.

Penerapan media “Ubur-Ubur Kepo” terbukti sukses membuat suasana kelas jauh lebih hidup. Para murid tampak antusias dan terlibat aktif dalam menjawab pertanyaan, berdiskusi, menyampaikan pendapat, serta bekerja sama memecahkan studi kasus. Metode interaktif ini tidak hanya mendongkrak pemahaman materi, tetapi juga mengasah keterampilan abad ke-21 murid, seperti berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi.  Dari perspektif global, inovasi pembelajaran ini berhasil mengintegrasikan dua poin penting Sustainable Development Goals (SDGs) sekaligus. Selain mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan mutu pengalaman belajar, kegiatan ini juga berkontribusi pada SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Melalui literasi ekonomi yang ditanamkan sejak dini, murid dibekali pemahaman mendasar mengenai konsep ketenagakerjaan sebagai modal masa depan mereka.

Penggunaan media pembelajaran yang memanfaatkan rasa ingin tahu murid ini diharapkan dapat terus dikembangkan, baik dalam mata pelajaran Ekonomi maupun bidang studi lainnya. Kegiatan inovatif tersebut juga diharapkan mampu menjadi pengalaman berharga yang mendorong terciptanya proses belajar lebih aktif, bermakna, dan relevan dengan kehidupan nyata murid. Melalui konsistensi inovasi seperti ini, MAN 2 Yogyakarta optimis dapat terus mencetak generasi muda yang kritis dan siap menghadapi tantangan ekonomi di masa depan. Langkah nyata ini sekaligus bukti bahwa dunia pendidikan madrasah mampu berkontribusi aktif dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) di Indonesia. (ndl)

Pembelajaran Ekonomi Kontekstual, Mahasiswa PK Dorong Kesadaran Siswa terhadap Kemiskinan dan Kesenjangan Ekonomi



Dyah Ayu Anjarwati, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) dari program studi S1 Pendidikan Ekonomi melaksanakan kegiatan pembelajaran Ekonomi bersama peserta didik kelas XI F di SMA Negeri 1 Sleman sebagai bagian dari program Praktik Kependidikan. Kegiatan dilaksanakan pada 24 Agustus - 3 September 2026 di ruang kelas XI F dengan sasaran peserta didik kelas XI. Pembelajaran mengangkat materi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi yang merupakan permasalahan ekonomi yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, melalui pelaksanaan pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan mendorong peserta didik untuk memahami permasalahan di lingkungan sekitar. Selain itu, kegiatan turut mendukung SDG 10 tentang berkurangnya kesenjangan melalui peningkatan pemahaman peserta didik mengenai ketimpangan ekonomi.

Kegiatan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai konsep, penyebab, dampak, serta upaya mengatasi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi. Proses pembelajaran dilaksanakan secara interaktif dengan memanfaatkan media presentasi, kegiatan diskusi, pertanyaan pemantik, serta aktivitas kelompok. Peserta didik diarahkan untuk menghubungkan materi yang dipelajari dengan kondisi nyata di masyarakat sehingga pembelajaran tidak hanya berfokus pada pemahaman konsep, tetapi juga kemampuan menganalisis permasalahan ekonomi. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa PK berperan sebagai fasilitator pembelajaran dengan memberikan penjelasan, membimbing diskusi, dan memberikan umpan balik terhadap hasil kegiatan peserta didik. Guru pamong turut memberikan arahan dan mendampingi pelaksanaan pembelajaran.

Pelaksanaan kegiatan memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran peserta didik. Peserta didik memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai kemiskinan dan kesenjangan ekonomi serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Melalui diskusi dan aktivitas pembelajaran, peserta didik juga didorong untuk menyampaikan pendapat, bekerja sama, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis terhadap permasalahan ekonomi di lingkungan sekitar. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa PK dalam mendukung pendidikan yang berkualitas sebagaimana tujuan SDG 4, sekaligus menumbuhkan kesadaran peserta didik mengenai pentingnya pemerataan kesempatan dan pengurangan kesenjangan dalam kehidupan masyarakat.

