SDGs #8 Pembangunan Ekonomi

FEB UNY Gelar ICEBESS 2026 Secara Daring, Dorong Transformasi Berkelanjutan di Bidang Bisnis, Ekonomi, dan Pendidikan

YOGYAKARTA — Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY) sukses menyelenggarakan International Conference of Ethics on Business, Economics, and Social Science (ICEBESS) 2026 yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting, Sabtu (17/10/26) lalu. Acara internasional ini dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Sistem Informasi UNY, Prof. Soni Nopembri, M.Pd., Ph.D., yang dalam amanatnya menekankan pentingnya penguatan etika akademis serta kolaborasi lintas negara di tengah dinamika perkembangan ekonomi dan teknologi global.Sambutan Dekan ICEBESS 2026

Dekan FEB UNY, Dr. Sutirman, M.Pd., menyampaikan sambutan hangat sekaligus apresiasi mendalam kepada seluruh peserta dan lima institusi mitra (co-hosts) internasional. Kolaborasi strategis ini melibatkan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Gaziantep University Turkiye, Kongu Engineering College India, serta Universitas Nusa Megarkencana Indonesia, yang bersama-sama berkomitmen memperluas jangkauan riset dan pertukaran gagasan akademis.

Konferensi ini menghadirkan Sesi Pleno (Plenary Session) yang dimoderatori dosen Pendidikan Akuntansi FEB UNY Annisa Ratna Sari, M.S.Ed., Ph.D., dengan tiga pembicara kunci internasional berbobot, diawali oleh Rektor Universitas Paramadina sekaligus pendiri INDEF, Prof. Didik J. Rachbini, M.Sc., Ph.D. Dalam pemaparannya mengenai kondisi perekonomian Indonesia, beliau menggarisbawahi pentingnya transformasi struktural berbasis peningkatan produktivitas, keberlanjutan lingkungan, dan keadilan sosial guna mengatasi ketimpangan ekonomi serta menciptakan lapangan kerja yang layak. Menurutnya, daya saing industri, inklusi sosial, dan dekarbonisasi dapat saling menguatkan, asalkan pekerja berpindah ke aktivitas berproduktivitas lebih tinggi dan upah riil meningkat. Ia memaparkan lima prioritas kebijakan, yakni reindustrialisasi, lapangan kerja inklusif, kebijakan industri hijau, reformasi kelembagaan, serta pengembangan sumber daya manusia dan kecerdasan buatan (AI). Pandangan ini diperkuat dengan studi kasus seperti Batam, transisi energi, hilirisasi nikel, UMKM digital, dan produktivitas pertanian. Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan transformasi harus diukur lebih luas dari PDB, mencakup kualitas pekerjaan, ketimpangan, emisi, dan kualitas institusi.

Pembicara berikutnya, Prof. Dr. Tajularipin Sulaiman dari Universiti Putra Malaysia, menguraikan pendekatan transformatif untuk membangun sistem pendidikan yang inklusif, relevan, dan berkelanjutan. Ia memandang keberhasilan transformasi bergantung pada kolaborasi reformasi sistemik dari atas dan inovasi guru dari bawah. Tantangannya meliputi respons kebijakan yang lambat terhadap perubahan teknologi, kesenjangan digital, kurangnya dukungan bagi inovasi pendidik, serta ukuran “keberhasilan” yang masih sempit pada ujian dan angka kelulusan. Ia menutup dengan pesan bahwa transformasi pendidikan harus bermanfaat bagi semua orang dan bertahan lintas generasi.

Sesi pleno dilengkapi oleh paparan Assoc. Prof. Dr. Angelina Nhat Hanh Le dari UEH University Vietnam mengenai peran perguruan tinggi di era STARA (Smart Technology, Artificial Intelligence, Robotics, Algorithms), yang menyoroti pentingnya menjaga esensi pembelajaran kognitif mendalam dan nilai-nilai kemanusiaan di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan. Angelina berargumen bahwa teknologi cerdas, AI, robotika, dan algoritma (STARA) dapat mengambil alih sebagian besar fungsi kualifikasi, tetapi tidak dapat membentuk manusia yang merdeka, bertanggung jawab, dan berani. Karena itu, universitas tetap penting melalui lima perannya, yaitu komunitas akademik yang otonom, kaitan penelitian dan pengajaran, pembentukan kapabilitas profesional, pengembangan agensi manusia, dan ruang publik bagi nalar kritis. Ia menegaskan pendidik harus memutuskan bagaimana AI digunakan, dengan merancang pembelajaran, menilai proses berpikir, dan menjaga manusia tetap di pusat pendidikan.

Selain sesi pleno, ICEBESS 2026 juga menggelar Sesi Paralel (Parallel Session) yang menjadi wadah diskusi ilmiah interaktif bagi akademisi dan peneliti dari berbagai belahan dunia. Lebih dari 100 makalah ilmiah (papers) dipresentasikan oleh para presenter yang berasal dari India, Malaysia, Turkiye, Vietnam, dan Indonesia, yang mencakup rumpun ilmu etika bisnis, ekonomi, akuntansi, ilmu sosial, hingga pendidikan.

