Dukung SDGs, Mahasiswa PK UNY Ajak Siswa SMA Negeri 1 Jetis Pahami Kesenjangan Ekonomi

Pembelajaran Ekonomi di sekolah sering kali berfokus pada hafalan teori dan rumus yang terasa jauh dari pengalaman sehari-hari peserta didik. Untuk menghadirkan suasana belajar yang lebih kontekstual, Ayu Okcta Nabila, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), menerapkan model pembelajaran Design Thinking dan Experiential Learning pada materi kesenjangan ekonomi. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat (14/08/26) lalu bertempat di ruang kelas XI SMA Negeri 1 Jetis dengan diikuti oleh 36 peserta didik. Pembelajaran ini dirancang untuk membantu siswa memahami persoalan ketimpangan secara lebih dekat, sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG Nomor 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran interaktif dan SDG Nomor 10 tentang Berkurangnya Ketimpangan melalui penanaman kesadaran akan pentingnya pemerataan ekonomi.

Kegiatan ini bertujuan untuk melatih empati, daya kritis, serta keterampilan berpikir solutif peserta didik dalam merespons fenomena kesenjangan sosial-ekonomi di Indonesia. Dalam proses pelaksanaannya, peserta didik diajak membedah studi kasus nyata mengenai ketimpangan pembangunan daerah di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Pembelajaran mengalir secara terstruktur melalui lima tahapan utama model Design Thinking, diawali dengan penyusunan peta empati (Empathy Map) untuk memahami kondisi masyarakat terdampak, merumuskan inti permasalahan (Define), mencurahkan gagasan program solutif (Ideate), membuat rancangan model aksi sederhana (Prototype), hingga melakukan uji umpan balik antar-kelompok (Test). Rangkaian kegiatan ini dapat berjalan dengan baik berkat kolaborasi aktif antara mahasiswa PK, guru pamong mata pelajaran IPS Ekonomi, serta partisipasi antusias dari peserta didik.

Melalui alur pembelajaran tersebut, peserta didik tidak hanya memahami faktor penyebab dan dampak kesenjangan ekonomi secara teoritis, tetapi juga belajar menghubungkannya dengan kondisi nyata masyarakat dan keadilan sosial. Suasana kelas menjadi lebih hidup karena siswa berdiskusi secara aktif dalam kelompok. Kesan positif dirasakan langsung oleh para siswa selama proses pembelajaran. Salah seorang peserta didik kelas XI, Mahesa Fisabilillah, mengungkapkan bahwa metode Design Thinking membuat pembelajaran Ekonomi terasa lebih mudah dipahami dan relevan. “Melalui analisis kasus dan pembuatan peta empati, kami tidak sekadar menghafal teori kesenjangan, tetapi benar-benar diajak membayangkan perasaan masyarakat serta memikirkan solusi nyata yang dapat diterapkan,” ungkapnya seusai pembelajaran. Pengalaman belajar ini membantu siswa memahami bahwa ilmu Ekonomi berkaitan erat dengan upaya menciptakan kesetaraan dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat.

Harapan dari keberlangsungan kegiatan ini adalah agar pendekatan pembelajaran kontekstual berbasis pemecahan masalah dunia nyata dapat terus dikembangkan secara berkesinambungan di lingkungan SMA Negeri 1 Jetis. Sebagai bentuk tindak lanjut yang konkret, mahasiswa PK bersama guru pamong melakukan evaluasi reflektif terhadap hasil kerja kelompok siswa serta merancang lembar pengayaan dan pendampingan khusus guna memastikan kesiapan peserta didik sebelum melangkah ke materi kalkulasi indikator ketimpangan ekonomi pada pertemuan berikutnya. (aon)