Melalui kegiatan pembelajaran yang kontekstual dan partisipatif, diharapkan peserta didik tidak hanya memahami materi Ekonomi secara akademis, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan tersebut dalam melihat berbagai permasalahan sosial-ekonomi di kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menciptakan proses pendidikan yang berkualitas, membangun kepedulian sosial, serta mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan di lingkungan sekolah. (daa)

Dari Pepaya Afkir Jadi Abon dan Mustofa, FEB UNY bekerjasama dengan BUMDes Amarta Dorong Inovasi Pangan dan Pakan Berkelanjutan

Pepaya yang tidak matang sempurna dan selama ini hanya dianggap sebagai hasil pertanian yang tidak layak jual ternyata dapat disulap menjadi produk pangan bernilai ekonomi. Inovasi tersebut diperkenalkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Mbangun Desa yang dilaksanakan di Joglo Kesekretariatan Desa Prima Karangtanjung, Kalurahan Pandowoharjo, Kabupaten Sleman, Rabu (2/9/2026). Kegiatan bertajuk “Diversifikasi Produk Turunan dan Optimalisasi Rantai Nilai (Value Chain) pada BUMDes Amarta: Inovasi Pangan dan Pakan Berkelanjutan di Kalurahan Pandowoharjo” ini melibatkan sekitar 30 ibu-ibu perwakilan Desa Wisata, Desa Prima, Desa Mandiri Budaya, Kelompok Wanita Tani (KWT) Karang Tanjung, serta BUMDes Amarta sebagai mitra kegiatan.

Kegiatan tersebut juga dihadiri langsung oleh Lurah Pandowoharjo, Catur Sarjumiharta, yang turut memberikan dukungan terhadap upaya pengembangan potensi ekonomi lokal melalui inovasi produk berbasis sumber daya desa. Permasalahan yang diangkat dalam kegiatan ini berangkat dari kondisi nyata yang dihadapi BUMDes Amarta dan masyarakat Pandowoharjo. Pada kebun pertanian di wilayah tersebut, sebagian tanaman pepaya menghasilkan buah yang tidak matang sempurna sehingga tidak memenuhi standar untuk dipasarkan sebagai buah segar. Pepaya semacam ini oleh masyarakat biasa disebut sebagai pepaya afkir.

Jika hanya dijual sebagai buah dengan harga rendah atau bahkan tidak dimanfaatkan, pepaya afkir tentu memiliki nilai ekonomi yang sangat terbatas. Melalui kegiatan PkM ini, tim mendorong masyarakat untuk melihat pepaya afkir dari perspektif berbeda: bukan sebagai limbah atau produk gagal, tetapi sebagai bahan baku produk baru yang memiliki nilai tambah. Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak melakukan praktik langsung mengolah pepaya afkir menjadi dua produk pangan, yaitu abon papaya, pepaya Mustofa, dan selai pepaya. Ketiga produk tersebut dikembangkan sebagai alternatif produk olahan yang dapat dipasarkan sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Ketua Tim PkM Mbangun Desa, Dr. Lilia Pasca Riani, M.Sc., menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar berorientasi pada pelatihan pengolahan makanan, tetapi juga diarahkan untuk membangun rantai nilai ekonomi yang lebih optimal di tingkat desa. “Potensi ekonomi desa sebenarnya banyak sekali. Tantangannya adalah bagaimana bahan yang selama ini memiliki nilai ekonomi rendah dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Pepaya afkir menjadi salah satu contoh nyata,” ujar Lilia.

Menurutnya, pengembangan produk turunan tersebut diharapkan tidak berhenti pada kemampuan masyarakat membuat produk, tetapi dapat dilanjutkan menjadi aktivitas ekonomi yang terintegrasi dengan BUMDes Amarta. Dengan demikian, proses produksi, pengolahan, pemasaran, hingga pengembangan usaha dapat menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi desa.