Meskipun diselenggarakan secara daring, pelaksanaan konferensi melalui platform Zoom Meeting ini berlangsung dengan antusiasme tinggi dan lalu lintas diskusi yang dinamis. Ruang-ruang virtual yang disediakan berhasil menjembatani interaksi akademis secara efektif, memungkinkan para peserta saling berbagi ide-ide terobosan dan solusi atas tantangan sosio-ekonomi global secara efisien.

Penyelenggaraan ICEBESS 2026 ini relevan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG Poin 4 (Pendidikan Berkualitas) yang diwujudkan melalui penguatan kapasitas intelektual dan inovasi pembelajaran, SDG Poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) lewat perumusan strategi peningkatan produktivitas serta pertumbuhan ekonomi inklusif, dan SDG Poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) yang tercermin dari kolaborasi internasional antar-perguruan tinggi berbagai negara.

Dorong Ketahanan Ekonomi Keluarga, Mahasiswa KKN UNY Gelar Literasi Keuangan di Tunjang Timur

Lombok Tengah, NTB — Mahasiswa KKN UNY 2026 melaksanakan program “Cerdas Kelola Uang: Literasi Keuangan Keluarga” di Dusun Tunjang Timur, Desa Pagutan, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya mahasiswa dalam mendukung peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan keuangan keluarga sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Program tersebut berkaitan dengan SDGs 1: Tanpa Kemiskinan, khususnya melalui peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengelola sumber daya keuangan keluarga. Pengelolaan keuangan yang lebih terencana diharapkan dapat membantu keluarga menentukan prioritas kebutuhan dan menggunakan pendapatan secara lebih bijak.

Kegiatan dilaksanakan melalui pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat dalam beberapa gelombang. Materi yang diberikan meliputi pencatatan pemasukan dan pengeluaran, penyusunan anggaran rumah tangga, pembedaan antara kebutuhan dan keinginan, penentuan skala prioritas, serta perencanaan keuangan sederhana.

Penyampaian materi dilakukan secara praktis agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai pentingnya literasi keuangan, tetapi juga didampingi dalam memahami cara melakukan pencatatan dan mengatur pengeluaran berdasarkan kondisi masing-masing keluarga.

Selain mendukung SDGs 1, kegiatan ini juga memiliki keterkaitan dengan SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, terutama dalam mendorong kemampuan masyarakat untuk mengelola sumber daya ekonomi secara lebih produktif dan bertanggung jawab. Pemahaman mengenai pengelolaan keuangan menjadi salah satu bekal penting bagi keluarga dalam mengatur pendapatan dan merencanakan kebutuhan ekonomi.

Antusiasme masyarakat terlihat selama kegiatan berlangsung melalui diskusi dan tanya jawab mengenai berbagai persoalan pengelolaan keuangan rumah tangga. Perbedaan kondisi ekonomi setiap keluarga juga menjadi bahan pembahasan agar materi yang diberikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Setelah kegiatan pelatihan, mahasiswa melakukan monitoring dan evaluasi untuk mengetahui pemahaman serta penerapan materi oleh masyarakat. Evaluasi dilakukan sebagai upaya untuk melihat sejauh mana kebiasaan pencatatan dan pengelolaan keuangan mulai diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui program “Cerdas Kelola Uang”, mahasiswa KKN UNY berharap masyarakat Dusun Tunjang Timur dapat semakin memahami pentingnya pengelolaan keuangan keluarga. Kebiasaan sederhana dalam mencatat, merencanakan, dan menentukan prioritas keuangan diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun ketahanan ekonomi keluarga yang lebih baik.

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kontribusi terhadap pencapaian SDGs dapat dimulai dari lingkungan keluarga dan masyarakat melalui edukasi sederhana yang sesuai dengan kebutuhan lokal. Dengan pengelolaan keuangan yang lebih terencana, keluarga diharapkan dapat lebih siap dalam memenuhi kebutuhan saat ini maupun menghadapi kebutuhan di masa mendatang.

Tim PM FEB UNY Teliti Pengaruh FOMO terhadap Perilaku Konsumtif dan Pengelolaan Keuangan Mahasiswa dengan JOMO sebagai Variabel Mediasi

Sejumlah mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta melalui Program Penelitian Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (PMFEB) 2026 melakukan penelitian mengenai fenomena Fear of Missing Out (FOMO), perilaku konsumtif, dan pengelolaan keuangan mahasiswa dengan Joy of Missing Out (JOMO) sebagai variabel mediasi. Penelitian yang berjudul “Pengaruh Fear of Missing Out terhadap Perilaku Konsumtif dan Pengelolaan Keuangan Mahasiswa FEB UNY dengan Joy of Missing Out sebagai Variabel Mediasi” ini dilatarbelakangi oleh semakin kuatnya paparan media sosial, marketplace, tren digital, dan berbagai bentuk promosi yang dapat memengaruhi pengambilan keputusan konsumsi mahasiswa. Penelitian ini secara khusus mengkaji bagaimana rasa khawatir tertinggal tren atau pengalaman yang sedang berkembang dapat berkaitan dengan perilaku konsumtif sekaligus pengelolaan keuangan mahasiswa FEB UNY.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain explanatory research. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dengan skala Likert lima poin kepada mahasiswa aktif FEB UNY yang menggunakan media sosial dan marketplace, kemudian dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM-PLS) melalui aplikasi SmartPLS. Penelitian melibatkan empat variabel utama, yaitu FOMO sebagai variabel bebas, perilaku konsumtif dan pengelolaan keuangan sebagai variabel terikat, serta JOMO sebagai variabel mediasi. Pengukuran dilakukan melalui sejumlah indikator, antara lain perasaan cemas, khawatir, dan takut tertinggal tren pada FOMO; pembelian impulsif, pembelian tidak rasional, pembelian berlebihan, serta orientasi gaya hidup dan status sosial pada perilaku konsumtif; serta perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, evaluasi, dan persiapan keuangan masa depan pada pengelolaan keuangan. Sementara itu, JOMO diukur melalui kemampuan menikmati kondisi tetap offline, fokus pada lingkungan sekitar, merasa puas tidak mengikuti aktivitas digital, serta memilih pengalaman nyata dibandingkan aktivitas online.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa FOMO berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku konsumtif mahasiswa FEB UNY dengan koefisien sebesar 0,513, serta berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pengelolaan keuangan dengan koefisien sebesar -0,207. Selain itu, FOMO juga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap JOMO dengan koefisien -0,435. Di sisi lain, JOMO berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perilaku konsumtif dengan koefisien -0,310 dan berpengaruh positif serta signifikan terhadap pengelolaan keuangan dengan koefisien 0,498. Hasil analisis mediasi juga menunjukkan bahwa JOMO secara signifikan memediasi pengaruh FOMO terhadap perilaku konsumtif maupun pengelolaan keuangan. Secara keseluruhan, ketujuh hipotesis dalam penelitian ini diterima. Temuan tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa dengan tingkat FOMO yang lebih tinggi cenderung memiliki kecenderungan perilaku konsumtif yang lebih tinggi dan pengelolaan keuangan yang lebih rendah, sedangkan JOMO berkaitan dengan kecenderungan konsumsi yang lebih terkendali dan pengelolaan keuangan yang lebih baik.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap pengaruh tekanan sosial digital dalam pengambilan keputusan ekonomi sehari-hari. Bagi mahasiswa, penguatan sikap JOMO dapat dilakukan dengan lebih sadar dalam menggunakan media sosial dan marketplace serta mempertimbangkan kebutuhan sebelum melakukan pembelian. Sementara itu, bagi FEB UNY, hasil penelitian dapat menjadi salah satu dasar dalam pengembangan edukasi literasi keuangan digital melalui kegiatan seperti lokakarya, kampanye edukatif, maupun integrasi materi mengenai JOMO dan pengendalian diri dalam pengelolaan keuangan. Penelitian ini juga merekomendasikan pengembangan kajian lanjutan dengan cakupan responden yang lebih luas serta penambahan variabel seperti literasi keuangan, kontrol diri, dan digital detox untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai perilaku ekonomi mahasiswa di tengah perkembangan lingkungan digital.

KKN-M UNY Bantu UMKM Padukuhan Tulung Terdaftar di Google Maps lewat Program SODIG

Sebanyak tujuh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Padukuhan Tulung, Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, kini memiliki identitas digital berupa titik lokasi usaha pada Google Maps. Pendampingan tersebut merupakan hasil program SODIG (Sosialisasi dan Pendampingan Digital UMKM) yang dijalankan tim KKN-M Universitas Negeri Yogyakarta pada 5–13 September 2026.

Program ini berangkat dari catatan Lurah Tamanmartani, Gandang Hardjanata, pada saat penerjunan tim KKN-M. Salah satu permintaannya adalah agar mahasiswa menyusun program kerja pendampingan digital bagi UMKM di wilayahnya yang dinilai masih memerlukan bantuan. Hasil observasi di Padukuhan Tulung memperkuat kebutuhan tersebut. Minimnya visibilitas UMKM di Tulung terlihat dari sebagian pelaku usaha yang belum memiliki titik lokasi pada peta digital dan belum terbiasa menggunakan telepon pintar untuk keperluan usaha, sehingga usahanya sulit ditemukan pembeli dari luar wilayah. Kondisi ini mencerminkan belum optimalnya pengembangan dan pemasaran UMKM di Kalurahan Tamanmartani.