Tidak Hanya Pangan, Pepaya dan Sampah Organik Diolah Menjadi Pakan

Selain inovasi pangan, kegiatan PkM juga memperkenalkan inovasi pengolahan bahan organik menjadi produk pakan dan kompos sebagai bagian dari upaya membangun sistem ekonomi yang lebih berkelanjutan. Inovasi tersebut sekaligus merespons persoalan lain yang dihadapi Kalurahan Pandowoharjo, yaitu adanya sampah kiriman dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berasal dari dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Pandowoharjo.

Sampah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan tersebut diarahkan untuk dimanfaatkan kembali melalui proses pengolahan dan fermentasi. Hasil pengolahan dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos maupun pakan ternak, antara lain untuk maggot, ikan lele, dan kambing.

Pendekatan tersebut memperkenalkan konsep bahwa bahan yang sebelumnya dianggap sebagai sampah masih memiliki nilai apabila dikelola dengan teknologi dan proses yang tepat. “Yang ingin kami bangun bukan hanya produk, tetapi cara berpikir masyarakat bahwa sesuatu yang dianggap tidak bernilai masih bisa menjadi sumber ekonomi. Pepaya afkir dapat menjadi pangan, sementara sampah organik dapat kembali masuk ke dalam siklus produksi sebagai kompos maupun pakan,” jelas Lilia.

Praktik Langsung Bersama Praktisi

Agar inovasi dapat dipahami dan diterapkan secara langsung, kegiatan tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi juga melalui praktik bersama. Tim PkM menggandeng Tri Suhartati, praktisi UMKM kuliner, dan Fitria dari SMK Budi Mulia 2 untuk berbagi pengalaman dan keterampilan teknis kepada peserta. Para peserta mengikuti tahapan pengolahan secara langsung, mulai dari persiapan bahan, proses produksi, hingga menghasilkan produk olahan yang siap dikembangkan sebagai produk usaha.

Antusiasme peserta terlihat selama proses praktik. Para peserta tidak hanya mengikuti tahapan pembuatan, tetapi juga berdiskusi mengenai kemungkinan pengembangan rasa, kemasan, harga jual, serta peluang pemasaran produk. Kegiatan tersebut menjadi penting karena pengembangan ekonomi berbasis desa membutuhkan keterlibatan masyarakat sebagai pelaku utama. Perempuan desa, khususnya kelompok-kelompok yang telah aktif dalam kegiatan ekonomi dan pemberdayaan, memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak usaha pengolahan produk lokal.

Membangun Ekonomi Desa Berbasis Nilai Tambah

Kegiatan PkM Mbangun Desa ini menjadi bagian dari upaya mendorong BUMDes Amarta agar tidak hanya berperan sebagai pengelola potensi ekonomi desa, tetapi juga menjadi penghubung berbagai sumber daya lokal dalam satu rantai nilai. Pepaya afkir yang berasal dari sektor pertanian dapat masuk ke sektor pengolahan pangan. Sementara sampah organik dari aktivitas masyarakat dan program MBG dapat diarahkan kembali menjadi input untuk sektor peternakan dan pertanian.

Dengan pendekatan tersebut, terbentuk pola “dari desa, oleh masyarakat desa, dan kembali memberikan nilai bagi desa.”

Ke depan, inovasi ini diharapkan dapat dikembangkan menjadi produk unggulan BUMDes Amarta dengan dukungan pada aspek standardisasi produk, pengemasan, perizinan, pemasaran, dan penguatan model bisnis. Pengembangan tersebut penting agar inovasi yang lahir dari kegiatan pemberdayaan masyarakat dapat berlanjut menjadi kegiatan ekonomi yang memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Bagi Kalurahan Pandowoharjo, kegiatan ini menunjukkan bahwa inovasi ekonomi tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang mahal. Dengan kreativitas, pendampingan, dan pengelolaan rantai nilai yang tepat, buah yang tidak layak jual dan sampah organik pun dapat diubah menjadi sumber nilai ekonomi baru bagi masyarakat. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kalurahan, BUMDes, kelompok masyarakat, praktisi, dan lembaga pendidikan, Pandowoharjo terus membuka peluang untuk membangun ekonomi lokal yang lebih produktif, inklusif, dan berkelanjutan. (lpr)

Pages