Karena itu, pemanfaatan digital dipilih sebagai sarana promosi sekaligus langkah awal transformasi digital bagi pelaku UMKM. Melalui program SODIG, pelaku usaha tidak hanya dikenalkan pada strategi pemasaran, tetapi juga didampingi langsung agar usahanya dapat ditemukan di ruang digital.

Kegiatan diawali dengan sosialisasi konsep bauran pemasaran 4P (product, price, place, promotion) pada Sabtu, 5 September 2026 pukul 15.00–17.30 WIB di rumah Ketua RW 01, Badar. Sosialisasi sengaja ditumpangkan pada pertemuan rutin PKK Padukuhan Tulung dan diikuti 38 peserta. Pelaku UMKM sulit untuk dijangkau dari situ kita mengumpulkan satu per satu, melalui peserta pertemuan PKK juga banyak yang membuka usaha rumahan. Materi disampaikan melalui poster infografis bertajuk “4P Strategi Pemasaran untuk UMKM Kuliner” yang memuat contoh nyata, mulai dari cara memotret produk, menghitung harga jual, mendaftarkan lokasi usaha, hingga memanfaatkan media sosial dan status WhatsApp sebagai sarana promosi.

Tahap berikutnya adalah pendataan UMKM pada 7–9 September 2026 yang menghasilkan 18 UMKM terdata. Pendampingan kemudian dilakukan pada 11–13 September 2026 secara door to door dengan mendatangi seluruh pelaku usaha satu per satu, karena tidak semua hadir pada sosialisasi. Dari kunjungan tersebut, tujuh pelaku usaha bersedia didampingi memetakan lokasi usahanya, lima di antaranya telah terverifikasi dan muncul pada pencarian Google Maps, sedangkan dua lainnya masih menunggu proses verifikasi.

Pendampingan juga menghadirkan temuan yang menarik. Tiga pelaku usaha memilih tidak dipetakan. Pemilik usaha pemotongan ayam, misalnya, menilai pasokan dan permintaan usahanya sudah seimbang dengan pelanggan tetap yang dimiliki, sementara jumlah tenaga kerjanya terbatas sehingga ia khawatir kewalahan bila pesanan bertambah. Tim menghormati keputusan tersebut dan mencatatnya sebagai pelajaran bahwa digitalisasi perlu disesuaikan dengan kapasitas setiap usaha.

Selain penolakan, tim menghadapi kendala teknis berupa keterbatasan literasi digital pemilik usaha yang sebagian hanya terbiasa menggunakan WhatsApp, jaringan seluler yang kurang stabil di beberapa titik, serta pelaku usaha yang belum memiliki akun Google. Pada kunjungan yang sama, tim KKN-M turut membantu warga mengisi pendataan FORKAL (Forum Kalurahan) milik Kalurahan Tamanmartani sehingga satu kunjungan dapat menjawab dua kebutuhan sekaligus.

Program SODIG dijalankan dengan Hafif Pramana sebagai penanggung jawab program kerja, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Aulia Majid, S.T., M.Eng., serta dengan dukungan Dukuh Tulung, Veronica Hapsari Widyanti, dan pengurus PKK setempat. Ke depan, tim berharap pelaku UMKM dapat mengelola sendiri informasi usahanya, mulai dari memperbarui jam buka, menambah foto produk, hingga menanggapi ulasan pelanggan. Pendampingan lanjutan dan dukungan pemerintah kalurahan dinilai tetap diperlukan agar digitalisasi UMKM di Padukuhan Tulung berkelanjutan.

Ketua FMEI dari FEB UNY Sampaikan Aspirasi Pendidikan dalam RDPU Komisi X DPR RI

Jakarta — Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta (FEB UNY), Haidar Ammar, yang menjabat sebagai Ketua Forum Mahasiswa Ekonomi Indonesia (FMEI), hadir sebagai narasumber dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi X DPR RI pada Senin (28/09/26) lalu. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Komisi X DPR RI, Gedung Nusantara I, Jakarta tersebut mengagendakan penyampaian masukan dan aspirasi di bidang pendidikan.

Dalam forum tersebut, FMEI hadir bersama Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APPTI), Universitas Insan Cita Indonesia (UICI), dan Ikatan Penerbit Indonesia (IPAPI). Kehadiran FMEI menjadi ruang bagi mahasiswa ekonomi untuk menyampaikan perspektif dan hasil kajian mengenai persoalan pendidikan nasional, khususnya ditinjau dari aspek kebijakan fiskal, pemerataan akses, serta pembangunan sumber daya manusia.

FMEI membawa kajian bertajuk “Menggugat Prioritas APBN: Kualitas dan Akses Pendidikan di Tengah Efisiensi.” Kajian tersebut berangkat dari perhatian terhadap struktur anggaran pendidikan dalam APBN 2026. Meskipun secara formal anggaran pendidikan sebesar Rp757,82 triliun telah memenuhi ketentuan mandatory spending sebesar 20 persen, FMEI menyoroti pentingnya melihat lebih jauh bagaimana komposisi dan efektivitas anggaran tersebut mampu menjawab persoalan pendidikan.

Salah satu persoalan yang disoroti adalah ketimpangan akses pendidikan tinggi antardaerah. Data yang dihimpun dalam kajian FMEI menunjukkan bahwa sekitar 40 persen PTN dan 68 persen mahasiswa nasional terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sementara itu, wilayah Maluku, Papua, Bali, dan Nusa Tenggara masing-masing hanya mencakup sekitar 1–3 persen mahasiswa. Kajian tersebut juga menunjukkan adanya perbedaan kapasitas dan kualitas institusi pendidikan tinggi antardaerah yang berkaitan dengan disparitas partisipasi pendidikan tinggi.

Persoalan akses juga terlihat dari kondisi kelompok ekonomi terbawah. Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi pada kelompok kuintil pertama tercatat sebesar 18,23 persen, berada di bawah APK nasional sebesar 32 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan besarnya anggaran yang tersedia, tetapi juga mengenai sejauh mana kebijakan tersebut mampu menjangkau kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.

Selain pemerataan akses, FMEI turut menyoroti persoalan pembiayaan dan tata kelola PTN-BH. Dalam kajiannya, FMEI melihat diversifikasi pendapatan perguruan tinggi dapat menjadi persoalan ketika pembiayaan institusi semakin bertumpu pada mahasiswa sehingga sebagian beban pendidikan bergeser kepada rumah tangga. Kondisi tersebut juga berpotensi menempatkan kelompok missing middle—masyarakat yang tidak menjadi prioritas bantuan pendidikan tetapi memiliki kemampuan finansial terbatas—dalam posisi yang semakin rentan terhadap kenaikan biaya pendidikan.

FMEI juga menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dari pembangunan ekonomi dan human capital Indonesia. Kajian yang disampaikan turut mengangkat persoalan relevansi pendidikan terhadap kebutuhan dunia kerja, termasuk adanya ketidaksesuaian antara bidang pendidikan dan pekerjaan serta persoalan keterampilan lulusan pendidikan vokasi.

Dalam penyampaiannya di hadapan Komisi X DPR RI, Haidar menekankan bahwa ukuran keberhasilan kebijakan pendidikan perlu bergerak melampaui pemenuhan angka anggaran semata.

“Keberhasilan pendidikan tidak seharusnya berhenti pada terpenuhinya mandatory spending sebesar 20 persen dari APBN. Keberhasilan pendidikan harus tercermin ketika setiap anak Indonesia, terlepas dari apakah ia lahir di Jawa, Papua, maupun wilayah lainnya, memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh akses dan kualitas pendidikan yang setara. Pada akhirnya, anggaran pendidikan harus hadir sebagai instrumen untuk mempersempit kesenjangan antardaerah dan memperluas kesempatan setiap anak Indonesia.”

Sebagai tindak lanjut atas berbagai persoalan tersebut, FMEI menyampaikan lima rekomendasi kebijakan, yaitu reklasifikasi mandatory spending pendidikan, reformasi tata kelola PTN-BH, reformasi KIP-K berbasis data terpadu, reformulasi BOPTN berbasis afirmasi wilayah, serta penguatan human capital melalui pendidikan.

Delegasi FMEI dalam RDPU tersebut terdiri atas Haidar Ammar dari Universitas Negeri Yogyakarta, Jundi Al Muhandis dari Universitas Indonesia, Muhammad Athar dari Universitas Padjadjaran, serta I Gede Sena Putrawan dari Universitas Brawijaya. Kehadiran delegasi dari sejumlah perguruan tinggi tersebut menjadi bagian dari upaya FMEI membawa perspektif mahasiswa ekonomi dalam pembahasan kebijakan pendidikan nasional.

Partisipasi Haidar sebagai Ketua FMEI sekaligus mahasiswa Manajemen FEB UNY dalam RDPU Komisi X DPR RI menjadi salah satu bentuk keterlibatan mahasiswa dalam ruang dialog kebijakan publik di tingkat nasional. Melalui kajian berbasis data dan perspektif ekonomi, mahasiswa tidak hanya hadir sebagai penerima kebijakan pendidikan, tetapi turut berkontribusi dalam memberikan gagasan dan rekomendasi bagi pembangunan pendidikan Indonesia. (ham)

 

Pelatihan Praktik Simulasi Perkantoran Hadirkan Pengalaman Nyata bagi Siswa SMK Negeri 1 Banyudono

Pendidikan Administrasi Perkantoran (FEB UNY) menyelenggarakan Pelatihan Praktik Simulasi Perkantoran bagi siswa SMK Negeri 1 Banyudono pada Kamis (24/09/26) lalu. Kegiatan berlangsung di Laboratorium Simulasi Perkantoran FEB UNY. Peserta merupakan siswa program keahlian Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB) SMK Negeri 1 Banyudono.sambutan dekan Sutirman

Pelatihan ini bertujuan menambah wawasan siswa tentang dunia perkantoran modern melalui praktik langsung. Dengan pendekatan yang interaktif dan aplikatif, siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga langsung mencoba berbagai kegiatan yang lazim dilakukan di lingkungan kerja profesional. Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi pembukaan di Ruang Auditorium FEB UNY dan pengarahan singkat mengenai tujuan serta alur pelatihan. Setelah itu, para siswa mengikuti praktik sesuai materi yang telah disiapkan oleh tim program studi dan tim laboratorium.

foto bersama SMK N 1 BanyudonoSiswa mempelajari dan mempraktikkan simulasi rapat, mulai dari persiapan, pelaksanaan, hingga penyusunan notulen. Pengalaman ini memberikan pemahaman langsung tentang peran-peran yang saling berkaitan dalam mendukung kelancaran rapat. Pada sesi terakhir, siswa berlatih melayani tamu dan mengelola komunikasi perkantoran, sehingga kemampuan pelayanan prima dan sikap profesional mereka semakin terasah.

Melalui pelatihan ini, diharapkan siswa SMK Negeri 1 Banyudono memperoleh pengalaman belajar yang lebih nyata serta meningkatkan pemahaman dan keterampilan di bidang Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB). Kegiatan ini juga diharapkan mempererat kerja sama antara PADP FEB UNY dan SMK Negeri 1 Banyudono dalam mendukung kesiapan siswa memasuki dunia kerja.

 

Implementasi SDGs 4 melalui Pengembangan Bakat, Kreativitas, dan Karakter Siswa dalam Kegiatan HUT SMK Negeri 1 Klaten

KLATEN – Selama menjalankan Praktik Kependidikan (PK) di SMK Negeri 1 Klaten, Putri Tiana Novita Ramadani, mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta, turut berpartisipasi dalam kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) SMK Negeri 1 Klaten Tahun 2026. Kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak sekolah bersama Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) berlangsung pada 26–27 Agustus 2026 dan melibatkan seluruh siswa kelas X hingga XII serta para guru. Rangkaian kegiatan ini menjadi sarana pengembangan bakat, kreativitas, dan karakter siswa sekaligus bentuk implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) 4 tentang Pendidikan Berkualitas.

Pelaksanaan kegiatan pada hari pertama, 26 Agustus 2026, diawali dengan pembukaan oleh panitia pelaksana, sambutan Kepala SMK Negeri 1 Klaten, Dra. Is Hardewi, M.Pd., serta pelepasan burung merpati sebagai simbol dimulainya rangkaian kegiatan. Selanjutnya, siswa mengikuti lomba menghias tumpeng antarkelas, Jejak Juang, dan Puncak Juang untuk menumbuhkan kekompakan, sportivitas, dan semangat kebangsaan. Para guru juga turut dilibatkan melalui lomba susun kata, estafet jarik, dan mata batin untuk mempererat hubungan antarguru. Pada hari kedua, 27 Agustus 2026, kegiatan dibuka dengan sambutan kepala sekolah dan doa bersama, dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng. Rangkaian acara meliputi Juramasa, catwalk Mas Mbak SMK Negeri 1 Klaten, penampilan Duta Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jawa, dan Bahasa Prancis dengan tema “Integritas”, Smeru Got Talent, penampilan musikalisasi puisi, serta penampilan Smeru Band. Seluruh kegiatan menjadi sarana bagi siswa untuk mengekspresikan bakat, meningkatkan kepercayaan diri, dan mengembangkan sikap kolaboratif.

Kegiatan ini memberikan dampak positif bagi siswa dan guru. Melalui berbagai lomba dan penampilan, siswa memperoleh pengalaman belajar di luar kelas yang menekankan kreativitas, kerja sama, tanggung jawab, dan kepercayaan diri. Keterlibatan guru dalam kegiatan lomba juga memperkuat kebersamaan serta menciptakan lingkungan sekolah yang harmonis. Tingginya partisipasi siswa dan guru menunjukkan tumbuhnya rasa memiliki terhadap sekolah. Kegiatan ini mendukung pencapaian SDGs 4 karena memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh siswa dan guru untuk mengembangkan potensi secara menyeluruh, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga seni, bahasa, kewirausahaan, dan karakter.

Semangat kreativitas, kolaborasi, dan kebersamaan yang terbangun melalui peringatan HUT SMK Negeri 1 Klaten Tahun 2026 diharapkan dapat terus dipertahankan. Sekolah diharapkan konsisten menyelenggarakan kegiatan pengembangan bakat dan karakter secara berkelanjutan agar siswa dapat tumbuh menjadi pribadi yang kreatif, berintegritas, dan siap berkontribusi bagi masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, SMK Negeri 1 Klaten berupaya menjadikan lingkungan sekolah sebagai ruang belajar yang berkualitas dan berorientasi pada pengembangan potensi seluruh siswa dan guru.

 

Optimalisasi Microsoft Word dalam Melatih Keterampilan Praktik Penyusunan Surat pada Siswa Kelas XI MPLB SMK Negeri 2 Purworejo

Purworejo, 14 September 2026 – Putri Nadia Maisarah, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta melaksanakan kegiatan pembelajaran praktik dalam penyusunan surat menggunakan aplikasi Microsoft Word kepada siswa kelas XI jurusan Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB) di SMK Negeri 2 Purworejo. Kegiatan tersebut dilaksanakan selama masa pembelajaran Praktik Kependidikan tahun 2026 di laboratorium komputer SMK Negeri 2 Purworejo. Kegiatan ditujukan kepada siswa kelas XI MPLB sebagai bagian dari pembelajaran Pengelolaan Administrasi Umum, khususnya pada materi korespondensi Bahasa Indonesia. Kegiatan tersebut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui penguatan keterampilan dan kompetensi peserta didik yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Kegiatan dilaksanakan melalui pembelajaran teori dan praktik secara bertahap. Pada kegiatan praktik, siswa diarahkan untuk menggunakan Microsoft Word dalam menyusun berbagai jenis surat, mulai dari memahami bagian-bagian surat, mengatur format dan tata letak, hingga menyusun surat sesuai dengan bentuk dan ketentuan yang berlaku. Siswa juga dilatih menggunakan fitur Microsoft Word seperti pengaturan margin, jenis dan ukuran huruf, spasi, paragraf, pembuatan kop surat melalui header, penempatan logo, serta pengaturan garis pada kop surat. Selain itu, siswa mempraktikkan penyusunan surat niaga, seperti surat perkenalan, surat permintaan penawaran, surat penawaran, surat pesanan, surat pemberitahuan pengiriman, dan surat tagihan. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa PK memberikan contoh, instruksi praktik, pendampingan, serta umpan balik terhadap hasil pekerjaan siswa.

Melalui kegiatan tersebut, siswa memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan pengetahuan korespondensi ke dalam dokumen surat yang dibuat menggunakan perangkat lunak perkantoran. Kegiatan praktik membantu siswa meningkatkan ketelitian dalam memperhatikan bagian dan format surat, sekaligus melatih keterampilan menggunakan Microsoft Word yang diperlukan dalam pekerjaan administrasi perkantoran. Bagi sekolah, kegiatan ini turut mendukung proses pembelajaran berbasis praktik dengan memanfaatkan fasilitas laboratorium komputer. Hal tersebut sejalan dengan SDG 4 karena pembelajaran tidak hanya berfokus pada pemahaman materi, tetapi juga pada pengembangan keterampilan praktis yang dapat menunjang kesiapan siswa menghadapi dunia kerja.

Kegiatan pembelajaran praktik ini diharapkan dapat memberikan pengalaman yang bermanfaat bagi siswa dalam mengembangkan kompetensi administrasi perkantoran. Keterampilan dalam menyusun surat dan menggunakan Microsoft Word yang telah diperoleh selama kegiatan diharapkan dapat terus diterapkan dan dikembangkan dalam pembelajaran berikutnya maupun pada saat siswa memasuki dunia kerja.

Praktik Telepon Kantor Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sebagai Bekal Keterampilan Komunikasi Siswa di Dunia Kerja dalam Mendukung SDGs 4 dan SDGs 8

Purworejo, 16 September 2026 – Laesa Nur Cahyani, Mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), melaksanakan kegiatan pembelajaran berupa praktik telepon kantor dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris pada mata pelajaran Komunikasi di Tempat Kerja (KK MP), Program Keahlian Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis di SMK Negeri 2 Purworejo. Kegiatan ini dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan, yaitu satu pertemuan untuk praktik komunikasi telepon Bahasa Indonesia dan dua pertemuan selanjutnya untuk praktik komunikasi telepon Bahasa Inggris. Kegiatan ini bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam menggunakan telepon kantor sekaligus melatih keterampilan komunikasi yang dibutuhkan dalam dunia kerja.

Kegiatan ini berkaitan dengan SDGs 4: Pendidikan Berkualitas dan SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Melalui kegiatan praktik secara langsung, siswa memperoleh kesempatan untuk mengembangkan keterampilan teknis dan keterampilan komunikasi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Pembelajaran tidak hanya berfokus pada pemahaman teori, tetapi juga memberikan pengalaman kepada siswa untuk menerapkan materi dalam situasi yang menyerupai lingkungan kerja. Kegiatan dilatarbelakangi oleh pentingnya kemampuan berkomunikasi melalui telepon dalam pekerjaan perkantoran. Sebelum praktik, siswa terlebih dahulu mendapatkan materi mengenai etika bertelepon dan prosedur 7C dalam komunikasi, yaitu clarity (jelas), conciseness (singkat), concreteness (konkret), correctness (benar), coherence (runtut), completeness (lengkap), dan courtesy (santun). Materi tersebut menjadi dasar bagi siswa dalam melakukan komunikasi melalui telepon agar informasi yang disampaikan dapat diterima dengan jelas sesuai dengan etika komunikasi di tempat kerja.

Pada pertemuan pertama, siswa mempraktikkan penerimaan dan pemanggilan telepon dalam Bahasa Indonesia secara berpasangan. Praktik dilakukan tanpa membaca teks dialog sehingga siswa perlu memahami alur percakapan dan merespons lawan bicara secara langsung. Siswa dilatih menyampaikan salam pembuka, memperkenalkan diri atau instansi, mengidentifikasi penelepon, menyampaikan dan mencatat pesan, serta mengakhiri percakapan dengan baik. Pada dua pertemuan berikutnya, praktik dilanjutkan menggunakan Bahasa Inggris dengan dua skenario komunikasi di perusahaan. Skenario pertama adalah "making an appointment" atau membuat janji temu, sedangkan skenario kedua berkaitan dengan menjawab keluhan dan memberikan informasi produk kepada pelanggan. Dialog disusun oleh siswa secara berpasangan sebelum praktik, kemudian dipraktikkan tanpa membaca teks dengan memperhatikan penggunaan ungkapan yang sesuai, pelafalan, intonasi, kelancaran berbicara, serta alur komunikasi. Kegiatan ini memberikan pengalaman kepada siswa untuk menggunakan Bahasa Inggris dalam situasi komunikasi yang lebih dekat dengan kebutuhan pekerjaan.

Melalui kegiatan tersebut, siswa melatih kemampuan dalam berbicara, mendengarkan, menyampaikan informasi, mencatat pesan, dan merespons lawan bicara. Keterampilan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang relevan dengan dunia kerja dan mendukung penguatan keterampilan siswa sesuai dengan tujuan SDGs 4. Keterampilan komunikasi yang diperoleh juga dapat menjadi bekal bagi siswa sebagai calon tenaga kerja muda dalam menghadapi lingkungan kerja, yang berkaitan dengan SDGs 8. Ke depan, praktik komunikasi telepon dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris diharapkan dapat terus diterapkan dalam pembelajaran di SMK Negeri 2 Purworejo agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki pengalaman menggunakan keterampilan komunikasi dalam situasi yang mendekati kebutuhan dunia kerja.

Ekonomi Tumbuh, Masyarakat Sejahtera, Lingkungan Terjaga melalui Permainan Edukatif “Build Your Country: Economic Growth & SDGs 8”

Selasa (22/09) lalu, bertempat di SMA Negeri 6 Yogyakarta telah dilaksanakan kegiatan pembelajaran berbasis Sustainable Development Goals (SDGs) pada mata pelajaran Ekonomi bersama siswa kelas XI F-8. Kegiatan mengangkat tema “Ekonomi Tumbuh, Masyarakat Sejahtera, Lingkungan Terjaga” melalui permainan edukatif “Build Your Country: Economic Growth & SDGs”.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai konsep pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi dan pendapatan, tetapi juga perlu memperhatikan kesejahteraan masyarakat, pemerataan ekonomi, serta kelestarian lingkungan. Melalui kegiatan permainan, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan berperan sebagai pemerintah dari suatu negara. Setiap kelompok diberikan anggaran awal yang harus dikelola untuk menentukan berbagai kebijakan pembangunan, seperti industri, pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, energi terbarukan, pemerataan ekonomi, infrastruktur hijau, serta produksi yang bertanggung jawab.

Dalam pelaksanaannya, setiap kelompok berdiskusi untuk menentukan kebijakan yang sesuai dengan kondisi negara mereka. Siswa kemudian menghitung dampak setiap kebijakan terhadap tiga aspek utama, yaitu Pertumbuhan Ekonomi, Kesejahteraan Masyarakat, dan Lingkungan. Selain itu, siswa menghadapi kartu kejadian yang menggambarkan kondisi ekonomi atau lingkungan yang tidak terduga dan harus menentukan strategi perbaikan melalui anggaran tambahan. Setelah permainan selesai, setiap kelompok mempresentasikan hasil keputusan, dampak kebijakan, serta keterkaitannya dengan tujuan SDGs.

Kegiatan berlangsung secara aktif dan interaktif. Siswa menunjukkan antusiasme dalam berdiskusi, mengambil keputusan, menghitung dampak kebijakan, serta menyampaikan hasil permainan di depan kelas. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan mampu memahami bahwa pertumbuhan ekonomi perlu diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan dan perlindungan lingkungan sehingga tercipta pembangunan yang berkelanjutan. (yzt)

Pages